
Fatma menatap sebuah gedung di depannya, ia tidak mengerti kenapa Nyonya Celine mengajaknya ke boutique dan WO ternama di kota itu, tadi sebelum mereka berangkat pun Nyonya Celine tidak mengatakan apa-apa dan hanya meminta Fatma untuk mengikutinya.
"Mom, kita sedang apa di sini?" tanya Fatma begitu mereka turun dari mobil yang mengantarkannya.
"Sudah. Lebih baik sekarang kita masuk dulu, karena kita sudah ditunggu di dalam," ucap Nyonya Celine tanpa menjawab pertanyaan sang menantu.
Fatma semakin dibuat bingung saat Nyonya Celine tiba-tiba menarik tangannya untuk masuk ke dalam bangunan itu, ia tidak bisa menolaknya karena begitu mereka sampai, langsung di sambut oleh manager dan beberapa staf yang bekerja di sana.
"Selamat datang Nyonya Celine, Nona Ayunda," sapa manager itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Tolong tunjukkan gaun pesananku dan bantu dia memakaikannya," perintah Nyonya Celine pada yang ada di sana.
"Baik, Nyonya."
Fatma memandang Nyonya Celine dengan bingung, ia masih tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Mom?"
"Kamu ikut mereka, ya? Nanti akan Mommy jelaskan," ucap Nyonya Celine.
Lagi-lagi ia tidak mendapatkan jawaban yang pasti, suaminya pun tadi malam tidak mengatakan apa-apa tentang hari.
"Nona, mari ikut kami," ucap manajer itu meminta Fatma untuk mengikutinya.
Nyonya Celine mendorong pelan menantunya untuk mengikuti manajer itu, merek pun masuk ke salah satu ruangan khusus yang sudah menyiapkan pesanan Nyonya Celine sebelumnya.
Saat Fatma masuk ke dalam ruangan itu, ia dibuat takjub melihat salah satu gaun pengantin yang menurutnya sangat indah dan anggun, sederhana tapi elegan.
"Mari, Nona. Saya bantu pasangkan," ucap staf itu menyadarkan Fatma dari lamunannya.
__ADS_1
"A–apa? Gaun ini, gaun ini untuk saya pakai?" tanya Fatma, tidak percaya dengan perkataan staf barusan.
Stafa itu terkekeh pelan mendengar pertanyaan kliennya. "Tentu, Nona. Ini adalah gaun khusus yang dirancang oleh Nyonya Selin beberapa bulan yang lalu," jawab staf itu sedikit menerangkan.
"Apa? Bagaimana? Maksudnya bagaimana bisa Mommy menyiapkan gaun ini tanpa sepengetahuan ku?"
"Maaf, Nona. Untuk hal itu saya tidak mengerti apapun," jawab staf itu penuh dengan penyesalan.
sebaiknya aku tanyakan nanti pada Mommy dan Mas Rey tentang semua ini, batin Fatma. Ia pun akhirnya mengikuti arahan staf itu untuk mencoba gaun yang sudah disediakan oleh mertuanya.
Setelah beberapa saat kemudian, Fatma pun sudah menggunakan gaun itu dan memperlihatkannya pada sang mertua.
"Sudah ku duga, gaun ini sangat cocok denganmu," ucap Nyonya Celine penuh dengan kebanggaan di hatinya.
"Mom, apa ini tidak berlebihan?" tanya Fatma sambil melihat dirinya di dalam cermin. Sebenarnya ia juga begitu takjub saat melihat daun yang kini menempel di tubuhnya, ia masih tidak percaya jika kini gaun yang pernah menjadi khayalannya sudah ia pakai, bahkan modelnya lebih bagus dari yang ia impikan.
Aku yakin, Rey akan sangat terpesona saat melihat istrinya nanti, batin Nyonya Celine sambil tersenyum penuh arti.
Saat mereka masih memperhatikan gaun yang Fatma pakai, tiba-tiba datang seseorang dari pintu dan membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Say–"
Reymond mematung saat melihat wanita yang begitu cantik dengan balutan gaun indah di tubuhnya, bahkan untuk beberapa detik ia tidak mengedipkan matanya.
"Rey, kenapa kamu kemari?" tanya Nyonya Celine sambil menyentuh bahu sang anak yang masih terdiam saat melihat istrinya.
"Hah?" Reymond seketika blank, pikirannya tiba-tiba kosong dan hanya tertuju pada satu orang di depannya yang juga melihat ke arahnya.
Nyonya Celine dan staf yang tadi membantu Fatma pun terkekeh pelan, sedangkan Fatma sendiri sudah tersipu malu saat mendapat tatapan dari sang suami, bahkan kini wajahnya sudah memerah.
__ADS_1
"Rey ingat istrimu!" ucap Nyonya Celine untuk menyadarkan sang anak dari lamunannya.
"Aku ingat, Mom." Reymond menjawab sambil melangkah mendekati wanita cantik tersebut.
Nyonya Celine menggeleng pelan, ia pun meminta staf yang bertugas di sana untuk keluar terlebih dahulu dan memberikan waktu pada sepasang suami istri itu.
"Jangan lama-lama, Rey. Mommy dan Ayunda belum selesai!" Nyonya Celine memperingatkan sang anak.
"Iya, Mom."
Nyonya Celine dan staf pun keluar dari ruangan itu, mereka meninggalkan Reymond dan Fatma di dalam.
Sepeninggalan Nyonya Celine, Reymond segera menghampiri sang istri yang masih menunduk karena gugup. Reymond terus memperhatikan istrinya sambil tersenyum.
"Kamu begitu cantik," ucap Reymond seraya menggapai tangan Fatma yang saling bertaut.
"Terima kasih," ucap Fatma sedikit berbisik tanpa memandang suaminya.
Reymond menyentuh wajah Fatma dan menangkupnya agar bisa menatapnya langsung. Fatma kian gugup, ia sampai memejamkan matanya.
"Sayang, tatap aku!" pinta Reymond dengan tegas.
Mau tak mau, Fatma pun mengikuti perintah suaminya, perlahan ia membuka matanya dan langsung bertatapan dengan Reymond.
"Kamu begitu cantik dan baik, aku beruntung bisa mendapatkan kesempatan kedua darimu," ucap Reymond sambil terus menatap sang istri.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menerima wanita yang tidak sempurna ini," ucap Reymond sambil menggenggam tangan Reymond yang masih berada di wajahnya.
"Tidak, sayang. Dimataku kamu begitu sempurna, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah diberikan kesempatan olehmu untuk memperbaiki semuanya." Reymond berucap sambil mengecup kening istrinya dalam dan penuh perasaan. Setelah itu mereka pun saling berpelukan dan saling mencurahkan kasih sayangnya.
__ADS_1