
Reymond terbangun dari tidurnya saat ia mencium sesuatu yang membuat perutnya keroncongan. Dia tertidur hingga waktu menunjukkan sudah petang, Fatma juga membiarkannya tertidur tanpa mengganggunya, bahkan Fatma sudah memberikan bantal padanya.
"Tuan, anda sudah bangun?" suara Fatma datang dari dapur yang tidak terhalang apapun, dia baru saja selesai dengan masakannya.
"Sudah. Terimakasih sudah membiarkanku untuk beristirahat di sini" ucap Reymond.
"Sama-sama" jawab Fatma.
Tepat saat itu Tio dan Tantri pulang, Fatma segera memeluk adik perempuannya itu.
"Kakak minta maaf karena sudah berkata kasar padamu" ucap Fatma di sela-sela pelukannya.
Tantri menangis saat mendengar kakaknya yang terlebih dahulu meminta maaf kepadanya, sedangkan saat itu dialah yang sudah bersalah dan sudah melontarkan kata-kata kasar kakak perempuannya itu.
"A–aku juga minta maaf kak, tidak seharusnya aku berkata kasar kepadamu waktu itu" ucap Tantri seraya membalas pelukan Fatma.
Reymond dan Tio menatap kedua adik kakak itu dengan haru, terutama Reymond yang tidak mempunyai saudara.
"Sekarang ayo kita masuk dan makan bersama, kalian pasti lelah, kan?" tanya Fatma pada kedua adiknya yang baru pulang dari sekolah.
"Iya kak, aku juga kangen sama masakan kakak" ucap Tantri dengan riang.
Tantri dan Tio pun masuk ke kamar untuk mengganti baju mereka, dan kembali berkumpul untuk makan bersama.
"Tuan, maaf jika makanan saya saya masak kurang membuat anda berselera, tapi di sini hanya seadanya saja" ucap Fatma saat ia mulai mengeluarkan makanan yang ia simpan dalam lemari penyimpanan tadi.
"Tidak apa-apa, Fatma. Aku berterimakasih karena kamu sudah mengijinkanku untuk ikut makan di sini, sebenarnya selama beberapa minggu ini selera makanku berkurang dan lebih banyak merasa mual saat melihat hidangan di atas meja. Aku juga tidak tahu alasannya" jawab Reymond sedikit menceritakan keadaannya. Ia masih belum sadar jika dari tadi dirinya tidak merasa mual saat bersama Fatma.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan makanan yang saya sediakan apa anda bisa memakannya, Tuan?" tanya Fatma sedikit menampilkan raut sedihnya.
Raymond memutarkan pandangannya menatap makanan yang sudah tersaji di depannya, bukan rasa mual yang ia rasakan, melainkan membuatnya menggugah selera.
"Tidak, aku sama sekali tidak merasa mual" jawab Reymond segera.
Raymond sedikit heran dengan dirinya lantaran makanan yang ada di depannya jauh dari kata mewah, yang tersaji di depannya hanyalah masakan rumahan yang umum.
Setelah berkumpul, tanpa menunggu lama Fatma pun mulai mengambilkan nasi ke piring milik Reymond. Ia melayani suaminya itu terlebih dahulu. Baru kali ini Reymond merasa dihargai dan diperlakukan seperti seorang suami, hatinya menghangat karena hal itu. Akhirnya mereka pun mulai makan malam tanpa suara.
"Fatma, terimakasih banyak, rasanya baru kali ini aku merasakan kembali makanan yang sangat menggugah selera aku. Masakan mu begitu lezat" puji Reymond.
"Anda terlalu berlebihan, tuan" jawab Fatma seraya membereskan piring kotor yang masih berada di depannya dengan di bantu Tantri.
"Aku tidak berlebihan berbicara, karena memang kenyataannya seperti itu" ucap Reymond.
Memang benar juga yang Reymond katakan, karena nyatanya ia menghabiskan hampir tiga piring nasi beserta lauk yang sudah disediakan oleh Fatma.
__ADS_1
"Terserah anda saja, tuan" jawab Fatma. Ia pun pergi meninggalkan Reymond bersama Tio, sedangkan dirinya dan Tantri kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor.
saat Fatma kembali dari dapur dan sudah selesai dengan pekerjaannya, ia masih melihat Reymond sedang mengobrol bersama Tio.
"Tuan, sekarang anda bisa tidur nyenyak dengan perut yang kenyang, jadi silahkan pergi dari sini" ucap Fatma mengusir Reymond.
Reymond segera menegakkan tubuhnya, ia kira Fatma sudah memaafkannya, tapi ternyata belum.
"Apa kau mengusir ku?" tanya Reymond.
"Iya, tuan. Saya dan adik-adik saya pun butuh waktu untuk beristirahat" jawab Fatma.
"Tidak bisakah kau membiarkanku menginap di sini saja? Aku makan terlalu banyak dan sekarang sudah mulai mengantuk" ucap Reymond pelan.
mendengar ucapan Reymond, Fatma membulatkan matanya.
"Tuan, rumah saya ini kecil, dan tidak ada kamar kosong juga" jawab Fatma memberi tahukan.
"A–aku bisa tidur bersama mu" jawab Reymond.
"Atau kalian saja yang ikut pulang bersama ku?" sambungnya lagi.
Tio yang mengerti keadaan segera menarik Tantri untuk meninggalkan Reymond dan kakaknya.
Reymond menghembuskan nafasnya dengan kasar, bener apa kata Fatma. Bisa saja ia menjadi khilaf saat bersama dengannya.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi bisakah besok pagi aku kembali lagi?" tanya Reymond dengan memohon.
Fatma menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak menerima tamu lagi, tuan" jawab Fatma.
"Tapi Aku bukan tamu mu, aku suamimu" ucap Reymond cepat.
"Tuan, saya sedang tidak ingin berdebat saat ini, jadi anda bisa pulang sekarang" usir Fatma lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu" jawab Reymond dengan lesu. Dia benar-benar tidak ingin pergi dari rumah Fatma.
Dengan pelan, Raymond pun melangkah keluar menuju mobilnya. Setelah melihat mobil Reymond benar-benar pergi, Fatma pun kembali masuk ke dalam rumahnya.
Baru sekitar tiga menitan Reymond pergi, pintu rumahnya kembali diketuk seseorang.
"Siapa yang datang malam-malam?" gumam Fatma seraya melangkah menuju pintu.
"Cepat buka pintunya, Fatma" teriak seseorang dari luar sambil terus menggedor pintunya.
__ADS_1
Ternyata yang datang bertamu malam-malam ke rumahnya itu adalah Bibi Fani.
"Bibi, ada apa?" tanya Fatma pada Bibi Fani.
"Mana Tantri?" tanya Bibi Fani dengan menengok ke dalam rumahnya.
"Tantri ada di dalam kamar. Memangnya ada apa, Bi?" tanya fatma dengan heran karena Bibi Fani sampai-sampai menyusul Tantri ke rumahnya.
Mendengar jawaban Fatma, Bibi Fani segera melangkah menuju kamar yang Fatma dan Tantri tempati.
"Tantri, ayo pulang ke rumah Bibi. Kenapa kamu datang kemari tanpa izin dulu pada Bibi?" tanya Bibi Fani pada Tantri dengan tergesa-gesa.
"Tantri mau di sini, Bi" jawab Tantri pelan.
'"Tidak, Bibi tidak izinkan kamu tinggal di sini lagi" ucap Bibi Fani.
"Kalau Tantri tinggal di sini lagi, Fatma pasti tidak akan memberi ku uang bulanan lagi" batin Bibi Fani.
"Tapi bi, aku mau tinggal sama kakak lagi" mohon Tantri.
Fatma tidak tega saat Bibi Fani memaksa adiknya untuk ikut pergi dengannya.
"Sudah Bi jangan paksa santri lagi" ucap Fatma.
"Diam kamu. kamu sudah membujuknya untuk tinggal di sini lagi, kan?" tanya Bibi Fani dengan menudingkan telunjuknya dihadapan wajah Fatma.
"Wajar Tantri tinggal di sini, Bi. Ini juga kan rumah dia" jawab Fatma.
"Tidak, Tantri tidak boleh di sini" tolak Bibi Fani.
"Apa yang sudah Bibi lakukan terhadap Tantri?" tanya Tio.
"Ti–tidak, a–aku tidak melakukan apa-apa padanya" jawab Bibi Fani dengan terbata.
"Memangnya apa yang sudah terjadi, yo?" tanya Fatma dengan heran saat melihat reaksi Bibi Fani terhadap Tio.
"Bibi Fani tidak memperbolehkan Tantri untuk tinggal di sini karena dia takut Tantri mengadu pada kakak" jawab Tio.
"Mengadu? mengadukan apa?" tanya Fatma tidak mengerti.
"Dia memaksa Tantri untuk tinggal di sana karena Bibi Fani bisa mendapatkan uang dari kakak"
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗
__ADS_1