
Perlakuan Reymond terhadap Fatma kini sudah berubah 180°, dia selalu memperhatikan istrinya dengan sepenuh hati, bahkan Reymond juga selalu menyuapi Fatma.
"Biar aku membantu mu," ucap Reymond sembari mengambil piring yang berada di pangkuan Fatma.
"Tidak perlu, Mas. Aku masih bisa melakukannya sendiri," tolak Fatma.
"Jangan membantah, atau aku akan melakukan hal yang lebih dari tadi," ancam Reymond yang membuat wajah istrinya memerah seketika.
"Ish, Mas ini. Jangan bahas itu lagi," rajuk Fatma yang sudah sangat malu.
Berbeda halnya dengan Reymond yang melihat reaksi sang istri, "Dia benar-benar menggemaskan saat malu-malu kucing seperti itu," batin Reymond menatapnya tanpa berkedip.
Fatma menutup wajah dengan kedua tangannya karena Reymond terus menatapnya.
"Mas, jadi suapin aku tidak? Aku sudah sangat lapar," ujar Fatma menyadarkan sang suami.
"Akh, iya, maafkan aku. Aku hampir lupa untuk menyuapi mu," sesal Reymond.
Dengan perlahan, Reymond pun mulai menyuapkan makanan itu pada Fatma dan sesekali dirinya ikut makan, suasana yang romantis. Mereka makan malam bersama dengan di iringi dengan candaan yang renyah. Tanpa mereka sadari, ada hati yang menatap sakit pemandangan itu.
Leandro mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang rawat Fatma, ia melihat sepupunya, Reymond sedang menyuapi istrinya dengan penuh perhatian.
"Hah, lagi-lagi Rey yang berhasil. Haruskah aku kembali menyerah?" batin Leandro sembari membelakangi pintu masuk itu.
"Lean, kenapa kamu tidak langsung masuk?" tanya Nyonya Celine saat melihat keponakannya masih berdiri membelakangi pintu masuk.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat, Aunty," jawab Leandro lirih.
Nyonya Celine menatap kasihan pada Leandro, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maaf karena lagi-lagi Rey yang memenangkannya," ucap Nyonya Celine sembari mengusap lengan Leandro.
"Bukan salahnya, Aunty. Mungkin memang nasib ku yang kurang beruntung seperti Rey," jawab Leandro.
"Aunty yakin, kamu akan mendapatkan seseorang yang tepat suatu hari nanti," ucap Nyonya Celine.
"Ya, semoga saja," jawab Leandro.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, barulah Nyonya Celine dan Leandro masuk bersama.
"Kalian, datang?" tanya Reymond.
"Tentu saja, tapi Mommy dan Lean tidak bisa berlama-lama," ucap Nyonya Celine.
"Kenapa, Mom? Apakah kalian sedang sibuk?" tanya Fatma.
"Iya, Mommy dan Lean harus menyusu Daddy ke negara B, kami akan berangkat malam ini juga," jawab Nyonya Celine.
"Benarkah? Berarti Mommy akan meninggalkan ku lagi?" tanya Fatma lagi dengan raut wajah yang sedih.
"Maafkan Mommy, sayang. Saat ini Daddy sedang sibuk-sibuknya, kami janji jika pekerjaannya sudah selesai, kami akan segera kembali lagi ke sini," ucapan Nyonya Celine seraya memberikan senyuman hangat.
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan," ucap Fatma pada mertuanya juga Leandro.
"Semoga kau cepat sembuh, Ayunda," ujar Leandro.
"Terimakasih, Tuan," jawab Fatma setengah membungkuk.
"Maaf karena aku tidak bisa mengantarkan kalian ke bandara," sesal Reymond seraya mengantarkan mereka ke arah pintu.
"Tentu saja kau tidak boleh menyaingi ku, karena selalu aku yang paling unggul dari mu," jawab Reymond disertai dengan kekehannya.
"Terserah kau saja, aku sudah tidak peduli lagi dengan mu," ucap Leandro sebelum ia benar-benar pergi dari sana.
Reymond menatap kepergian Mommy dan sepupunya, hingga mereka masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Setelah mereka benar-benar pergi dari lantai itu barulah Reymond kembali masuk ke dalam ruangan Fatma.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Fatma saat melihat Reymond yang sudah kembali.
"Sepertinya mereka baru sampai di lantai bawah, aku tidak mengantarkan mereka keluar gedung rumah sakit ini," jawab Reymond.
"Kenapa?" tanya Fatma dengan heran.
Reymond mulai melangkah menuju brankar tempat Fatma berada.
"Tentu saja karena aku tidak ingin meninggalkan mu terlalu lama," jawab Raymond sembari mengecup kedua tangan Fatma, yang mana hal itu langsung membuatnya tersipu.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, aku malu," ucap Fatma pelan.
Reymond tersenyum menatap wajah sang istri, meskipun tampak sedikit pucat, tapi itu tidak mengurangi kadar kecantikannya.
"Tidak perlu merasa malu, aku suami mu. Aku sangat mencintai mu dan sangat menyayangi mu," ungkap Reymond dengan lantang dan tidak kaku seperti kemarin siang saat pertama kali ia mengakui perasaannya.
Fatma tersenyum, ia belum berani mengungkapkan perasaannya, beruntung Reymond tidak menuntutnya untuk mengatakan hal itu.
Menurut Fatma, perasaan cinta itu masih membingungkan untuknya, apalagi dengan semua kejadian yang sudah ia alami. Meskipun pada akhirnya Reymond memilihnya, tapi perasaan cinta itu belum benar-benar ada untuk suaminya.
Reymond memeluk tubuh Fatma yang sedang terduduk di tempat tidurnya, sedangkan ia masih berdiri di samping brankar itu. Sesekali Reymond juga mengecup puncak kepala istrinya.
"Tuhan, aku tidak tau perasaan cinta itu seperti apa, yang pasti untuk saat ini, tolong jangan kau ambil kebahagiaan yang sedang kurasakan saat ini" gumam Fatma dalam hatinya.
"Mas, aku ingin ke kamar kecil," ucap Fatma tiba-tiba.
"Baiklah, aku akan membantu mu," jawab Reymond. Fatma mengira jika Reymond hanya akan menuntunnya ternyata salah, Reymond mengangkat tubuh Fatma dan menurunkannya hati-hati di depan pintu ke amar mandi itu.
"Mau aku temani didalam sana?" goda Reymond dengan menaik turun kan kedua alisnya.
Fatma cukup terkejut dengan pertanyaan Reymond, dia menyempatkan untuk mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan punggung tangan di atas kening suaminya.
"Tidak panas, tapi kenapa ucapannya ngelantur?" gumam Fatma pelan, tapi tetep terdengar oleh Reymond.
"Apa maksud mu, sayang? Aku sedang tidak sakit," ucap Reymond sembari meraih tangan Fatma yang masih di atas keningnya lalu mengecupnya, bahkan sesekali ia ******.
Perlakuan Reymond membuat Fatma membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan pria di depannya.
"Apa dia masih Tuan Reymond suami ku yang kejam, arogan, dan egois itu?" batin Fatma bertanya-tanya sendiri.
"Tu–mmmh, Mas, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fatma dengan heran.
"Aku sedang tidak baik-baik saja, ak–"
"Ya Tuhan, Mas, kalau kamu sedang sakit, harusnya segera di periksa. Jangan di biarkan begitu saja," oceh Fatma tiba-tiba menghentikan perkataan Reymond.
Reymond mendesah kasar, Fatma memang masih polos dan lugu. Ia masih tidak mengerti jika Reymond sedang menggodanya dan memberikan kode untuknya.
__ADS_1
"Sudahlah. Sekarang tuntaskan dulu apa yang menjadi niatan mu, aku akan menunggumu di sini," ucap Reymond seraya mendorong pelan bahu istrinya itu.
"Baiklah, anda tunggu di sana," pesan Fatma pada Reymond. Setelah itu barulah ia bisa masuk ke dalam kamar mandinya sebentar