Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 66


__ADS_3

Sore itu, Fatma sedang merapikan tanamannya yang yang berada di halaman rumah depan pintu pagarnya. iya terlalu bosan jika harus duduk diam di dalam rumah. Maka dari itu ia meminta izin pada Reymond untuk membiarkannya mengurus tanaman hias di depan rumah mereka.


Saat ia sedang fokus pada tanamannya, tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan kertas berisi batu yang hampir saja mengenai kepalanya.


Pluk (Anggap aja itu suara batu yang dilempar 🤭🤭)


"Ya Tuhan, siapa orang yang iseng melemparkan batu kemari?" tanya Fatma terkejut. Untung saja ia sempat menghindar dan batu itu tidak sampai mengenainya.


Fatma penasaran dengan isi tulisan yang ada pada kertas itu, ia pun duduk sambil membawanya untuk melihat isi tulisannya.


'JAUHI REYMOND JIKA KAMU INGIN KEDUA ADIKMU SELAMAT!'. Begitulah kira-kira isi tulisan yang ada pada kertas itu. Fatma mencengkram erat kertas itu hingga membuatnya sangat kusut.


Mbak Rumi, kamu benar-benar tidak bisa disikapi dengan lembut, geram Fatma yang sudah menduga jika itu adalah perbuatan Rumi.


Fatma pun menyimpan kertas itu serta membuang batunya, ia akan memperlihatkan kertas rusak itu pada Reymond, saat suaminya sudah pulang nanti.


Setelah selesai merapikan kebun bunganya, Fatma pun segera masuk kembali ke rumahnya, dia harus menyiapkan makan malam untuk suami dan kedua adiknya yang sebentar lagi akan pulang.


"Nyonya muda, maaf ganggu. Nyonya Celine barusan menelpon, Nyonya di minta untuk menelpon balik jika sudah selesai merapikan kebunnya." Lapor bibi. Ternyata saat Fatma sedang berkebun, Nyonya Celine menelponnya.


"Kenapa Mommy tidak menungguku, Bi?" tanya Fatma.


"Beliau katanya tidak mau mengganggu anda, Nyonya." Bibi membungkuk untuk meminta maaf.


Fatma pun tidak mempermasalahkan hal itu, ia segera membersihkan dirinya. Sedangkan untuk memasak, ia meminta bibi yang memasak terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumahnya.


Setelah selesai membersihkan badannya, Fatma pun segera mengambil ponsel untuk menelpon mama mertuanya, beruntung Reymond sudah menyimpan semua kontak yang menurutnya penting dan perlu ada di ponsel baru milik istrinya itu.


Setelah menunggu beberapa menit kemudian, barulah Nyonya Celine menerima panggilannya di seberang negara sana.


"Halo, Mom, apa kabar?" tanya Fatma dengan riang, ia sungguh merindukan mama mertuanya itu.


"Halo juga, sayang. Kabar Mommy baik. Bagaimana kabarmu dan Rey di sana?" tanya Nyonya Celine yang sama halnya dengan sang menantu, ia juga sangat merindukannya.


"Kami disini baik-baik saja, Mom," jawab Fatma.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas dari seberang sana, Nyonya Celine mengetahui tentang masalah yang sedang dihadapi oleh anak serta menantunya itu.


"Sayang, apa kamu tidak punya sesuatu yang ingin kamu bagi dengan Mommy?" tanya Nyonya Celine untuk memancing Fatma agar bercerita padanya.


Fatma tersenyum saat mendengar pertanyaan dari mertuanya, ia sudah mengira-ngira jika mertuanya itu sudah mengetahui semua masalah yang tengah ia dan Reymond hadapi.


"Aku tidak punya cerita apa-apa untuk dibagi dengan Mommy–" Fatma menarik nafasnya sebelum ia kembali berbicara, "–Hubungan ku dengan Mas Rey sudah baik-baik saja. Mommy tidak perlu mengkhawatirkan ku lagi," jawab Fatma sambil sesekali mengusap sudut matanya yang berair, iya terharu karena mertuanya itu begitu mengkhawatirkan keadaannya.


Nyonya Celine sedikit kecewa karena Fatma tidak menceritakan masalah yang tengah mereka hadapi padanya, tapi di sisi lain ia juga bangga karena ternyata Fatma tidak mudah menceritakan masalah keluarganya pada orang lain termasuk mertuanya sendiri.


A**pa sekarang ia sudah mulai belajar dewasa dalam menanggapi semua masalahnya? Ya, semoga saja seperti, batin Nyonya Celine yang terharu terhadap pemikiran Fatma saat ini.


"Benarkah? Hmmm, baiklah kalau seperti itu, Mommy senang mendengarnya. Semoga rumah tangga kalian selalu dalam keadaan yang baik dan tidak mudah tergoyahkan lagi." Doa Nyonya Celine terhadap rumah tangga anak dan menantunya.


Fatma kembali mengusap sudut matanya ia benar-benar terharu karena memiliki mertua yang sangat baik terhadapnya semenjak ia datang sampai saat ini pun Nyonya Celine tidak pernah membencinya, meskipun dulu ia mengetahui jika Fatma dan Reymond menikah atas sebuah kesepakatan, tapi kini kesepakatan itu sudah mereka selesaikan dengan cara melanjutkan kembali rumah tangganya.


"Terima kasih atas doanya, Mom."


"Sama-sama, sayang. Mommy pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kelangsungan rumah tangga kalian," ucap Nyonya Celine.


Kini Fatma semakin merindukan sosok mertuanya itu, andai mereka sedang berhadapan, mungkin saja Fatma sudah memeluknya.


"Mommy juga sayang padamu."


Setelah puas bercakap-cakap tentang banyak hal, Fatma pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia tahu jika mertuanya itu membutuhkan istirahat saat ini, apalagi waktu di sana juga sudah menunjukkan larut malam.


Saat ia baru selesai menelepon, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka oleh seseorang, ternyata Reymond sudah pulang bekerja, ia tidak menyambut kedatangan suaminya karena terlalu asyik menelepon Nyonya Celine.


"Kenapa tidak menyambutku?" tanya Reymond sambil memeluk pinggang istrinya.


"Maaf, Mas. Aku tidak menyadari kepulangan mu, karena tadi terlalu asyik berbincang dengan Mommy di telepon," sesal Fatma sambil membalas pelukan Reymond.


"Benarkah? Pantas saja tadi Mommy menelponku."


"Mommy telpon kamu juga, Mas?"

__ADS_1


"Iya, tadi Mommy menanyakan nomor telepon rumah padaku."


"Oh. Ya sudah, sekarang Mas segera mandi dulu setelah itu kita makan malam," ucap Fatma sambil melepaskan pelukannya dari sang suami.


"Baiklah."


Setelah melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Fatma pun segera menyiapkan baju dan menyimpannya di atas tempat tidur. Sedangkan ia sendiri segera turun ke lantai bawah untuk melihat keberadaan Tio dan Tantri.


"Tio, Tantri, kalian sedang apa?" tanya Fatma saat melihat kedua adiknya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menghadap laptop. Ya, setelah Tio dan Tantri ikut tinggal di rumahnya, Reymond memberikan semua fasilitas yang kedua siswa itu butuhkan.


"Kami sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru private tadi siang, Kak," jawab Tantri tanpa mengalihkan pandangannya dari layar itu.


"Oh, baiklah. Lebih baik sekarang kalian simpan dulu laptopnya sebentar lagi kita akan makan malam."


"Hmmm, iya, Kak." Anak-anak itu menjawab sambil merapikan kembali alat tulis serta laptop yang tadi mereka pakai.


Tak lama kemudian setelah Tio dan Tantri merapikan semua alat sekolah mereka, Reymond pun datang dan langsung mengajak mereka untuk makan malam.


"Jika kalian sudah selesai, sebaiknya kita segera makan malam," ucap Reymond saat ia melewati ketiga orang yang sedang berada di ruang tengah.


"Iya, Mas–" jawab Fatma dengan cepat. "Ayo kita makan malam dulu," ajak Fatma pada kedua adiknya yang langsung bangkit dari duduk dan berjalan mengekor di belakangnya.


***


Setelah makan malam dan berbincang sebentar dengan Tio dan Tantri, Reymond pun mengajak Fatma untuk segera beristirahat.


Sebelum mereka tidur, Reymond mengajak Fatma untuk berbincang mengenai Rumi dan masalahnya. Tidak lupa, Reymond juga menceritakan semua keadaan keluarga Rumi padanya.


"Maksud Mas, Mbak Rumi pernah menjadi pasien sakit jiwa?" tanya Fatma dengan tidak percaya sambil menutup mulutnya.


Reymond mengangguk pelan sebagai jawabannya. "Iya, menurutmu sekarang aku harus bagaimana?"


Fatma pun terdiam sejenak, ia juga merasa kasihan pada wanita itu l. Sebagai wanita, tentunya ia juga ingin mendapatkan perhatian dan perlindungan dari seseorang yang mampu menjaganya.


"Bagaimana jika sekarang kita bereskan dulu ayahnya, Mas? Setelah ayahnya di penjara, baru kita bebaskan Mbak Rumi? Ya, mudah-mudahan saja setelah mbak Rumi bebas dari ayahnya, tidak lagi mengganggu kita," ucap Fatma sambil sedikit memberi saran.

__ADS_1


Reymond langsung menyetujui saran dari istrinya itu. Sebenarnya hal itu sudah ia lakukan sejak tadi siang, hanya saja ia juga ingin mengetahui bagaimana pendapat istrinya.


"Baiklah. Lalu bagaimana dengan Rumi selanjutnya? Apa lagi dia sudah berani meneror mu seperti tadi."


__ADS_2