
Leandro menatap gadis yang tengah duduk dengan salah tingkah di depannya. Sudah lima belas menit berlalu, tapi tak ada yang membuka percakapan diantara mereka. Karena sudah kesal menunggu, akhirnya Leandro pun mulai bertanya pada gadis yang ada di depannya itu.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang terjadi dengan suami mu?" tanya Leandro saat mereka sudah duduk bersama di sofa ruang tamu unit milik Leandro. Akh bahkan suasananya pun berbeda dengan unit milik Fatma.
"Aku... Aku..."
"Bicara yang jelas" perintah Leandro saat melihat reaksi Fatma yang terlihat bingung untuk menjawabnya..
"Aku dan Rey, kami... kami kira kau sudah kembali ke negara B bersama keluarga yang lain. Tapi kenapa kau bisa ada disini?" tanya Fatma untuk mengalihkan pembicaraan.
Leandro menarik ujung bibirnya sebelah, dia sadar jika Fatma sedang menghindari pertanyaannya.
"Aku tidak ikut ke negara B karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini" jawab Leandro datar sambil menatap lurus lawan bicaranya.
Fatma tidak lagi mengatakan apa-apa, dia merasa bingung apa yang harus ia di bicarakan lagi pada Leandro.
"Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Leandro kembali.
"Aku... Aku hanya ingin tinggal di sini saja" jawab Fatma dengan cepat, ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada sepupu suaminya itu, apalagi Leandro dan Reymond sering bertentangan.
"Aku tidak menerima jawaban omong kosong seperti itu" ucap Leandro yang mengetahui jika istri sepupunya itu tengah berbohong.
"Sungguh, aku tidak berdusta. Aku hanya ingin tinggal di sini karena mansion terlalu besar untuk ku" jawab Fatma yang tidak sepenuhnya berbohong.
Sedangkan menurut Leandro, Fatma masih menutupi kebenarannya. Leandro pun mengalah dan tidak bertanya apa-apa lagi. Toh menurutnya urusan rumah tangga sepupunya itu bukanlah urusan penting untuknya.
"Terserah kau saja. Aku ingin beristirahat, kau bisa kembali ke unit mu sekarang" ucap Leandro mengusir halus Fatma.
"Baiklah, aku minta maaf karena sudah mengganggu mu, selamat beristirahat" ujar Fatma sambil bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari sana.
Setelah merasa aman dari tatapan intimidasi sepupu suaminya, Fatma pun merasa lega. Entah kenapa saat berhadapan dengan Leandro, Fatma selalu merasa pengap dan sesak. Sedangkan jika bersama Reymond, dia merasa seperti sedang bersama monster buas yang siap menerkamnya kapan saja.
"Harusnya tadi aku tidak menemuinya, bagaimana jika nanti dia melaporkan hal ini pada nyonya Celine dan tuan Antony, apa yang harus ku lakukan sekarang?
__ADS_1
Aku benar-benar bingung" gumam Fatma sambil memukul kepalanya pelan saat ia sudah memasuki unitnya.
"Semoga saja Leandro tidak mengatakan apa-apa pada semuanya" doa Fatma dalam hatinya.
***
Lain tempat lain pula suasananya, Nadira semakin merasa dirinya berkuasa di mansion itu. Semua pelayan yang ada di sana mulai mengeluhkan sikap Nadira yang kasar dan semena-mena, seperti halnya saat ini.
Dita, nama pelayan yang kini tengah menerima perlakuan kasar dari Nadira, hanya karena ia salah mengambilkan cemilan untuknya, Nadira sampai tega mencambuk kaki Dita. Pak Kus sudah mencoba menahan nyonya-nya itu, tapi yang ada malah ia terkena amarah Nadira juga.
"Makanya kalau hanya jadi pelayan itu harus nurut apa kata majikan, bukannya malah so'-so'an nolongin orang lain" ujar Nadira yang kesal terhadap pak Kus.
"Maaf nyonya, tapi sikap anda sudah keterlaluan. Saya tidak bisa tinggal diam jika hal seperti terus-menerus terjadi" jawab pak Kus dengan tegas.
"Hei, kau itu hanya kepala pelayan. Kenapa berani sekali menentang ku?" tanya Nadira dengan geram.
"Maafkan saya nyonya, saya hanya mengikuti peraturan yang sudah ada di mension ini sejak dulu, dari para leluhur yang pernah tinggal di mension ini sangat menentang jika ada kekerasan yang terjadi di sini" jawab pak Kus.
Nadira membantingkan pintu kamarnya kuat-kuat sehingga menimbulkan suara yang keras. Sudah sejak sore ia di buat kesal oleh Rey, suaminya.
Dan hingga saat ini suami siri-nya itu belum kembali, Bahkan ia tidak tahu Rey pergi ke mana.
Sementara di lantai bawah, Dita sedang dibantu oleh beberapa pelayan yang juga bekerja di sana untuk kembali ke kamarnya dan mengobati luka bekas cambukan di kakinya.
"Dit, kira-kira nyonya Nadira marah-marah kenapa ya?" tanya salah seorang teman Dita.
"Aku juga tidak tahu, selama bekerja di sini enam tahun lamanya, aku baru mengalami hal seperti ini. Bahkan nyonya Fatma yang merupakan istri sah dari tuan Rey pun tidak pernah bersikap seperti ini, sedangkan nyonya Nadira hanyalah istri siri-nya, tapi bisa berbuat hal yang sekejam ini. Aku tidak mengerti dengan cara pemikiran tuan Rey" jawab Dita kepada temannya itu.
"Hmmm... kau benar, kira-kira nyonya Fatma sekarang tinggal di mana? Sejak kejadian pingsan dan dibawa ke rumah sakit, nyonya Fatma tidak pernah lagi pulang ke mari" tanya teman Dita itu.
"Untuk hal itu juga aku tidak tahu, pak Kus juga tidak memberitahukan keberadaan nyonya Fatma pada kami" jawab Dita lagi.
Setelah selesai di obati, Dita pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang pernah dipakai oleh Fatma, tanpa sengaja tangannya menyentuh selembar kertas yang ada di bawah bantal, saat Dita mengambil bantal itu dia melihat selembar foto sebuah keluarga.
__ADS_1
"Ini foto milik siapa? Sepertinya ini adalah foto lama" tanya Dita pada dirinya sendiri sambil mengamati wajah-wajah yang ada di foto itu.
Karena ia tidak mengenali wajah-wajah itu, akhirnya Dita pun menyimpan kembali foto itu di bawah bantal tempat tidurnya.
"Biar ku tanyakan nanti pada Rere dan Mimi" gumam Dita.
***
Sedangkan di sebuah apartemen sederhana, Fatma sedang mencari sesuatu yang sangat berharga untuknya, dia mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam lemarinya, bahkan dalam kotak penyimpanan yang ada di tasnya juga tidak terlewatkan, tapi barang itu tidak ia temukan di manapun.
"Ke mana foto itu? Kenapa tidak ada di semua tempat ini? Apa jangan-jangan tertinggal di mansion? Bagaimana jika ada yang membuangnya? Aku tidak mempunyai foto itu lagi!" gumam Fatma sambil menangis dan terus mencari selembar foto itu yang mungkin saja bisa terselip di antara tumpukan bajunya.
Hingga malam hari Fatma tidak menemukan selembar foto itu, dia pun akhirnya pasrah dan kembali merapikan pakaian yang sudah ia acak-acak tadi.
Selesai merapikan pakaiannya kembali, Fatma pun masuk ke kamar mandinya untuk membersihkan diri, saat sudah selesai dengan urusannya, tiba-tiba ia mendengar suara pintu yang terus-menerus diketuk dari luar.
"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?" tanya Fatma yang sempat melirik jam dinding yang menunjukkan angka sepuluh malam.
Dengan bingung dan penasaran, akhirnya Fatma pun memutuskan untuk melihat orang yang dari tadi terus menerus mengetuk pintu apartemennya.
"Tuan Rey, ada apa dia datang malam-malam seperti ini?" gumam Fatma merasa heran karena Rey datang ke apartemennya untuk pertama kali di waktu malam.
Antara takut dan bingung, akhirnya Fatma pun membukakan pintu apartemennya dan membiarkan Rey masuk ke dalamnya.
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Fatma saat Rey sudah masuk ke dalam.
Rey tidak menjawab pertanyaan Fatma, ia hanya menatap Fatma dengan tatapan yang sayu dan tidak jelas.
Rey melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fatma yang berada di depannya, dalam jarak sekitar tiga langkah Fatma bisa mencium bau alkohol yang menyeruak dari tubuh Rey, Fatma pun sadar jika dalam keadaan mabuk.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗
__ADS_1