
Raymond dan Fatma sudah bersiap untuk menjemput Mommy Celine dan Daddy Antony di bandara, mereka hanya datang berdua.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Reymond saat melihat istrinya sedang bercermin dan merapikan pakaian yang ia kenakan.
"Sudah, Mas." Fatma menjawab sambil menyambar tas yang sudah ia siapkan di atas kasur.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. sebentar lagi pesawatnya akan mendarat, jadi kita harus cepat," ucap Reymond sambil menggandeng tangan istrinya.
"Mas, Kak, kalian mau kemana?" tanya Tio yang sedang merapikan bukunya di atas meja depan TV.
"Kami akan menjemputmu Mommy dan Daddy dulu. apa kalian juga mau ikut?" tanya Reymond pada kedua adik iparnya.
"Tidak, Mas. Kami akan menunggu disini saja," jawab Tio sambil menggerakkan tangannya.
"Hmmm, baiklah. Kami pergi dulu, kalian baik-baik di sini." pesan Fatma dan Reymond yang langsung diangguki oleh Tio dan Tantri.
"Iya, Kak, Mas. Kalian juga hati-hati di jalan."
Tio dan Tantri pun mengantarkan mereka berdua sampai ke teras rumah dan melihat kepergian kakak juga kakak iparnya yang akan menjemput Nyonya Celine dan Tuan Antony di bandara.
Sepanjangan perjalanan, Fatma tidak henti-hentinya menghela napas panjang, ia sangat gugup dan juga tidak sabar untuk bertemu dengan mama mertuanya.
"Kenapa gugup seperti itu, sayang?" tanya Reymond yang melihat tingkah istrinya.
"Ti–tidak, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Fatma sambil memberikan senyuman agar Reymond percaya padanya.
"Baiklah. Ini, sebaiknya kamu minum dulu," ucap Reymond sambil memberikan sebotol air mineral yang selalu tersedia didalam mobil itu.
"Terima kasih." Fatma pun minum untuk menghilangkan kegugupannya.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Reymond saat melihat sang istri sudah selesai menghabiskan satu botol kecil air mineral itu.
__ADS_1
Fatma mengangguk sebelum menjawab, "Iya, Mas. Sekarang aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah," ucap Reymond sambil tersenyum, ia pun kembali memfokuskan perhatiannya perjalanan setelah memastikan Fatma baik-baik saja.
Sebenarnya, kedatangan Nyonya Celine dan Tuan Antony kali ini tidak hanya semata-mata ingin berkunjung saja, melainkan mereka juga dimintai tolong oleh Reymond untuk mempersiapkan kejutan bagi istrinya, Fatma.
"Mas, apa Mommy dan Daddy akan tinggalkan berlama-lama disini?" tanya Fatma setelah sekian lama ia terdiam.
"Hanya beberapa minggu kedepan saja. Setelah urusannya selesai, mereka akan kembali dan negara B," jawab Reymond tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan raya.
Fatma pun mengangguk pelan setelah ia mendengar jawaban dari suaminya. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di bandara itu. Ini pertama kalinya menginjakkan kaki di areal bandara.
Wah, sangat menakjubkan ... Bagaimana rasanya menaiki pesawat itu? Kapan aku bisa mencobanya? batin Fatma sambil menatap ke atas dan melihat pesawat yang baru saja lepas landas.
Raymond tersenyum saat memperhatikan istrinya yang sedang menengadah untuk melihat pesawat.
Setelah acara resepsi pernikahan kita selesai, aku akan membawamu berbulan madu ke luar negeri, aku janji.
"Sayang, ayo kita masuk dan tunggu mereka datang di dalam," ajak Reymond sambil kembali menggenggam tangan istrinya. Sedangkan Fatma sendiri hanya menurut dan mengikuti kemana arah Reymond membawanya.
"Mommy, Daddy ...!"
Reymond berseru dan menghampiri kedua orang tuanya diikuti Fatma yang berjalan di belakang suaminya.
Nyonya Celine segera berjalan cepat melewati sang anak dan menghampiri menantunya.
"Ayunda, Mommy sangat merindukanmu ...!" seru Mommy Celine sambil memeluk menantunya.
Reymond terbengong di tempat, ia kira Mommy-nya berjalan cepat untuk menghampiri dan memeluknya, tapi semua itu salah, saat dengan begitu saja ia dilewati oleh Mommy-nya itu.
Tuan Antony menggeleng pelan dan tersenyum, saat melihat anaknya yang terdiam karena tidak di peluk oleh Mommy-nya.
__ADS_1
"Son, sepertinya tempatmu sudah digantikan oleh istrimu, ya?" ucap Tuan Antony menatap ke arah Mommy dan istrinya berpelukan dan melepas rindu.
"Hmmm, sepertinya begitu, Dad." Reymond menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
"Sudahlah, ayo kita pulang sekarang," ajak Tuan Antony sambil mendorong pelan bahu sang anak untuk mengikuti istri-istrinya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka.
Saat sudah sampai di parkiran, barulah Nyonya Celine menengok kebelakang dan melihat suami beserta anaknya yang masih berjalan sedikit jauh dari dirinya.
"Hey, kalian berdua! Ayolah, cepat ...!" seru Nyonya Celine pada anak juga suaminya.
"Iya, Mom. Kami datang," jawab kedua orang pria dewasa yang berbeda generasi itu.
Reymond dan Tuan Antony pun mempercepat langkah mereka, untuk menghampiri istri-istrinya yang sudah menunggu di depan mobil.
"Kenapa lama?" tanya Mommy Celine yang kesal pada Reymond.
"Iya, maaf. Kalian mau aku antar ke mana? Langsung pulang ke mansion atau mampir ke rumah kami terlebih dulu?" tanya Reymond pada kedua orang tuanya.
Nyonya Celine terdiam sejenak, ia sangat merindukan menantunya, tapi ia juga sudah sangat lelah dengan badannya dan ingin segera berbaring untuk beristirahat.
"Kalian saja yang ikut ke mension, Mommybtidak ingin jauh-jauh dari Ayunda," jawab Nyonya Celine sambil menggandeng bahu Fatma.
Reymond menatap Fatma sejenak, ia meminta pendapat dari istrinya itu. Setelah Fatma mengangguk pelan, barulah Reymond menyetujui ajakan Mommy-nya.
"Baiklah, kami akan ikut bersama kalian."
"Bagus, ayo sayang kita masuk ke mobil," ajak Nyonya Celine lagi pada menantunya.
Mereka pun akhirnya masuk kedalam mobil, dan Reymond mulai menjalankannya menuju ke mansion sesuai dengan keinginan orang tuanya, ia dan Fatma akan ikut bersama mereka.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh para pelayan yang bekerja di sana, juga Pak Kus yang menjadi kepala pelayan mansion itu. Ini pertama kalinya Fatma mendapat sambutan hangat dari semua pegawai yang bekerja di sana.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Antony. Selamat datang juga Nyonya muda dan Tuan muda." Semua pekerja pelayan di sana, menunduk hormat saat menyambut kedatangannya.
Sepintas, ia terkenang masa lalu saat pertama kali dirinya memasuki area mansion itu, bahkan pandangan Reymond saat itupun masih ia ingat. Meskipun Fatma sudah memaafkannya, perasaan itu tetap ada dan masih ia ingat. Fatma menarik nafasnya panjang, biar bagaimanapun suaminya sekarang sudah berubah dan sudah mulai mencintainya, jadi ia juga harus mulai melupakan kenangan pahit itu dan menguburnya dengan kenangan manis yang akan dijalaninya nanti.