Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 62 : Adopsi


__ADS_3

Awal bulan saatnya Regan memberikan uang belanja untuk Sena namun kali ini membuat Sena mengernyitkan dahi pasalnya Regan hanya memberikan 2 juta saja padahal sebelumnya selalu 5 juta.


"Kak Re, kenapa hanya 2 juta?" tanya Sena.


"Bulan ini aku tidak bisa memberimu banyak. Gunakan sebaik mungkin!" jawab Regan.


Saat malam hari, Sena menunjukan bukti tanda pembayaran pada Regan, ada struk air, listrik, tagihan berlangganan saluran TV dan kebutuhan lainnya.


"Kak Re, uang yang kau berikan sisa 600 ribu."


Regan mengernyitkan dahinya, ia membaca satu persatu setiap struk pembayaran. Rahang Regan mengeras, ia sangat kesal dengan pengeluaran yang begitu banyak padahal baru pagi tadi Regan memberikan uang pada Sena.


"Kenapa listrik menjadi mahal sekali? Mulai esok kau pakai kipas angin saja dan apa ini? Kau malah shopping yang tidak jelas." Regan melempar struk belanja di supermarket ke arah Sena.


"Kak, itu untuk beli beras, minyak, gula, sabun dan sebagainya."


Regan semakin murka. "Aku jarang di rumah bahkan makan pun sering di luar. Untuk kebutuhanmu saja sampai sebanyak ini bagaimana nanti jika punya anak?"


Sena hanya diam, ia memang serba salah. Sena memunguti semua struk belanja yang dilempar ke lantai lalu masuk ke kamarnya. Dia hanya bisa menangis merasakan sikap Regan yang membingungkan. Serba salah, bagi Regan memang Sena tidak pecus mengatur keuangan.


Esok harinya.


Sebelum berangkat bekerja, Regan mampir dulu ke apartemen yang disewakan untuk Zara. Zara menyambutnya dengan hangat dan memberinya ciuman selamat pagi.


"Muah... pagi ini aku sudah masak."


Regan masuk, ia melihat bayi itu sedang terlelap, untung saja waktu itu Regan cepat membawanya ke rumah sakit, jika tidak maka tidak tahu akan terjadi hal seperti apa.


"Re, makasih, apartemen ini sangat nyaman bagi kami dan terima kasih untuk uang belanjanya. Tumben kasih aku 5 juta?"


"Iya, gunakan sebaik mungkin! Beri makan anakmu yang bergizi."


Zara mengangguk. Dia mengambilkan makanan untuk Regan lalu menatap Regan sangat lekat, sedikit rasa bersalah dilubuk Zara paling terdalam mengingat Regan adalah suami dari orang lain.

__ADS_1


"Apa Sena tidak curiga?" tanya Zara.


"Dia tidak mungkin tahu."


"Jika tidak cinta kenapa malah menikahinya?"


Regan menghela nafas panjang. "Tolong jangan banyak tanya!"


Zara tercekat dan langsung menutup mulutnya. Regan memang memiliki sikap keras dan tidak suka banyak bicara namun kepribadiannya suka mempermainkan wanita membuat pria itu sudah tidak baik lagi.


Bulan demi bulan telah terlewati bahkan nominal yang diberikan Regan berkurang. Sena semakin curiga kenapa Regan memberinya uang sangat sedikit padahal gajinya banyak. Sena juga mengorbankan uang hasil kerja kerasnya untuk memberi keperluan bahkan rela setiap akhir pekan menjadi SPG event di mall tanpa sepengetahuan Regan.


Namun saat itu, kondisi fisik Sena semakin melemah dan asmanya sering kambuh. Sena tidak bisa membeli oksigen karena uangnya habis untuk makan sehari-hari dan keperluan lain. Badan Sena panas dengan disertai sesak nafas, kebetulan Regan belum pulang dan tidak ada yang menolongnya. Untung saja saat itu Bram datang dengan maksud ingin mengembalikan uang putranya yang ia pinjam namun keadaan rumah tak terkunci dan hening.


"Regan? Sena? Pintunya kenapa tidak dikunci?" tanya Bram.


Bram mendengar suara nafas yang tersengal-sengal dengan bunyi nyaring yang khas, ia membuka pintu kamar satu persatu dan betapa terkejutnya saat melihat menantunya pucat seperti mayat dengan nafas yang menderu.


"Sena?" teriak Bram. Bram segera membawa ke rumah sakit dan tentunya mengabari Regan.


Sena sudah mendapatkan oksigen, kata dokter dia kelelahan dan demam. Regan menatap sang istri yang sekarat di rumah sakit namun ia malah mengurusi wanita lain yang bukan kewajibannya ia nafkahi.


"Regan, ada apa dengan hubungan kalian? Kenapa Sena malah mencari uang tambahan dengan bekerja di mall?"


"Sena bekerja di mall juga?"


Bram menatap Regan heran. "Kau suaminya tidak tahu?"


Sejak kejadian itu, Regan memberi uang belanja seperti biasanya. Regan harusnya paham jika memiliki penyakit asma maka tidak boleh bekerja terlalu berat. Tentang Zara? Zara lama-lama terlupakan oleh Regan karena semakin lama Regan semakin malas dengan Zara karena meminta untuk dinikahi segera. Sampai Maya datang, Zara pun teralihkan dan Regan mulai terpikat dengan Maya, apalagi dengan insiden satu malam itu yang membuat Regan yakin untuk menikahi Maya di depan orang tuanya.


Flashback selesai.


"Nana, ini sudah sampai. Kenapa dari tadi melamun?" tanya Devan.

__ADS_1


"Tidak apa."


Sena turun dari mobil, hari ini mereka akan menentukan tanggal pernikahan mereka secepatnya. Sena tentunya akan membuka lembar baru di mana Devan akan menjadi suami terakhirnya. Mereka juga akan mencari WO terbaik, rencananya Devan akan membuat pesta yang mengundang tak banyak tamu untuk merayakan pernikahannya.


"Sena, kau yakin mau menikah denganku? Aku sulit mempunyai keturunan."


"Soal keturunan kita bisa bicarakan nanti setelah menikah. Kita juga bisa mengadopsi bayi."


Devan sangat terharu dengan penuturan Sena, perempuan baik sepertinya malah disiakan oleh sampah seperti Regan. Sedangkan kini Regan malah depresi karena sudah kehilangan Sena. Regan dinyatakan tidak bersalah namun pihak kepolisian meminta Regan untuk terapi kejiwaan. Sayang sekali, pria yang pandai seperti Regan harus mengalami gangguan psikis.


Sesampainya di rumah.


Sena dan keluarga Devan menentukan tanggal yang tepat untuk mereka melakukan akad pernikahan. Sebenarnya Antony tetap tak setuju jika Devan melakukan pernikahan secepat ini. Namun, demi menghindari fitnah maka memang lebih baik mereka cepat dinikahkan.


"Tanggal 25 bulan depan, Papa sudah bertanya pada teman Papa yang pandai meramal, dia bilang jika pernikahan kalian akan lancar jika menikah di tanggal tersebut," ucap Antony.


"Papa masih percaya begituan?" tanya Devan.


Antony mendengus kesal. "Kau sudah membuktikannya sendiri saat pernikahanmu dengan Winda. Papa sudah bilang jika weton kalian tidak pas maka pertengkaran dan perceraian yang terjadi lalu terjadilah, kalian selalu bertengkar dan ujung-ujungnya cerai. Namun untuk kau dan Sena, kalian memang cocok dan dilihat dari tanggal lahir kalian juga sangat pas, itu kata teman Papa."


Sena pun hanya menurut saja, ia tahu apa kata orang tua pasti yang terbaik. Setelah menentukan tanggal, mereka makan bersama, akhir-akhir ini Sena sangat kelelahan karena mengurus ini dan itu.


"Oh ya Devan, kau tahu tantemu sedang hamil kembar? Bayinya diperkirakan kembar sepasang dan rencanya akan diberikan pada Om Irfan," ucap Sofia.


"Kenapa diberikan pada Om Irfan?" tanya Devan kaget.


Irfan sendiri adalah adik dari Sofia dan Mirna atau Om dari Devan.


"Tantemu itu bandel, dia tidak mau KB alhasil selalu hamil. Kau tahu sendirikan keponakanmu banyak sekali darinya?"


Antony menimpali. "Lebih baik kalian asuh saja setelah menikah nanti. Bayinya pasti sangat tampan dan cantik karena ayahnya bule."


Devan dan Sena lalu bertatapan. Mereka tersenyum bersama, Sena mengangguk ingin mengadopsi bayi itu, Devan membalasnya dengan senyuman. "Mama, Papa, kami ingin mengadopsi bayi itu apa masih bisa?"

__ADS_1


"Kau bilang pada Om Irfan dulu, dia sudah menginginkan bayi itu sejak tantemu hamil muda. Jika perlu kalian langsung ke Singapura saja untuk meminta pada tantemu langsung."


__ADS_2