
Reymond, Fatma dan Nyonya Celine pun pulang ke mansion setelah selesai dari butik itu, di sana juga sudah ada Tio dan Tantri yang menunggu kedatangan mereka.
"Tio, Tantri, kapan kalian datang?" tanya Fatma saat ia melihat kedua adiknya sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Aku yang meminta Zio untuk menjemput mereka," jawab Reymond yang berdiri tepat di belakangnya.
"Oh, baiklah." Fatma segera melangkah dan menghampiri kedua adiknya itu.
"Kakak habis dari mana?" tanya Tantri saat Fatma sudah duduk di sampingnya.
"Kami baru pulang dari boutique," jawab Fatma.
"boutique?" tanya Tantri yang belum mengetahui tentang rencana resepsi yang akan mereka adakan.
"Iya kita akan mengadakan resepsi pernikahan untuk Kakakmu dan juga Mas Rey," jawab Nyonya Celine yang ikut duduk bersama mereka.
"Wah, selamat ya, Kak! Kami ikut bahagia mendengarnya," seru Tio dengan girang.
Tio sangat bahagia saat mendengar kakak perempuannya akan mengadakan resepsi pernikahan dengan suaminya, ia dari dulu sangat berharap supaya Kakak perempuannya itu bisa hidup bahagia selamanya.
"Terima kasih, Yo." Fatma menjawab sambil memeluk kedua adik-adiknya.
Nyonya Celine terharu menatap tiga saudara didepannya, begitupun dengan Reymond yang duduk di sebelah Nyonya Celine.
"Hey, apa kalian tidak ingin memelukku juga?" tanya Reymond pada istri dan juga adik-adik iparnya.
Nyonya Celine memandang aneh anak semata wayangnya, pasalnya tidak biasanya Reymond menginginkan hal seperti itu, karena biasanya Reymond lebih memilih untuk rebahan di atas pangkuan daripada dipeluk. Nyonya Celine dengan jahil menyentuh kening anaknya yang langsung ditepis pelan oleh Reymond.
"Apa, sih, Mom? Aku sedang tidak sakit," ucap Reymond dengan menggerutu.
__ADS_1
"Oh, ya? Mom kira kamu sedang sakit, makanya minta ikut peluk-pelukan," jawab Nyonya Celine sambil terkekeh pelan.
Fatma dan adik-adiknya pun ikut terkekeh saat melihat Reymond dengan wajah tertekuk. Mengetahui dirinya ditertawakan oleh istri juga adik iparnya, Reymond semakin menekukkan wajahnya dan segera berlalu menuju kamar yang ia tempati bersama sang istri.
"Nah lho, Kak. Mas Rey marah ...."
"Lho, kok Kakak, sih? Kalian juga salah," jawab Fatma yang tidak terima jika dirinya hanya yang disalahkan.
Nyonya Celine menggeleng pelan sambil tersenyum, ia mengetahui jika anaknya tidak benar-benar kesal, jadi hanya membiarkannya saja.
"Sudah. Ayunda, lebih baik kamu segera menghampiri Rey untuk membujuknya." Nyonya Celine berucap sambil bangkit dari duduknya untuk beristirahat di kamar, sedangkan Tio juga Tantri ikut meninggalkan Fatma dan segera memasuki kamar yang akan mereka tempati di mansion itu.
Aih, mereka curang, gumam Fatma sembari melangkah menuju kamar di mana Reymond berada.
Fatma melihat suaminya sedang duduk memunggunginya di sofa sana, ia pun mulai melangkah dan mendekatinya.
Reymond menyadari kehadiran istrinya, tapi ia memilih diam saja dan membiarkan Fatma untuk berusaha membujuknya. Melihat Reymond hanya terdiam, Fatma pun tidak kehabisan akal, ia segera menghampiri suaminya dan ikut duduk di sampingnya.
"Mas, maaf jika aku membuatmu kesal, aku tidak bermaksud seperti tadi. Maaf jika cara bercanda kami terlalu kelewatan menurutmu," sesal Fatma sambil memeluk tangan suaminya dan bersender di sana.
Mendengar cara bicara istrinya yang sedikit sedih, Reymond pun tidak kuasa untuk mendiamkannya, ia pun segera merubah mimik wajahnya dan menatap sang istri dengan senyuman.
"Aku baik-baik saja, sayang. Maaf, tadi aku hanya menggoda mu saja. Aku sama sekali tidak marah taupun kesal padamu," ucap Reymond sambil membenarkan duduknya dan menghadap Fatma.
Seketika itu juga, Fatma memukul pelan lengan atas suaminya, ia kesal karena sudah di permainkan oleh Reymond yang berpura-pura marah padanya.
"Jadi tadi hanya pura-pura marah saja?" tanya Fatma yang langsung di angguki oleh suaminya itu.
"Ish ...! Aku sudah khawatir Mas akan marah padaku, tapi ternya Mas hanya menggodaku saja ...! Aku kesal padamu ...!" Fatma berdiri dan hendak pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk di sana.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf. Aku menyesal karena sudah menggodamu seperti tadi," ucap Reymond sambil memegang tangan istrinya yang sudah bangkit dari duduknya.
Fatma diam saja dan tidak menanggapi ucapan suaminya, kali ini ia akan balas dendam karena sudah mempermainkannya tadi. Tanpa berkata apa-apa, ia pergi dari sana menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat melihat istrinya masuk ke kamar mandi, Reymond pun mengikutinya dari belakang dan segera membuka bajunya. Fatma membelalakan matanya saat ia melihat sang suami membuka baju dihadapannya nya.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Fatma sedikit curiga dengan tingkah suaminya.
"Mandi." Reymond menjawab sambil mengedipkan matanya.
Fatma menggeleng pelan, ia pun pergi dari hadapan Reymond dan mengurungkan niatnya untuk mandi, membiarkan suaminya mandi terlebih dahulu.
Melihat istrinya yang berbalik arah, Reymond pun segera menghampirinya.
"Sayang, kamu mau ke mana? Kenapa tidak jadi mandi?" tanya Reymond sambil memegang tangannya.
"Bukankah Mas mau mandi terlebih dahulu? Silakan saja, aku akan duduk dan menunggu," jawab Fatma sambil menunjuk ke arah sofa yang tadi ditempati oleh Reymond.
"Tidak. Ayo ikut mandi bersamaku ...!" perintah Reymond sambil menarik pelan tangan istrinya.
"A–apa? Mandi bersama? Tidak, aku tidak mau," tolak Fatma sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.
"Ayolah, sayang. Kali ini saja," ucap Reymond sedikit memaksa.
"Ta–tapi aku ... aku malu, Mas," jawab Fatma sambil menunduk.
Reymond menghampiri Fatma dan memeluknya. "Tidak perlu malu, sayang. Lagipula kita sudah pernah melaukan hal yang lebih, jadi untuk apa masih merasa malu?"
Fatma terdiam, ia benar-benar belum berani jika harus mandi bersama suaminya. Keterdiaman Fatma dimanfaatkan Reymond untuk langsung menggendong istrinya ke kamar mandi, sedangkan Fatma sudah tidak bisa menolak lagi, akhirnya merekapun mandi bersama.
__ADS_1