Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 83 : Bingung


__ADS_3

"Kalian memang orang yang baik. Semoga kalian selalu kebahagiaan." 


Devan tersenyum, ia memandang Serafina yang juga sama-sama menatapnya. Dia sangat suka sekali saat melihat senyuman bayi bule itu. 


"Ibu, apa dia bisa digendong?" tanya Sena. 


"Bisa. Kalian pegang punggungnya dengan kuat. Lehernya juga sudah kuat untuk menyangga kepalanya. Cuman ya itu tadi, Serafina tidak bisa duduk."


Sena lekas menggendongnya dengan hati-hati, terlihat  bayi itu tertawa saat digendong Sena. Sena memegangi punggung bayi itu dengan kuat dan Devan mengelus rambut pirang dari bayi itu.  Serafina sangat cantik dan lucu seperti boneka. Namun sayang sekali banyak keluarga yang enggan untuk mengadopsinya. 


"Ibu, berkas apa yang harus kami siapkan untuk mengadopsinya?" tanya Devan. 


**


Anthony mondar-mandir menunggu kepulangan Devan, ia sudah menyuruh putranya untuk datang ke rumah. Perusahaannya sedang kacau karena banyak klien yang mencabut kerja sama dengan mereka dan otomatis saham menjadi anjlok. Devan datang bersama Sena, Anthony langsung mendekati mereka dan memaki putranya itu. 


"Dari mana saja? Kenapa saat kau diusir menurut saja?" bentak Anthony. 


"Lalu aku harus apa? Memohon pada Alden? Pah, aku tidak ingin bekerja dengan mereka lagi. Banyak kecurangan yang terjadi di sana," jawab Devan dengan nada santai. 


Anthony menatap tajam Devan. "Dev, kau tinggal melanjutkan usaha papa saja tidak pecus. Semenjak kau menikah dengan Sena menjadi seperti ini. Dulu saat masih dengan Winda kau orang yang gigih." 


Sena lagi-lagi menjadi sasaran, terkadang Papa mertuanya memang menyakitkan jika berbicara. 


"Ada yang lebih penting lagi dari perusahaan. Askia dibawa Winda dan Alden, mereka mengompori Kia untuk membenciku."


Anthony berdecih. "Lupakan tentang Kia! Dia bukan anakmu. Aku ingin kau hadir dalam rapat dewan direksi malam ini. Ini kesempatan terakhir kita, Papa akan meminta bantuan rekan-rekan Papa."

__ADS_1


Anthony lekas pergi dari sana meninggalkan Devan dan Sena yang hanya bisa menghela nafas. Devan hanya bisa memijat pelipis kepalanya, jika menyangkut Alden dia sungguh malas sekali. Alden adalah orang yang suka menang sendiri dalam segala hal, ia tak mau terkalahkan. 


"Mas, semangat! Mas Devan jangan kalah dengan yang namanya Alden."


"Dari dulu aku sudah kalah dengannya. Dia berselingkuh dengan istriku dan sampai ada Askia."


Sena memeluknya dengan erat, sepertinya akan ada masalah setelah ini. Regan pergi namun Alden datang seolah membawa bencana. Sofia datang, ia baru saja pulang dari arisan. Sena berdiri lalu memeluknya dengan erat. 


"Kapan kalian datang? Papa tidak tahu kalian datang?"


"Beliau sudah tahu, Mah." 


Sofia menarik tangan Sena untuk duduk di sofa, ia menceritakan jika kondisinya saat ini tidak baik. Sofia menyarankan mereka untuk pindah kota saja dan memulai hidup baru di sana, masalah perusahaan memang sudah tak bisa dipertahankan. Anthony datang, ia memarahi sang istri karena mengajari Devan seperti itu. Mereka lagi-lagi melakukan debat sampai Devan menarik Sena untuk keluar dari rumah itu. 


"Mas, mereka bertengkar."


"Biarkan saja! Setelah masuk kamar mereka akan baikan."


"Ku mohon jangan pernah meninggalkanku! Aku memang orang pecundang."


"Mas, jangan bilang begitu! Mas tinggal menuruti apa kata Papa saja untuk datang malam ini." 


Devan mengangguk, ia lalu mengecek ponselnya. Dia lupa membaca pesan dari Regan, sudah lama dia tak berkomunikasi dengan Regan. Pria yang masih  berteman baik dengannya itu terkadang saling mengirim kabar. 


Regan : Alden pulang? 


"Regan mengirim pesan."

__ADS_1


Sena kaget, ia kepo dengan pesan Regan lalu melihatnya secara dekat.


Devan : Iya, kau tahu dari mana? 


Regan : Aku akan ke sana. Aku akan menemuimu.


Devan : Oke, aku akan menunggu kedatanganmu. 


Devan menatap Sena yang masih melihat isi percakapan pesannya. Sena memandangnya dan langsung mundur perlahan.


"Ciee... mau ketemu mantan suami," ejek Devan. 


Sena berdecih, ia memalingkan wajah. Devan menyenggolnya dan terus menggodanya namun tak membuat Sena menoleh. 


"Regan semakin tampan."


"Apaan sih Mas Devan? Mas yang lebih tampan. Titik!" 


Devan mengusap kepala Sena sampai membuat rambutnya berantakan.  Sena manyun membuat Devan semakin gemas saja. Ya, dengan cara bergurau seperti ini membuat beban masalah mereka sedikit terlupakan. 


**


Bram, pria matang yang kini menduda setahun lebih memilih fokus untuk bekerja dan bekerja. Tetangganya yang merupakan guru masih sering membawakan makanan untuknya. Raisa, wanita yang seusia Regan tak menyerah untuk mendapatkan hati duda itu.


"Om Bram? Selamat malam? Apa ada orang?" tanya Raisa. 


Ceklek...

__ADS_1


"Raisa, maaf. Tolong jangan sering ke sini! Tetangga sudah menuduh kita yang aneh-aneh!" 


Raisa menyodorkan makanan. "Aku hanya ingin memberikan ini. Selamat malam." 


__ADS_2