
Di kota lain, tepatnya di sebuah rumah kecil yang sederhana Nadira sedang merasa kesakitan, perutnya seakan diremas kencang dari dalam. Beberapa jam lalu dia baru saja keluar dari rumah sakit dengan terpaksa. Louis menjemputnya bersama Primabelle, putri kecil mereka.
"Lou, tolong aku. Ini sangat sakit sekali." Nadira merintih kesakitan
Louis merasa bingung, ia tidak bisa membawa Nadira untuk saat ini karena mereka sedang dalam pelarian, akan menjadi gawat jika mereka sampai ditemukan oleh orang suruhan Reymond ataupun Leandro.
"Tenanglah, Nad. Kamu hanya kecapean saja, nanti juga akan normal kembali setelah kamu beristirahat," ucap Louis.
"Tapi ini sangat menyakitkan, Lou. Aku tidak bisa beristirahat jika seperti ini. Lagipula kenapa kamu membawaku secara paksa? Keadaanku belum benar-benar pulih," jawab Nadira dengan kesal sembari menahan sakit yang sedang ia derita.
"Aku melakukan ini juga karena terpaksa, beberapa hari yang lalu aku melihat Nyonya Celine juga tuan Leandro sedang mengawasi gerak-gerik kita. Aku hanya tidak ingin jika kamu sampai tertangkap oleh mereka," ucap Louis.
"Tapi kenyataannya mereka selama ini hanya diam, Lou. Semua itu hanya ketakutan mu saja. Mereka tidak akan mungkin mencurigai kita karena kita memang sudah bercerai."
"Justru karena kita sudah bercerai, makanya mereka sangat mencurigai gerak-gerik mu yang selalu menghampiri tempatku," jawab Louis.
Nadira mendesah kasar, dia menyesal karena sudah mengikuti saran Louis untuk kabur bersamanya.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan?" tanya Nadira sudah putus asa, dia sangat merindukan Reymond suami siri-nya itu, tapi untuk saat ini perasaan itu tidak bisa ia ungkapkan.
"Sekarang kita akan tinggal di sini dan menjauh dari orang-orang itu, kamu tenang saja kedua orang tuamu sudah aku titipkan di panti jompo" ucap Louis memberitahukan tentang keberadaan kedua orang tua Nadira.
"Apa? Kenapa mereka harus di panti jompo?" tanya Nadira terkejut dengan pemberitahuan Louis.
"Aku sudah menjual rumah milik kedua orang tuamu, sehingga aku bisa membawamu pergi saat ini," jawab Louis.
Louis ingat jika Nadira pernah memberikan surat rumah beserta tanah milik kedua orang tuanya pada dirinya, dan baru sekarang ia memanfaatkan surat-surat itu.
"Ta–tapi kenapa kau melakukan semua itu, Lou?" tanya Nadira yang ingin mengetahui alasan yang menjual rumah beserta tanah milik orang tuanya.
"Aku butuh biaya untuk kehidupan kita di sini, lagipula tinggal beberapa bulan lagi sampai kamu melahirkan anak kedua kita," jawab Louis.
Nadira tidak menyangka jika Louis akan senekat itu untuk bisa memiliki dirinya. Dia memang mencintai Louis, tapi dia tidak menyangka jika Luis bisa memanfaatkan harta milik orang tuanya hanya untuk sekedar alasan bertahan hidup, padahal dirinya masih bisa bekerja.
"Lou, kamu sampai tega melakukan hal itu pada orang tuaku hanya untuk alasan bertahan hidup? Kenapa kamu tidak mencari kerja saja untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari selama di sini? Kenapa harus menghabiskan harta milik orang tuaku?" tanya Nadira dengan geram.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik untuk bekerja pada orang lain lagi, cukup sekali aku dulu bekerja pada perusahaan milik suamimu sekarang, dan aku tidak mau melakukannya lagi," jawab Louis.
"Tapi kenapa, Lou?" tanya Nadira lagi karena ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Louis.
"Apa kamu tidak ingat? Siapa yang dulu memaksaku untuk melakukan korupsi? Sampai-sampai aku kehilangan pekerjaan saat itu juga, dan masih beruntung karena aku tidak dimasukkan kedalam penjara," jawab Louis ia mulai sedikit kesal dengan pertanyaan Nadira.
"Aku tahu dulu itu adalah kesalahanku, tidak perlu kamu ingatkan lagi sekarang." Nadira geram karena Louis menyalahkannya.
Perdebatan di antara mereka terus berlangsung hingga ada seseorang yang mengetuk pintu rumah itu.
"Lou, siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Nadira dengan cemas.
"Aku juga tidak tahu, Nad. Kamu tunggu di sini bersama Belle, aku akan melihatnya ke depan," jawab Louis seraya bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu rumah.
Ceklek...
Louis begitu terkejut melihat tamu yang datang mendatanginya.
"Tu–tuan Reymond?" tanya Louis dengan gugup.
***
Tidak lupa Raymond juga sudah berpamitan pada Fatma dan Nyonya Celine sebelumnya. Setelah mereka berpamitan, barulah Raymond dan Leandro pergi.
"Lean, apa kau sudah menemukan keberadaan mereka?" tanya Reymond pada Leandro.
"Aku sudah menemukan alamat lengkap rumah mereka yang baru," jawab Leandro.
Reymond tidak habis pikir dengan tindakan Louis, ia tega menempatkan orang tua Nadira di panti jompo dan meninggalkan mereka tanpa memberikan sepeser pun uang.
"Lean, menurut mu, apa alasan mereka melakukan hal itu? Maksud ku, kenapa Nadira sampai memanfaatkan ku seperti itu?" tanya Reymond.
Leandro mendesah kasar, ia tidak menyangka jika sepupunya itu ternyata cukup b*d*h dalam hal percintaan.
"Tentu saja karena menurutnya kau itu sangat mudah di dekati dan mudah untuk di manfaatkan," jawab Leandro dengan kesal.
__ADS_1
Reymond terdiam mendengar jawaban sepupunya itu, memang benar jika dia mudah terpancing oleh wanita cantik, apalagi jika wanita itu berkata dengan tutur yang lembut.
Jika di bandingkan dengan Fatma, Nadira mungkin akan menang. Nadira yang selalu berpenampilan menarik, wangi, rapih, dan juga pandai menarik lawan bicaranya dengan tutur kata yang lembut. Tetapi itu semua hanya kedok agar Reymond tertarik padanya.
"Hmmm, benar juga jawaban mu. Dia memang pandai mencari perhatian ku, sampai-sampai aku jatuh dalam perangkap dan mencintainya," ucap Reymond.
"Ya, itulah kau." jawab Leandro.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Leandro saat ia melihat Reymond yang terdiam dengan lamunannya.
"Tentu saja aku akan menceraikannya, aku tidak sudi jika harus kembali berhubungan dengannya" jawab Reymond dengan bergidik j***k.
"Huh, ku fikir kau akan kembali padanya dan memaafkannya. Bukankah kau sangat mencintainya?" tanya Leandro.
"Sudahlah Lean, aku tidak ingin membicarakannya lagi," jawab Reymond.
Sepanjang perjalanan menuju ke alamat rumah Nadira yang baru, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang banyak hal, sampai tanpa mereka rasakan, mereka sudah sampai di depan rumah itu.
Reymond segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah itu.
***
"Dimana wanita itu?" tanya Reymond dengan marah saat pintu itu terbuka dan menampilkan Louis dengan wajah terkejutnya.
"Di–dia–"
Belum sempat Louis menjawab pertanyaan Reymond, Nadira sudah berteriak dari dalam salah satu kamar yang tersedia di sana.
"Akkkkhhhh."
Teriakan Nadira sangat nyaring, membuat Reymond beserta beberapa orang yang ia bawa segera membuka kamar itu.
Reymond melihat Nadira yang terduduk dengan kaki yang sudah dialiri d**** di sebelah anak kecil yang sedang menangis.
"To–tolong!" ucap Nadira sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.
__ADS_1