
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Fatma terdiam dan tidak banyak bicara karena sibuk dengan gulalinya sendiri sampai-sampai Reymond ia acuhkan.
Reymond sedikit kesal pada Fatma, karena istrinya itu sama sekali tidak berniat menjelaskan tentang pria yang tadi mengajaknya ngobrol di parkiran rumah sakit.
"Ehemm"
Reymond berdehem untuk mengalihkan perhatian Fatma dari gulalinya. Tapi, bukan Fatma namanya jika ia langsung mengerti dengan kode dari Reymond.
"..."
"Ehemm"
"..." Masih hening, Fatma masih anteng bersama makan manis yang terbuat dari bahan gula itu.
"Ehemm" hingga tiga kali Reymond berdehem, barulah Fatma meliriknya.
"Apa anda sedang sakit tenggorokan, tuan?"
"Apa? Dia hanya bertanya itu saja?" batin Reymond meringis karena nyatanya Fatma tidak mengerti dengan kode yang dimaksudnya.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya kamu sangat menikmati gulali itu?" tanya Reymond dengan nada kesal.
"Tentu saja aku menikmatinya, tuan" jawab Fatma.
"Siapa pria yang tadi mengajak mu berbicara?"
"Oh, itu kak Danis"
"Aku tau namanya, yang aku maksud bagaimana bisa dia kenal dengan mu? Seingat ku, waktu pertama kali kita bertemu bahkan kau tidak mengenali ku"
"Dia hanya teman masa kecil ku"
"Benarkah?"
"Anda mulai mencurigai ku lagi, tuan?"
"Tentu saja. Aku heran bagaimana kau bisa kenal dengan pria-pria yang cukup sukses, padahal aku tahu bagaimana lingkungan hidup mu"
"Apa anda sudah selesai bicara tuan?"
"Apa maksudmu?"
"Sampai kapan anda akan mencurigai saya? Jika memang anda keberatan dengan saya yang bisa kenal banyak orang, kenapa anda masih mempertahankan saya?"
Reymond mulai emosi dengan perkataan Fatma, ia pun segera menepikan mobilnya supaya tidak membahayakan keselamatan mereka, hal itu dimanfaatkan oleh Fatma setelah mobil itu berhenti ya langsung keluar dan berlari menjauh dari Reymond.
__ADS_1
"Fatma tunggu...!"
"Kembali..."
"S***"
Raymond tidak dapat mengajar Fatma yang sudah menyebrang jalan raya dengan cepat meninggalkannya.
"Seharusnya aku tidak mencurigainya seperti tadi"
"Akh..."
Reymon berteriak kencang untuk mengeluarkan semua emosi yang ada dalam dadanya. Dia tidak lagi mengejar Fatma, dia yakin jika Fatma akan kembali ke rumahnya lagi.
Setelah merasa lebih tenang, Raymond pun kembali menjalankan mobil dan pulang menuju mansion-nya.
***
Fatma terus memaksakan dirinya untuk jalan saat ia keluar dari mobil milik Raymond tadi.
"Kenapa? Kenapa dia hanya bisa mencurigai ku saja? Kenapa dia selalu menilai buruk tentang diriku?"
Fatma berhenti di salah satu bangku taman yang tidak ia ketahui di mana tempatnya, ia berjalan selama hampir satu jam tanpa melihat kanan kiri dan hanya mengikuti kata hatinya saja yang menyuruhnya untuk terus berjalan.
Dia menangis sendirian di bangku sana, hingga perutnya kembali terasa kram yang lebih sakit dari sebelumnya. Hingga seorang pengunjung taman menyadarkannya karena melihat darah yang mulai menetes pada bangku yang diduduki oleh Fatma.
Fatma pun mulai melihat arah yang ditunjukkan oleh ibu itu.
"Da–darah?"
Setelah mengucapkan itu Fatma pun mulai kehilangan kesadarannya. Ya, dia pingsan.
***
Fatma tersadar saat ia sudah berada kembali di rumah sakit lagi, ia melihat seorang pria yang tengah membelakanginya sembari menerima telpon dari seseorang.
"Ayunda, kau sudah sadar?" tanya Leandro.
"Dimana aku?" tanya Fatma saat ia mulai mengenali seseorang itu.
"Kau sedang di rumah sakit" jawab Leandro.
"Lagi?" tanya Fatma dengan wajah yang pucat.
"Apa maksudmu?" tanya Leandro tidak mengerti.
__ADS_1
"Pagi ini aku baru saja keluar dari rumah sakit" jawab Fatma dengan lemah.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Leandro.
Fatma tidak menjawabnya, ia memalingkan wajahnya dari Leandro.
"Tuan, bagaimana keadaan janin saya? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Fatma pelan, sebenarnya ia tidak berharap lebih, hanya saja harapannya pada janin itu masih ada.
"Kau keguguran, Ayunda. Kau mengalami pendarahan yang hebat akibat guncangan" jawab Leandro
Mendengar jawaban Leandro, air mata Fatma pun luruh seketika.
Flashback on
Saat itu mobil Leandro melewati sebuah taman, ia sangat penasaran di taman itu karena banyak orang yang berkerumun hingga menyebabkan macet, karena kesal menunggu Leandro pun turun dari mobilnya dan menghampiri kerumunan orang-orang itu
"Ayunda?" gumam Leandro saat ia menyadari ada seorang wanita yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan kaki yang sudah dialiri d****.
"Pa, tolong bantu saya mengangkat wanita itu, dia adalah teman saya, dan saat ini dia sedang hamil muda" ucap Leandro pada seorang bapak-bapak yang ikut berkerumun melihat kejadian itu.
"Baik, mas" Jawa bapak-bapak itu seraya membantu Leandro untuk mengangkat tubuh Fatma.
Setelah berhasil membawa Fatma ke dalam mobil, ia pun segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Sesampai di rumah sakit, Leandro pun segera membopong tubuh Fatma dan membawanya ke ruang UGD untuk ditangani oleh dokter.
Dengan setia, Leandro menunggu dokter memeriksa Fatma di depan pintu ruangan itu, dia juga tidak memberitahukan kabar pendarahannya Fatma pada Reymond. Karena Leandro yakin jika Fatma mengalami pendarahan itu akibat ulah dari saudara sepupunya.
Hampir setengah jam kemudian, barulah dokter keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan teman saya di dalam?"
"Apa saya bisa bicara dengan suaminya?"
"Suaminya sedang berada di luar kota, dia adalah istri dari sepupu saya. Saya yang bertanggung jawab selama beliau tidak ada disini, anda bisa menyampaikannya pada saya"
Dokter itu terlihat bingung dengan kabar yang akan disampaikannya.
"Sebenarnya, pasien mengalami pendarahan yang sangat berat. Mungkin sebelumnya pasien sempat berlari dengan cepat, sampai-sampai mengguncang perutnya dan mengakibatkan pendarahan. Janinnya belum cukup kuat untuk menerima guncangan itu dan mengakibatkan keguguran"
"A–apa? Apa kalian tidak bisa mengusahakan apa-apa?"
"Pendarahan hebat yang mengakibatkan keguguran itu tidak bisa kami cegah. Mohon untuk menandatangani persetujuan operasi ini, karena kami harus segera melakukannya" ucap dokter itu seraya memberikan kertas yang di bawa oleh perawat di sebelahnya.
Leandro tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujuinya, dengan berat hati, ia pun menandatangani surat itu. Setelah surat itu di setujui oleh Leandro, barulah dokter mulai melakukan semua prosedurnya.
__ADS_1
Cukup lama Leandro menunggu Fatma hingga ia siuman.
Flashback off