
Devan membalikan badan lalu menatap Sena, ia sangat beruntung bisa mendapatkan perempuan yang baik dan menerima apa adanya. Dia bergantian memeluk Sena dengan erat, mereka tak memperdulikan orang lain yang menatap mereka. Pasangan itu sudah membuktikan jika cinta memang tak selalu sempurna, ada kalanya ketidaksempurnaan itu bisa tertutupi dengan keiklhlasan hati. Setelah puas berpelukan, Devan mengajak Sena untuk mendekati air mancur itu lebih dekat. Mereka menonton sampai puas dan menikmati waktu berduaan ini. Sena tak bisa berkata-kata, ia sungguh bahagia sekali saat menemukan pasangan yang tepat. Ya, begitulah... Semua akan bahagia jika menemukan pasangan yang pas untuk diri kita sendiri.
Rembulan malam ikut menikmati kebahagiaan mereka, Sena lantas merekam setiap momen yang ada. Mereka sangat lengket seperti perangko dan lupa jika mereka masih berpacaran. Devan sesekali menjauh dari Sena untuk menahan hasratnya. Siapa yang tak tergoda dengan wanita ayu seperti Sena? Hanya pria yang bodoh yang menyiakan Senarita.
Seusai menonton kembang api. Mereka memutuskan pulang dan kembali ke mobil. Anjas tidak ada di sana membuat mereka menunggu. Mesin mobil dalam keadaan menyala supaya AC tetap hidup, sepertinya Anjas sengaja melakukan itu untuk memberi waktu berduaan untuk mereka.
Sena sibuk memainkan game di ponselnya, sementara Devan sudah panas dingin ingin menerkam kekasihnya.
"Kak Dev, Anjas mana?" tanya Sena sambil tetap menatap layar ponselnya.
"Aku juga tidak tahu. Ke mana ya dia?"
Devan keluar dari mobil lalu mencari keberadaan Anjas di sekitar sana namun tetap tidak terlihat batang hidungnya.
Devan kembali masuk ke mobil tapi ia melihat Sena sudah terlelap memejamkan mata. Sepertinya wanita itu sangat kelelahan.
Devan mengambil jasnya lalu menyelimuti tubuh Sena. Dia memperhatikan setiap lekuk wajah sempurna dari Sena. Namun, Devan sadar jika memang seorang pebinor yang tak disengaja. Dia menerima mantan istri dari temannya sendiri dan membuat temannya sangat depresi. Apa Devan termasuk pria yang jahat dan tidak berperasaan? Lalu apa bedanya dia dengan Alden? Alden merebut Winda darinya bahkan menghasilkan buah hati dari perselingkuhan mereka. Devan sangat sakit hati sekali namun dia tak bisa membenci Askia, dia sangat sayang dengan Askia yang lahir diantara rumah tangga Devan dan Winda yang masih terjalin. Ketika Winda benar-benar ditinggalkan Alden, wanita itu bukannya bertobat malah justru semakin menjadi. Dia sering berganti-ganti pasangan dengan alasan Devan tak bisa memuaskannya. Sampai suatu ketika pertengkaran terus terjadi dan terjadilah perceraian itu.
"Pak bos, maaf, tadi bertemu teman jadinya mengobrol dulu," ucap Anjas sambil masuk ke mobil.
Devan mengangguk, ia menyuruh Anjas untuk melajukan mobilnya pulang mengantar Sena terlebih dahulu. Anjas melirik Sena yang terlelap, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain.
Regan tidak bisa tidur, ia terus membayangkan Sena untuk di sisinya. Kini dia sudah ada di rehabilitasi dan kabar jiwanya terguncang sudah menyebar di seluruh kampus. Semua orang terkejut termasuk anak-anak mahasiswanya namun mereka tidak tahu penyebab Regan bisa begitu.
Sampai menjelang pagi, Regan tidak bisa tidur. Matanya seolah tidak mengantuk. Dia memperhatikan jendela kamar yang terkunci, ia mengambil kursi lalu memecahkan kursi itu dari jendela tersebut.
__ADS_1
Regan melarikan diri dan mengendap-endap kabur melompat dari tembok tinggi. Tujuannya kali ini siapa lagi untuk bertemu dengan Sena.
Pagi hari, matahari sudah muncul. Sena harus segera ke kantor seperti biasanya. Saat membuka pintu kamar kostnya, ia sangat terkejut saat Regan sudah ada di depan kamarnya.
"Aku minta air," ucap Regan dengan suara seraknya.
Sena mengambil air putih lalu memberikannya pada Regan. Regan kelelahan seperti baru saja berlari maraton. Melihat baju Regan yang seolah pasien rumah sakit, Sena menyimpulkan jika memang pria itu kabur.
"Sena, sembunyikan aku! Aku tidak mau di sana. Aku tidak gila," ucap Regan.
Sena hanya memperhatikan Regan sambil ketakutan. Dia tak tahu harus melakukan apa. Pikirannya saat itu juga harus menelpon Bram namun saat ia mengambil ponselnya tiba-tiba Regan merebutnya.
"Jangan Sena! Aku tidak gila. Aku waras. Tolong sembunyikan aku!"
Sena tak habis pikir, ia malah semakin bingung. Sena lalu menyuruh Regan untuk masuk ke kamar kosnya. Dia berpikir untuk minta bantuan Devan.
"Tumben menunggu di sini?" tanya Devan.
"Kak, aku bingung."
Devan mengernyitkan dahinya. "Ada apa?"
"Kak Regan ada di dalam kosku."
DEG...
Devan sangat terkejut namun dia masih menunjukan wajah yang biasa seolah tidak marah.
__ADS_1
"Dia sepertinya kabur dari rehabilitasi dengan cara berlari. Pagi-pagi dia sampai di sini seperti kelelahan dan sangat kehausan," jelas Sena.
Devan lekas masuk ke kamar kost kekasihnya. Ketika ia membuka pintu terlihat Regan duduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya.
"Regan, kenapa kau di sini?" tanya Devan.
"Pergi! Kau pasti akan membawaku ke rumah orang gila itu! Aku tidak gila!" bentak Regan.
Devan mencoba mendekatinya lalu berjongkok di depan mantan sahabatnya itu. "Aku akan menelpon Papamu dan menyuruhnya untuk dirawat di rumah saja."
Regan memalingkan wajah dan saat itu ia melihat figura yang berisikan foto kemesraan Devan dan Sena. Hati Regan sangat sakit seperti dihujani ribuan pedang.
"'Kenapa harus dengan mantan istriku? Jika kau memang menghargaiku sebaiknya kau tidak akan membuatku semakin terluka. Aku sangat sakit hati saat Sena sudah tidak mau kembali padaku namun aku lebih sakit hati lagi saat Sena memilih akan menikah denganmu," ucap Regan.
"Aku minta maaf, maafkan aku yang telah mencintai mantan istrimu namun kau sendiri yang sudah memberikannya padaku," jawab Devan.
Sena pun menjadi bimbang. Dia terjebak dalam cinta segitiga ini.
Devan mengusap bahu Regan lalu memeluknya. Devan tahu jika dirinya memang salah karena akan menikahi mantan dari temannya sendiri.
"Regan, hanya satu pertanyaan dariku untukmu. Apa kau merestui pernikahan kami yang akan diselenggarakan bulan ini? Jika kau tidak setuju maka aku akan mundur. Aku tidak mau saat kami menikah nanti kau tetap mengganggu Sena. Ini adalah rumah tanggaku yang kedua, aku tidak ingin ada orang lain yang masuk ke dalam rumah tanggaku yang kedua ini," ucap Devan.
Sena sangat terkejut dengan ucapan Devan. Dia sampai tak bisa berkata-kata.
"Sakit sekali, Re. Aku dikhianati teman sendiri saat pernikahan kami berjalan. Sedangkan untuk kasusku dan Sena sangat berbeda. Aku mendekatinya saat dia sudah resmi bercerai denganmu," ucap Devan lalu menatap mata Regan dengan lekat. "Sebelum kau ingin merebut Sena dariku saat kami sudah menikah. Lebih baik aku mundur saja dari sekarang. Pernikahan bukan untuk main-main, aku ingin mencari istri yang tidak terikat dengan pria lain dan aku mencari ibu untuk Kia juga bukan untuk diriku saja," sambung Devan.
Regan menggelengkan kepalanya. Dia tahu jika kebahagiaan Sena ada pada Devan. "Aku tidak akan menganggu kalian namun aku mohon tolong bahagiakan Sena untukku. Jangan seperti diriku yang pernah dan selalu menyakitinya."
__ADS_1