Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 104 : Posesifnya Devan


__ADS_3

"Regan, sepertinya Serafina menyukaimu," ucap Bram.


Regan tersenyum kecil, ia menciumi pipi Serafina yang wangi semerbak bedak khas anak kecil. Sena menatapnya dan mereka tak sengaja bertatapan mata. Regan yang tak enak hati segera memberikan Serafina pada Sena. Sena mengambilnya, ia melihat putrinya masih tertawa dengan Regan.


"Sena, kau masak apa? Biar Papa beli makanan diluar saja."


"Hem, boleh, Pah. Aku ingin mie ayam dengan ayamnya yang banyak."


Bram mengangguk lalu menatap Regan. Regan mengatakan ingin makanan makanan yang sama dengan Sena. Bram berdiri, ia akan pergi ke seberang jalan untuk makan membeli makanan. Setelah kepergian Bram, Sena dan Regan hanya berduaan saja. Mereka sangat canggung sekali bahkan Sena hanya diam menunduk sambil memangku Serafina.


"Devan sudah tahu jika aku dan Papa datang ke sini?" tanya Regan.


Sena menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak memberitahu Devan. Regan menjadi tidak enak sendiri, ia memutuskan untuk menunggu di teras saja. Sena paham, ia yang merasa aneh karena memanggil Bram datang ke sini.


Tak berselang lama Bram datang, ia melihat putranya duduk di kursi. Bram mengajaknya masuk namun Regan enggan karena ia tak enak hati pada Sena. Bram memaksanya masuk, malah tidak enak pada tetangga jika mereka melihat Regan ada di sana.


Mereka masuk bersama-sama, Sena sudah menyiapkan mangkuk dan air minum sedangkan Serafina ditidurkan di sofa.


"Kalian makan dulu saja! Biar Papa jaga Serafina," ucap Bram.


Sena mengangguk, dia lekas makan karena perutnya keroncongan. Bram memperhatikan mereka sangat canggung sekali.


"Ku harap kalian tidak bermusuhan. Tak baik jika memiliki hubungan yang tidak baik," ucap Bram.

__ADS_1


"Papa fokus jaga Sera saja! Jangan membuat kami semakin canggung," ucap Regan.


"Sena, kau nampak bergetar, apa gara-gara Regan? Anak nakal itu membuatmu sampai ketakutan."


Sena menggelengkan kepala, dia tidak takut melainkan hanya grogi saja. Sudah lama mereka tidak makan bersama seperti ini. Sena adalah wanita yang kuat, Bram tahu jika saat ini dia merasa kesepian. Mereka makan sampai habis dan Serafina terlelap lagi padahal tidak ada yang menyuruhnya tidur.


Ceklek...


Sena menoleh, ia melihat Devan pulang. Tatapan Devan mengarah pada Regan. Sena menyambutnya, ia heran kenapa Devan sudah pulang padahal ini baru jam 6 lebih. Sena mengambil tas Devan yang berada di tangan sang suami, Devan tak menatap Sena, dia berjalan mengarah mereka.


Bram mencoba menjelaskan supaya tidak terjadi kesalahpahaman.


"Pak Devan, maaf jika kami ada di sini. Harusnya hanya aku yang datang kemari namun memang kebetulan Regan juga bersamaku," ucap Bram.


"Kami sudah makan, kami pamit pulang dulu ya?" jawab Regan sambil menarik sang Papa untuk keluar.


Devan mengantar mereka sampai ke teras, setelah mereka benar-benar pergi Devan lekas masuk, ia ke kamar dan melihat Sena sedang mengecup pipi Serafina yang terlelap.


"Mas, soal tadi aku bisa jelaskan. Aku yang meminta Papa Bram datang kemari," ucap Sena sambil menunduk.


"Sena, kau sudah menjadi istriku. Aku tahu kau sangat dekat dengan beliau namun jika dilihat-lihat pun sebenarnya tak pantas."


Sena meminta maaf jika semua itu membuat Devan tidak suka. Devan mengusap pipi Sena, ia tersenyum manis. "Aku tidak jadi menginap di sana. Winda menjaga Kia dengan baik, biarkan dia bersikap apa yang seharusnya dia lakukan."

__ADS_1


Devan mengajak Sena duduk sembari mengusap perut Sena yang masih rata. Sena bisa merasakan jika sang suami begitu bergetar. Devan mengecup leher Sena, ia memberikan stempel bibir di sana dan menandakan itu adalah miliknya. Sena merasa sangat risih, dia mendorong tubuh Devan namun Devan menyerangnya.


"Aku sedang hamil muda," ucap Sena.


"Pelan-pelan saja!" jawab Devan sudah melepaskan kaosnya.


Sena juga tak mungkin menolaknya karena itu membuatnya berdosa. Mereka melakukan adegan panas itu dengan pelan dan lembut. Untung saja Devan bukan tipe orang yang pemarah sehingga Sena bisa lega. Mereka beradu kehangatan yang tiada tara bahkan Devan merasa sangat puas sekali dengan permainan istrinya itu.


20 menit kemudian.


"Sena, aku mau keluar," bisik Devan.


"Keluarkan, Mas!"


Devan mengeluarkannya, ia langsung memeluk lemas sang istri tercinta.


"Terima kasih," ucap Devan.


Sena mengangguk, dia lekas memakai pakaiannya dan menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, dia sangat malu sekali. Devan memberikan tanda kepemilikan pada lehernya. Apa ini bukti kemarahan Devan? Jika ada pria lagi yang bertemu Sena maka pria itu bisa melihat tanda merah tersebut. Sena tersenyum kecil, ia merasa senang karena sikap Devan yang sangat lucu.


Dibawah ini adalah novel Regan, akan segera update... Favoritkan dulu...


__ADS_1


__ADS_2