Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 65


__ADS_3

"Kamu dan Reymond bagaikan langit dengan bumi, harusnya kamu sadar diri dan tahu di mana tempatmu berada!" ujar Rumi dengan nada tinggi.


Fatma menatap dingin Rumi, ia sama sekali tidak berniat menjawab ucapan yang dilontarkan padanya.


"Harusnya aku yang sekarang berada di posisi mu, yaitu menjadi istrinya Rey, bukan kamu yang hanya gadis kampungan dan rendah pendidikan. Aku kasihan pada Reymond, bagaimana bisa dia memiliki istri kampungan seperti kamu? Sangat memalukan!" sambung Rumi lagi, bahkan nafasnya sudah tidak teratur karena menahan gejolak emosi yang ia rasakan.


Fatma menggenggam tangannya kuat-kuat untuk menahan emosi yang ia rasakan juga, saat ini dirinya tidak boleh terpengaruh oleh omongan dari wanita dewasa yang berada di depannya. Ia percaya jika Reymond mencintainya apa adanya dan menerima semua kekurangannya.


"Apa anda sudah selesai?" tanya Fatma tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari Rumi.


"Apa maksudmu?" tanya Rumi dengan heran, lantaran ia tidak melihat kilatan kesal di mata Fatma.


"Sepertinya yang kurang berpendidikan di sini itu bukan saya, malainkan Mbak Rumi sendiri. Setahu saya wanita berpendidikan tinggi itu tidak akan pernah mengambil suami milik orang lain," ucap Fatma, sebelum akhirnya ia berdiri dan memanggil satpam yang ada di depan rumahnya untuk membantu mengusir Rumi dari sana.


Rumi menatap tidak percaya pada wanita muda yang berada di depannya. Kenapa wanita itu sangat keras kepala? Kenapa dia tidak mengalah saja dan memberikan Reymond padaku secara sukarela, batin Rumi.


"Pak, tolong usir dia dari rumah saya. Jangan pernah biarkan dia menginjakkan lagi kakinya kemari!" perintah Fatma yang langsung di anggukan oleh kedua satpam itu.


Rumi membulatkan matanya, dia kembali diusir lagi. Sehari ini dia sudah dua kali diusir oleh sepasang suami istri itu.


"Apa-apaan kamu, hah? Berani kamu memperlakukanku seperti ini? Aku belum selesai berbicara denganmu!" Rumi berteriak sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman satpam yang membawanya.


"S***! Aku akan membalas semua perbuatan kalian!" racaunya sebelum ia benar-benar pergi dari sana.


Fatma masuk setelah melihat Rumi benar-benar pergi dari pelataran rumahnya, ia tidak tahu kapan Rumi akan kembali lagi padanya. Sepertinya Mbak Rumi tidak akan menyerah semudah itu, batin Fatma sambil terus melangkah menuju kamarnya yang di lantai atas.


Sesampai di kamar, ia pun segera menyambar ponsel baru yang Reymond tinggalkan untuknya. Reymond juga sudah mengajarkannya untuk memakai ponsel itu, Jadi kalau hanya sekedar menelpon Fatma sudah tahu bagaimana caranya.

__ADS_1


"Halo, Mas," sapa Fatma saat sambungan telepon itu diterima oleh Reymond, suaminya.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Reymond dengan gembira. Ya, ia sangat bahagia saat tahu jika yang menelponnya itu adalah sang istri.


"Mbak Rumi datang ke rumah tadi," ucap Fatma to the poin.


Di seberang, sana Reymond terkejut dengan ucapan istrinya, ia tidak menyangka jika Rumi akan mendatangi rumahnya itu.


"Lalu, bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Apa dia melakukan kekerasan terhadap mu?" tanya Reymond khawatir. Ia khawatir jika Rumi sampai berbuat kekerasan pada Fatma, apalagi sekarang dirinya sedang berada di perusahaan dan tidak ada disamping istrinya.


"Tidak, Mas. Aku baik-baik saja, tapi dia memintaku untuk menjauhimu," jawab Fatma sambil manekuk wajahnya.


Di seberang sana, Reymond mengusap wajahnya kasar. Ia harus segera menyelesaikan masalah Rumi agar istrinya itu kembali tenang dan tidak memikirkan hal negatif lagi.


"Tenanglah, kamu tidak perlu memikirkan apa yang Rumi ucapkan tadi. Yakinlah, aku mencintaimu apa adanya, sayang. Aku janji akan segera membereskan masalah Rumi secepatnya," ucap Reymond untuk menenangkan Fatma.


Dia juga sebenarnya merasa terganggu dengan apa yang Rumi lakukan, tapi dia tidak bisa gabah saat ini.


"Baiklah. Lagipula tadi aku sudah mengusirnya dan melarangnya untuk kembali lagi kemari."


Reymond sedikit terkejut karena ternyata Fatma bisa melawan Rumi. "Benarkah? Bagaimana caramu melakukannya? Apakah kamu tidak takut padanya?" tanyanya beruntun.


Fatma terkekeh pelan. "Bukankah kamu yang menyuruhku untuk melawannya dan jangan takut padanya?"


"Hmmm, kupikir kamu akan takut dan menjadi lemah saat berada di hadapannya," jawab Reymond.


"Aku tidak akan menjadi lemah jika Mas tetap berada disamping ku," ucap Fatma pelan dengan menutup mulutnya. Sebenarnya ia malu mengatakan hal itu, tapi kata-kata itu meluncur begitu saja.

__ADS_1


Reymond tersenyum di ujung sana, ia yakin jika Fatma juga mulai mempunyai perasaan cinta terhadapnya. "Ya, tentu saja. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawabnya yakin.


Wajah Fatma kian memerah saat Reymond menjawab ucapannya itu. *M*ungkinkah sekarang aku benar-benar takut kehilangannya? tanya Fatma dalam hatinya.


Ia pun menarik nafasnya agar tidak terlalu gugup dan berkata, "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, sayang."


Setelah mendapat jawaban dari suaminya, Fatma pun memutuskan sambungan telepon. Ia lupa dengan tujuan awalnya untuk bertanya pada Reymond tentang makan siang mereka.


"Ya Tuhan, aku lupa bertanya, siang ini Mas Rey akan pulang ke rumah atau di bawakan makan siang ke kantor," ucap Fatma saat mengingat tujuannya sambil menepuk keningnya pelan. "Sebaiknya aku kirim pesan saja," gumamnya sambil tersenyum.


Di seberang sana Reymond tengah menatap ponsel sambil terus menyunggingkan senyum, sehingga membuat beberapa para staf merasa heran padanya, padahal saat ini ia sedang melaksanakan rapat dengan beberapa stah penting Hotel-nya.


My wife 📩


Maaf mengganggu mu, Mas. Aku lupa menanyakan, kamu mau makan siang di rumah atau aku yang membawakan makanan ke kantor?


Tanpa menunggu lama, Reymond segera membalas pesannya.


Me 📨


Aku akan pulang ke rumah siang ini, kita makan siang di rumah saja. Aku merindukanmu 🤗❤️🌹🥰


My wife 📩


Baiklah aku akan menunggumu, aku juga merindukanmu, Mas ☺️☺️

__ADS_1


Fatma terkekeh pelan melihat balasan pesannya dari sang suami. Apakah Mas Rey selalu mengirimkan pesan dengan emoticon seperti ini? tanya Fatma dalam hatinya.


Setelah saling berbalas pesan dengan suaminya, Fatma pun segera mempersiapkan masakan untuk menu makan siang mereka. Ia akan masa dibantu dengan Bibi yang bekerja di sana


__ADS_2