Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 73


__ADS_3

Fatma meminta pada Reymond untuk bertemu dengan Rumi, ia merasa tidak enak hati atas perlakuan yang sudah Reymond lakukan pada wanita itu.


"Ayolah, Mas. Aku hanya ingin menemuinya sebentar saja." Fatma terus memegangi tangan suaminya agar mengijinkannya untuk bertemu dengan Rumi.


Reymond menggeleng pelan, jelas-jelas ia tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi. "Sayang, aku sudah berkata jujur padamu. Aku sudah mengirimkannya kembali ke negara A dan saat ini dia sudah pergi bersama dengan Zen."


Ya, Fatma memikirkan perbuatan suaminya sepanjang malam dan pagi ini dia berencana untuk menemuinya untuk terakhir kali, tapi benar yang Reymond katakan jika Rumi sudah pergi dari negara itu.


"Benarkah? Kapan mereka berangkat?" tanya Fatma yang belum mempercayai ucapan Reymond padanya.


Reymond menghembuskan nafasnya dengan kasar, andai posisi Fatma masih seperti dulu, mungkin kali ini dia akan kembali memarahi wanita yang kini jadi istri tercintanya itu.


"Tadi malam, sayang. Aku mengirimnya tadi malam langsung, setelah efek obat yang ku suntikan itu hilang."


Fatma menekuk wajahnya, ia terus-menerus merasa tidak enak terhadap Rumi.


"Tapi aku–"


"Bukan kamu yang salah. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf padanya dan apa yang sudah aku lakukan itu semata-mata untuk menjadikan dia jera, agar tidak berani macam-macam lagi padamu ataupun keluarga kita nanti," ujar Reymond, memberikan sedikit pengertian pada istrinya.


"Ya, aku tahu, Mas." Fatma bangkit dari duduknya dengan lesu, ia tidak bisa membantah suaminya itu. Lagipula apa yang dikatakan Reymond ada benarnya juga.


"Apa kamu marah?" tanya Reymond yang melihat istrinya menekuk wajah.


"Aku hanya menyesal karena tidak bisa meminta maaf padanya," jawab Fatma sambil berlalu dari samping Reymond.


"Sayang, aku punya kejutan untukmu," ucap Reymond sambil memegang tangan Fatma sebelum istrinya itu beranjak pergi.


"Kejutan apa, Mas?" tanya Fatma yang sudah kembali duduk.


Reymond tersenyum sembari merogoh salah satu kantong saku jasnya, ia menyodorkan sebuah kotak beludru kecil dihadapan sang istri.


"Beautiful ring for my wife," ucap Reymond sembari membuka kotak beludru itu.

__ADS_1


Fatma terdiam, ia masih terkesima dengan cincin yang Reymond hadiahkan untuknya. "Mas?!"


"Kamu wanita yang terbaik untukku, sayang."


"Ta–tapi bukankah ini terlalu berlebihan?" tanya Fatma yang masih menatap benda kecil berkilauan itu.


Reymond tersenyum dan menggeleng pelan, ia mengambil cincin dari dalam kotak itu dan memakaikannya di jari manis Fatma. Ia ingat saat mereka menikah waktu itu, tidak memberikan perhiasan apapun hanya uang tunai sebagai maharnya.


"Sangat cocok untukmu," ucap Reymond sambil mengecup pelan tangan istrinya yang baru ia pasangi cincin berlian itu.


"Mas, ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya." Fatma berucap sambil mencoba untuk mengeluarkan cincin itu dari jarinya.


Melihat Fatma yang hendak melepaskan kembali cincin itu, Reymond segera menghalanginya. "Jangan dibuka, sayang. Anggap saja ini adalah salah satu tanda pernikahan kita. Lagipula saat itu aku tidak memberikan perhiasan apapun padamu."


Fatma terdiam, ia mengurungkan niatnya untuk melepaskan cincin itu, karena seperti yang Reymond katakan, jika mereka memang tidak bertukar cincin atau apapun saat menikah.


"Baiklah. Tapi apa ini tidak berlebihan?" Fatma masih saja merasa jika apa yang sudah Reymond berikan padanya itu terlalu berlebihan.


"Tidak, sayang. Itu adalah model yang paling sederhana dan elegan, jadi tidak terlalu menonjol saat kamu memakainya untuk sehari-hari," jawab Reymond sambil terus memperhatikan cincin yang kini sudah terselip di jari manis istrinya.


"Oh, ya, aku lupa mengatakan jika Mommy dan Daddy besok akan datang kemari," ucap Raymond memberitahukan kabar kedatangan orang tuanya.


Seketika itu juga, Fatma membelalakan mata dan menutup mulutnya, ia sangat terkejut sekaligus bahagia saat mendengar berita kedatangan mertuanya itu, tentu saja ia sangat merindukannya karena sudah satu bulan lebih mereka tidak bertemu.


"Benarkah? Kenapa Mommy tidak memberitahukan hal ini padaku?" tanya Fatma dengan girang.


Reymond tersenyum senang, ia tahu jika istrinya itu sangat merindukan kedua orang tuanya, terutama sang mommy.


"Mungkin Mommy lupa, makanya beliau tidak memberitahukan mu," ucap Reymond sambil mengusap kepala Fatma.


"Aku tidak menyangka jika akan jatuh hati sedalam ini padamu, beruntung saat itu aku menikahi mu sah secara agama dan negara," batinnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang istri yang sedang berada dalam di sampingnya.


Fatma menunduk, ia tahu jika suaminya itu sedang memperhatikannya sedari tadi tampa berkedip. "Untung saja Tio dan Tantri sudah pad berangkat ke sekolah, jadi aku tidak di goda juga oleh mereka," batinnya sambil terus memperhatikan cincin yang baru ia pakai beberapa menit lalu.

__ADS_1


Hari ini Reymond memilih cuti kerja dan menyerahkan semua pekerjaan pada Zio, dia ingin menghabiskan waktunya di rumah dengan Fatma, istrinya. Reymond sendiri mengambil cuti tanpa sepengetahuan istrinya.


"Mas, kamu tidak ke kantor?" tanya Fatma karena merasa heran dengan sang suami yang tidak biasanya selalu ada di rumah saat siang hari.


"Tidak, hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Reymond sembari merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan kepala berada di pangkuan Fatma.


Reymond mengambil tangan Fatma dan meletakkan di atas kepalanya. "Sekarang giliran ku yang mau bermanja-manja padamu," ucapnya.


Fatma tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia pun melakukan hal yang diinginkan oleh Reymond, yaitu mengusap kepalanya.


"Sejak kapan kamu jadi manja seperti ini, Mas?"


"Entahlah, mungkin karena aku sedang ingin dimanja saja."


"Apa kamu memang tipe orang yang suka bermanja-manja?" tanya Fatma merasa penasaran.


Reymond bangkit dari tidurnya, ia menyuruh Fatma untuk tiduran seperti yang tadi ia lakukan. Tanpa menolak, Fatma pun mengikuti arahan suaminya yang menyuruhnya berbaring, Reymond juga mengusap pelan kepala Fatma.


"Bagaimana. Apa kamu menyukainya?" tanya Reymond tanpa menghentikan kegiatannya.


Fatma memejamkan matanya, ia meresapi setiap sentuhan suaminya. "Sudah lama rasanya aku tidak merasakan usapan di kepala, sejak terakhir kali ibu dan ayah melakukannya sebelum meninggal," batinnya.


"I–iya, ini nyaman." Fatma berucap sambil bangkit dari tidurnya dan duduk kembali, ia tak kuasa menahan air mata yang begitu saja mengalir di pipinya karena mengingat ibu dan ayahnya yang sudah tiada.


Reymond yang melihat sang istri mengusap sudut matanya, merasa tidak nyaman. "Apa aku sudah melukainya?" tanya dalam hati.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa menangis? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" tanya Reymond khawatir seraya menarik sang istri kedalam dekapannya.


Dipelukan Reymond, Fatma menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Mas. Tidak apa-apa."


"Lalu kenapa kamu menangis?"


"Aku ... aku hanya teringat ayah dan ibu." Tangisan yang tadi Fatma bendung, akhirnya tumpah juga. Ia memang sangat merindukan kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


Reymond kini semakin merasa bersalah, karena sudah membuat istrinya menangis. "Sayang, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih."


Reymond memeluknya terus hingga beberapa saat, sampai tangisan Fatma reda, barulah ia melepaskan pelukannya.


__ADS_2