Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 67


__ADS_3

Setelah perbincangan mereka tadi malam, Reymond memutuskan untuk menemui Rumi dan mengajaknya bicara, ia berharap Rumi mau menceritakan semua masalah yang tengah dihadapinya tanpa harus melibatkan perasaan ataupun emosi. Tidak lupa, Reymond juga mengajak Fatma untuk menemaninya menemui Rumi, dia tidak ingin jika sampai terjadi kesalahpahaman lagi di antara mereka.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Reymond saat ia melihat sang istri tengah merapikan bajunya setelah ia duduk.


"Sudah, Mas. Mas sudah menelpon Mbak Rumi?" tanya Fatma sambil melangkah untuk menghampiri suaminya.


Reymond menggeleng pelan. "Aku tidak ingin berkomunikasi dengannya, tapi aku sudah menyuruh Zio untuk menjemputnya."


"Oh." Fatma pun mengangguk paham.


Setelah semuanya siap, barulah mereka pun keluar kamar bersama. Weekend ini mereka berdua ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Rumi, mereka tidak ingin jika masalah itu kian lama dan semakin panjang.


***


Di sebuah bangunan lain, lebih tepatnya di apartemen yang Rumi tinggali.


Hari ini ia begitu tampak bahagia, ia bahagia karena ternyata Reymond mengajaknya bertemu. Bahkan Reymond juga sampai mengirimkan orang untuk menjemputnya.


"Sudah ku duga, wanita itu pasti akan langsung menuruti keinginanku setelah diancam," gumamnya sambil terus memoles make up.


Sebelum pergi, ia juga menyempatkan diri untuk meminum pil penenang agar tidak mudah terpancing emosi jika nanti Reymond berbuat kasar padanya, karena hari ini ia akan menampilkan wajah yang penuh kesedihan.


"Sampai kapan aku harus terus meminum obat s***an ini?" tanya Rumi pada dirinya sendiri saat sedang bercermin sambil menggenggam botol obat itu.


Terkadang ia juga merasa muak dengan semua yang terjadi padanya, tapi ia tidak mempunyai pilihan lain, selain menerima semua itu. Apalagi saat ini hidupnya berada di bawah tekanan sang ayah yang selalu menekannya untuk melakukan semua hal yang diinginkan olehnya.


"Dasar pria tua s***an, aku sudah muak denganmu ...!" umpat Rumi penuh amarah.


"Jika saja Ibu ada, pasti aku tidak akan mengalami ini semua. Aku sangat membutuhkanmu, Ibu." Kini Rumi mulai menangis tersedu. Ia memang tumbuh dengan kekurangan kasih sayang sang ibu, yang mana hal itu menjadikannya bagai anak tanpa arah.


Setelah puas menangis, ia pun segera meminum pil itu dan merapikan kembali penampilannya, sebelum turun ke bawah untuk menemui sang sopir yang dikirimkan Reymond untuknya.


"Aku datang, Rey," seru Rumi sambil memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi Reymond yang terlebih dahulu mengajaknya bertemu. Ia akan menjadikan hal ini sebagai umpan untuk menjauhkan Reymond dari istrinya.

__ADS_1


"Jika Reymond tidak ingin pergi dari istrinya, maka aku akan membuat istrinya pergi menjauhi Reymond." Rumi berucap sambil menyunggingkan senyum misterius, ia juga tertawa jahat dalam hatinya.


Setelah semuanya siap, barulah ia keluar dari unit apartemennya. Dengan langkah anggun dan elegan, ia pun menghampiri mobil yang sudah terparkir di depan lobby apartemen itu.


Rumi mengetahui jika yang menjemputnya adalah asisten Zio, ia semakin mengembangkan senyumnya. Ia merasa jika Reymond benar-benar sudah memperlakukannya dengan spesial.


"Lihatlah, bahkan yang menjemputku saja asisten Zio langsung, berarti Reymond benar-benar sudah sadar jika aku adalah wanita yang paling berharga untuknya," gumam Rumi dalam hatinya disertai dengan senyuman sinis.


Zio menggeleng pelan saat ia menyadari jika Rumi sedang tersenyum sinis padanya.


"Silakan," ucap Zio mempersilakan Rumi untuk masuk kedalam mobilnya, ia memilih tidak mengatakan apa-apa dan tidak menanggapi tatapan sinis dari wanita yang berada di depannya itu.


"Sungguh wanita yang arogan, siapa yang menyangka bahwa dia adalah mantan pasien rumah sakit jiwa? Jika penampilannya saja sangat elegan seperti ini," batin Zio saat Rumi sudah masuk ke dalam mobil.


Zio mulai menjalankan mobilnya setelah ia memastikan Rumi duduk dengan tenang, ia melajukan kendaraan itu menuju salah satu restoran yang sudah disiapkan oleh Reymond.


Sepanjangan perjalanan, Zio bisa melihat jika Rumi tampak sangat bahagia. Tidak henti-hentinya wanita itu tersenyum, hingga membuat Zio merasa tidak nyaman.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di pengantaran restoran mewah dan megah. Rumi semakin mengembangkan senyumnya saat ia melihat area restoran sepi itu.


Dengan penuh rasa bahagia dan senang, Rumi melangkah memasuki restoran itu, di dalam sana pun ia disambut oleh seorang waitress yang bertugas mengantarkannya untuk ke ruang dimana Raymond berada.


"Selamat datang, Nona. Mari ikuti saya, Tuan Reymond sudah menunggu kedatangan anda," ucap waitress itu sambil mempersilakan Rumi untuk mengikutinya.


Rumi semakin merasa tersanjung saat ia mendengar jika Reymond sudah menunggunya.


"Baiklah, antarkan saya ke sana," pinta Rumi yang langsung di setujui oleh waitress itu.


"Baik."


Rumi pun mengikuti langkah waitress itu dari belakang. Hatinya tidak berdebar, tapi ya terus menyunggingkan senyumnya karena merasa puas dan juga senang.


"Sebentar lagi aku akan mendapatkan tangkapan ikan yang besar," batin Rumi semakin puas.

__ADS_1


Dari balik jendela temaram, ia melihat siluet seorang pria yang tengah duduk membelakanginya.


perlahan, waitress itu pun membukakan pintu kaca untuknya dan berkata, "Silakan masuk, Nona."


Tanpa mengucapkan terima kasih dan hanya mengangguk samar, Rumi pun memasuki ruang restoran VIP itu.


"Hay, Rey," sapa Rumi dengan riang, ia juga hendak mencium pipi Reymond. Sebelum akhirnya Reymond sendiri menghentikan ulah Rumi.


"Hentikan, Rumi. Aku memanggil mu kemari bukan untuk hal ini." Reymond berucap dengan dingin, bahkan ia juga melayangkan tatapan sinis pada wanita yang pernah menjadi kekasih hatinya dulu.


Wajah Rumi langsung di tekuk, ia kesal sekaligus malu karena tindakannya di tolak Reymond.


"Kenapa kamu berubah, Rey?" tanya Rumi dengan nada rendah dan sehalus mungkin, disertai tatapan mata yang sudah berkaca-kaca.


Reymond tidak terpengaruh oleh tatapan itu, bahkan ia masih terduduk tenang di kursinya tanpa repot-repot menyambut kedatangan Rumi.


"Sudahlah. Langsung pada intinya saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi wanita sepertimu," ucap Reymond sadis.


Rumi sempat terkejut dengan ucapan Reymond, hanya saja ia tidak terlalu menanggapinya.


"Hmmm, benarkah? Lalu untuk apa kamu meminta bertemu denganku?" tanya Rumi sambil mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di hadapan Reymond.


"Aku menemui mu atas permintaan seseorang." Reymond berkata tanpa melihat lawan bicaranya.


Rumi mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Reymond.


"Permintaan seseorang? Maksudmu? Aku tidak mengerti."


Saat Rumi baru selesai berucap, tiba-tiba Reymond bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju pintu kaca dan membukanya.


"Kenapa lama, sayang?" tanya Reymond pada istrinya.


Rumi membulatkan matanya, ia tidak menyangka jika Reymond turut serta mengajak Fatma untuk bertemu dengannya. Rumi juga mengepalkan tangannya kuat-kuat, bahkan giginya saling beradu saking kesalnya.

__ADS_1


"Rey, kenapa kamu membawa dia saat berkencan denganku?" tanya Rumi sambil menunjuk ke arah Fatma.


Reymond menggeleng pelan dan tersenyum kecil. "Berkencan? Dalam mimpimu pun aku tidak sudi."


__ADS_2