
Sena merasakan perutnya sangat keram serta darah mengalir deras dari sela-sela pahanya. Devan menenangkan Sena dan berdoa supaya kandungannya baik-baik saja. Pria itu sama paniknya namun mencoba tetap tenang supaya Sena tidak ikut panik. Perjalanan terasa sangat lama sekali, Devan terus menyuruh asistennya mempercepat laju mobilnya.
"Anjas, cepat sedikit! Darahnya terus mengalir deras," ucap Devan.
"Baik, Pak."
Sena terus merintih kesakitan sampai dia pun pingsan, Devan semakin panik, dia terus menepuk-nepuk pipi wanita itu. Sesampainya di rumah sakit, Sena lekas menjalani perawatan sementara, Devan mencoba menghubungi keluarga Sena namun dia lupa jika Sena kini tidak punya keluarga.
Saat bersamaan, Regan datang terburu-buru, dia sedari tadi mengikuti mobil Devan. Devan tak menggubrisnya dan bertelpon dengan seseorang. Regan menunggu di depan ruangan Sena, dia menatap Devan yang sok khawatir. Setelah Devan selesai bertelpon, dia kembali lagi menunggu di depan ruangan Sena.
"Apa yang kau lakukan di sini? Puas sudah menghancurkan Sena?" tanya Devan.
"Bahkan Tuhan pun tidak rela jika dia mengandung anakmu, aku yakin dia keguguran," jawab Regan.
Rahang Devan mengeras, ia ingin sekali memukuli Regan saat itu juga namun dia tak ingin menjadi gaduh. Bisa-bisanya seorang pria yang pernah menjadi suami seolah senang jika melihat wanita keguguran.
"Otakmu memang sudah tidak waras, Regan. Kau mendoakan anakmu mati?" tanya Devan.
Regan mengernyitkan dahi, ia bersedekap dada seolah tidak mempercayai ucapan Devan. Baginya Sena sedang mengandung anak dari selingkuhannya. Darah Devan seolah mendidih, ia juga seorang ayah dan bisa merasakan sangat kehilangan jika anaknya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan namun sepertinya hati nurani Regan sudah mati.
"Anak yang dikandung Sena adalah darah dagingmu dan kau mendoakannya tiada?" ucap Devan sekali lagi.
Deg....
Regan kali ini terkejut namun dia masih dalam pendiriannya, sudah ada bukti jika Sena dan Devan satu rumah bahkan sering jalan berdua di luar kantor. Menurut Regan, Sena meminta berpisah karena sudah ada Devan di sampingnya padahal Sena sendiri dulu yang meminta waktu selama 1 tahun untuk memperbaiki hubungan namun dia sendiri yang mengingkari surat perjanjian.
"Tidak mungkin jika anakku," ucap Regan.
"Lalu anak siapa lagi? Bodoh! Sudah berapa kali kau membuat kesalahan namun kau selalu mengulanginya," jawab Devan sangat geram.
Regan tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang, ia panik dan lekas pergi namun sebelum itu ia berpesan pada Devan untuk titip Sena sementara ia pergi sebentar dan akan kembali secepatnya. Devan tak menggubrisnya, ia duduk sambil berharap jika Sena dan bayinya selamat.
Regan mendapat telpon jika Maya menangis histeris dan berusaha untuk bunuh diri. Bram beserta Aura menenangkannya namun Maya menginginkan Regan untuk kembali padanya. Regan sangat pusing dengan drama kedua wanita itu belum lagi Zara masih sering mengirim pesan ancaman padanya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Maya, Regan melihat Maya sudah berdarah-darah akibat pisau yang digenggamnya. Bram dan Aura sudah sangat lelah membujuk Maya yang semakin nekat. Regan menarik pisau itu sampai telapak tangannya sendiri berdarah.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Regan.
"Aku hanya ingin menikah denganmu dan tidak ingin berpisah denganmu," teriak Maya.
Regan tentu saja sangat geram dengan tindakan Maya, Maya masih menangis histeris membuat Regan tidak tega dengannya. Regan menarik tubuh Maya lalu memeluknya dengan erat. Sejujurnya dia jauh lebih merasa kasian dengan Maya ketimbang Sena karena Maya adalah korban pemerkosaan namun pelaku tidak mau bertanggung jawab. Hal yang fatal dilakukan Maya adalah menjebak Regan dan mengkambing hitamkannya supaya Regan mau menikahinya.
"Regan, tolong jangan tinggalkan aku! Aku tidak punya siapa-siapa selain dirimu. Kau terus mengurusi Sena yang tidak butuh belas kasihanmu," ucap Maya sambil sesegukan.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Batin Regan sangat bimbang.
**
Dokter keluar setelah melakukan operasi pada Sena, dia menjelaskan pada Devan jika janin yang dikandung Sena tidak bisa terselamatkan. Dokter sudah mewanti-wanti Sena untuk menjaga kandungannya dengan baik karena kondisi rahimnya yang kurang sehat. Devan sangat terpukul, dia seorang ayah dan bisa merasakan kehilangan seorang anak. Devan tak bisa membayangkan ketika Sena mengetahuinya, dia pasti sangat terpukul.
Devan diperbolehkan masuk ke ruangan. Dia melihat Sena terlelap, tak tega sekali melihat kesedihan Sena jika ia terbangun nantinya. Tangan Devan menarik bangku kursi lalu duduk di depan Sena. Wanita yang dulu ia pandang rendah karena kurang menarik kini menjadi wanita yang ada di hatinya walau tak bisa dia luluhkan dengan cara mudah.
Saat bersamaan telponnya berbunyi, tertera jelas mantan istrinya menelpon. Devan sangat malas untuk menjawabnya namun ketika dering telpon itu terhenti lalu terganti dengan sebuah pesan, baru Devan mau membacanya.
Winda
Kia pingsan.
Devan
Baru sehari bersamamu sudah kau buat pingsan.
Winda
Cepatlah!!!
Devan sangat panik, dia bingung antara Kia atau Sena. Mereka adalah orang yang dia sayangi sepenuh hati. Jika Devan memilih Kia, maka Sena akan sendirian karena wanita itu tidak memiliki kerabat. Jika memilih Sena maka dia sudah tak acuh pada putrinya sendiri.
__ADS_1
Devan keluar dari ruangan Sena, ia melihat Anjas masih ada di sana.
"Anjas, tolong jaga Sena! Aku ingin melihat keadaan putriku dan berikan kunci mobilnya padaku!" pinta Devan.
"Baik, Pak."
Setelah kepergian Devan, Sena kini di ruangan sendirian. Dia tak ada keluarga dan kerabat yang mengkhawatirkannya. Sedari dulu nasibnya begitu pilu sampai saat ini pun ia masih kesepian.
Sena yang terlelap malah memimpikan pertemuannya dengan Regan, pria yang sempat dia kagumi.
Kala itu, Sena mendapat dosen pengganti dan ternyata itu adalah Regan. Sosok Regan sangat di kagumi bahkan menjadi primadona tapi semua fakta itu terpatahkan saat Sena sering sakit hati dengan ucapan Regan.
"Aku menyuruhmu untuk mengumpulkan jam 4 sore. Ini jam berapa?" tanya Regan dengan nada datarnya.
"Maaf, Pak. Sekarang jam 4 lebih 10 menit. Hanya terlambat 10 menit saja," jawab Sena ketakutan.
Regan langsung berdiri membawa tugas-tugas mahasiswanya namun tugas Sena tak ikut dibawa. Regan pergi meninggalkan Sena yang mulai meneteskan air mata. Dia terlambat mengumpulkan tugas karena terkendala uang untuk biaya cetak dan sebagainya. Ini pun dia meminjam uang temannya.
Tak menyerah, Sena mengejar Regan sampai di lorong dan ketika Sena menyodorkannya, Regan malah membuangnya ke tempat sampah. Hati Sena tercabik-cabik, ia mengambil tugasnya serta memeluknya dengan erat. Regan memang disiplin waktu, dia tak menyukai jika tugas yang diberikannya dikumpulkan terlambat.
Setengah jam kemudian.
Mobil Regan terhenti di lampu lalu lintas, matanya menatap salah satu mahasiswinya sedang berjualan aneka makanan, siapa lagi jika bukan Sena? Wanita yang belum bersinar akan kecantikannya itu berjualan demi bisa membayar kuliahnya, dia tak terlalu pandai jadi tidak bisa mendapat beasiswa sepenuhnya. Regan menatap Sena yang tadi mendapat perlakuan tidak menyenangkan darinya. Bunyi klakson tiba-tiba bersahutan, Regan segera melakukan mobilnya.
Di sisi lain, ponsel Sena bergetar, ia mendapat pesan dari seseorang.
Dosen killer
Jam 7 malam kumpulkan tugas di rumah saya! Terlambat lagi maka hasil tugasmu akan menjadi bungkus gorengan ibu kantin.
Sena tersenyum senang, dia tak menduga jika Regan tidak setega itu dengannya.
Sena pun tersentak bangun, ia membuka mata dan menyadari jika itu hanyalah mimpi. Air matanya menetes dan dia bergumam. "Kak Re..."
__ADS_1
Sungguh, dalam hati Sena masih mencintai Regan namun fakta menjelaskan jika Regan sudah fatal untuk dia cintai.
"Anak yang ada di perutku adalah anak kita, Kak Re..."