Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 38 : Jatuh


__ADS_3

Pengumuman Give Away Pulsa.


Tim Regan terwakilkan oleh :



Tim Devan terwakilkan oleh :



Selamat untuk kedua pemenang di atas, mohon segera follback akun saya atau masuk ke grup saya yang ada di akun mangatoon/noveltoon dan segera kirimkan nomor kalian.


Untuk yang lain jangan berkecil hati, akan ada give away lagi di bab lain. Makanya terus ikuti novel ini karena akan ada bab-bab berhadiah. Terima kasih


--------------------------------


Kling...


Devan


Sampai bertemu di pesta nanti. Aku harap kau masih tetap datang.


Sena membaca pesan itu lalu tak membalasnya. Dia segera berganti pakaian yang sempat dibelikan oleh Devan. Sebuah gaun cantik berwarna biru muda serta sepatu hak tinggi berwarna putih menghiasi kakinya. Dia mencari anting pemberian ibunya namun ia teringat jika Devan belum mengembalikannya.


"Aku harus cepat mengambil anting itu dari Pak Devan."


Setelah selesai berdandan, dia segera memesan taksi online. Sena begitu cantik bak seorang putri di dalam dongeng. Kini dia di dalam taksi sambil mengusap perutnya.


Ada kehidupannya di dalamnya, Sena harus memperjuangkan bayinya untuk bisa sehat dan selamat saat lahir di dunia.


Sesampainya di hotel tempat berpesta.


Sena turun dari taksi dan terlihat mobil mewah berjejer di tempat parkir. Minder, satu kata yang tergambarkan jauh di lubuk hati Sena. Dia datang ke sini hanya naik taksi serta memakai gaun pemberian orang lain.


Sena lekas membuang pikiran negatifnya, dia segera masuk ke dalam sana. Sena takjub dengan para tamu yang begitu rapi dan menawan.


Di ujung sana, terdapat laki-laki tampan mengenakan jas hitam serta dasi kupu-kupu warna merah. Siapa lagi jika bukan Devan? Devan menatapnya namun Sena malah menunduk dan bergabung dengan teman-temannya.


"Bu Sena, cantik sekali," goda Gladis.


"Jika di luar kantor jangan panggil Ibu, deh!" jawab Sena.


Mereka tertawa bersama-sama lalu mengambil minuman. Sena nampak bahagia saat mengobrol dengan mereka, beban beratnya seolah berkurang.


Acara di mulai dengan penyambutan lalu setelahnya acara santai seperti menikmati makanan dan mengobrol dengan kolega. Sena melirik Devan yang sedang mengobrol dengan seseorang, lesung pipi Devan membuatnya terpesona. Devan tiba-tiba memandang ke arah Sena, Sena memalingkan wajah dan menghabiskan semua air sirup yang ada dalam gelasnya.

__ADS_1


"Sena, kenapa tadi tidak membuka pintu? Kau marah?" tanya Devan.


"Pak Devan, sebaiknya kau menjauhiku saja. Aku takut orang lain mencap jelek kita."


Devan tersenyum kecil. "Bukankah nama kita sudah terlanjur jelek?"


Sena terdiam, ia segera menjauh dari Devan. Dia tak ingin terjebak hubungan dengan Devan yang notabenya orang kaya yang tidak sepadan dengannya. Apesnya setelah menjauh dari Devan, ia malah bertemu dengan Regan.


"Kenapa kau di sini?" tanya Sena terkejut.


"Papaku tidak bisa datang karena menjaga Mama."


Regan menariknya menuju ke tengah untuk mengajak berdansa. Sena bingung dengan sikap Regan namun pria itu sudah memegang pinggangnya dan menatapnya dengan lembut. Semua orang memperhatikannya termasuk Devan, ia kecewa pada Sena karena malah mau berdansa dengan Devan.


"Kak Re, lepaskan aku!"


Regan tidak menggubris, ia tetap mengajak Sena untuk berdansa. Sena tak mungkin langsung mendorongnya karena banyak pasang mata yang memperhatikannya.


"Kak, kau kenapa? Kita sudah bercerai."


"Diamlah! Dan perhatikan kakimu yang selalu menginjak kakiku."


Sena menatap kakinya yang menginjak kaki mantan suaminya itu, ia lekas mengangkatnya. Mereka berdansa dibawah lampu yang menerangi pesta ini. Tak ada harapan untuk kabur dari Regan.


"Tadi kau yang menabrakku? Kau ingin balas dendam?"


Sebelum Sena menjawab, sudah ada pengumuman dari MC jika akan diadakan permainan. Sena lekas menjauh dari Regan dan bergabung dengan teman-temannya lagi. MC menjelaskan akan diadakan games mini yang terbentuk dari 3 kelompok. Salah satu orang memberikan nomor rahasia dan nomor itu akan ada 3 nomor yang sama lalu jadilah satu kelompok terdiri dari 3 orang. Sena secara mengambil dan mendapat nomor 8.


Sena memandang semua tempat, ia penasaran siapa yang mendapat nomor yang sama dengannya.


Mereka mencari satu sama lain sampai Devan mendekatinya.


"Angka 8 juga?" tanya Devan.


Sena mengangguk, ia kaget melihat nomor Devan yang sama dengannya.


"Kita tinggal cari satu orang lagi yang mendapat nomor 8."


Tiba-tiba seseorang memberikan kertas yang bernomorkan angka 8. Ketika Sena melihat si pemilik angka itu membuatnya sangat terkejut.


"Kak Re?"


Devan dan Regan saling memandang dingin. Sena bingung, kenapa dia harus terjebak dengan kedua pria itu.


MC mengumumkan lagi tata cara permainannya. Dalam satu kelompok mendapat kertas yang berisi pertanyaan dan kata kunci. Sena membacanya yang ternyata terdapat soal matematika yang sulit ia pelajari saat sekolah.

__ADS_1


"Jadi sepertinya kita disuruh menjawabnya dan jawaban itu adalah kata kuncinya," jelas Sena.


Regan dengan percaya diri akan mengerjakan soal itu namun Devan tak mau berdiam diri saja seolah tidak berguna.


"Berikan padaku! Biar aku yang mengerjakan," ucap Devan.


"Aku dosen dan pasti bisa mengerjakannya, jika jawabanmu salah maka akan membuat semakin lama," sahut Regan.


"Kau pikir aku tidak bisa? Menjadi pemimpin perusahan juga harus pandai dalam matematika. Sini, biar aku kerjakan!"


Mereka pun berebutan membuat Sena sangat kesal dan mendadak pusing. Tim lain sudah mengerjakan dengan tenang namun timnya malah berebut kertas seperti anak kecil.


Sena terhuyung ke tembok membuat mereka terkejut. Mereka membantu Sena, Devan juga melepaskan sepatu hak tinggi milik Sena yang seolah kurang nyaman.


"Kenapa memakai sepatu tinggi sekali?" tanya Devan begitu perhatian dengan Sena.


Sena menggelengkan kepalanya, Devan mengajak Sena untuk duduk namun sepertinya Regan begitu cemburu dengan Devan yang sangat perhatian dengan mantan istrinya.


"Devan, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan pada Sena."


Devan mengalah, ia lekas pergi namun tetap mengawasi Sena dan Regan yang berada di sekitaran tangga.


"Ada apa?" tanya Sena.


"Kau dan Devan ada hubungan apa? Jadi alasan perceraian kita karena dia juga? Kau sampai hamil anaknya namun malah menyalahkan dan menyudutkanku di pengadilan," ucap Regan.


Tak habis pikir dengan Regan, dia masih saja mengungkit hal itu. Sena yang tak mau menggubris segera menjauh namun tangan Regan mencengkeramnya.


"Kau berselingkuh juga dengan pria lain namun malah menyalahkanku, bahkan saat kita berpisah kau sempat tinggal di rumah Devan. Kau tidak pernah mengerti perasaanku," sambung Regan.


"Kita sudah bercerai, tolong jangan memintaku kembali padamu dan jangan mengungkit masa lalu yang sudah berlalu," ucap Sena.


Sena turun dari tangga namun Regan menarik tangannya, Sena memberontak sampai kakinya terpeleset dan membuatnya jatuh dari tangga. Tubuhnya terguling-guling membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Akh..." Sena.


Perutnya begitu sangat keram bahkan dari pahanya mengeluarkan darah. Regan sangat terkejut, ia menghampirinya namun Devan menghalanginya.


"Kau tak bosan untuk menyakitinya?" tanya Devan.


"Aku tidak bermaksud mendorongnya."


Devan tak menggubris ucapan Regan, ia segera membopong Sena serta membawanya ke rumah sakit. Perut Sena terasa sangat melilit bahkan pahanya mengeluarkan banyak darah.


"Sakit.... " rintih Sena di dalam mobil.

__ADS_1


"Tahan, Sena! Bertahanlah!" pinta Devan berusaha menenangkannya.


__ADS_2