Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 60


__ADS_3

Seperti biasa, tidak banyak yang Fatma lakukan hari ini selain menyiapkan semua keperluan Reymond dan memasak untuk mereka semua. Sedangkan pekerjaan rumah sudah di lakukan oleh bibi yang bekerja padanya.


Saat Fatma baru selesai memasak makan siang, telpon di rumahnya berdering nyaring. Dengan segera ia pun menghampirinya dan menjawab panggilan itu.


"Halo sayang," panggil Reymond dari sebrang sana.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Fatma saat ia sudah menjawab teleponnya


"Sebentar lagi jam istirahat dan aku merindukanmu. Bisakah kamu datang kemari?" tanya Reymond.


Fatma yang mendengar permintaan Reymond seketika pipinya langsung memanas merah, jantungnya pun ikut berdegup kencang. Ini memang bukan pertama kalinya Raymond mengucapkan kata-kata mesra padanya sejak terakhir kali mereka berbaikan, tapi tetap saja itu membuatnya gugup sekaligus malu.


"Sayang, apa kamu masih di sana?" tanya Reymond setelah beberapa saat tidak mendengar Fatma menjawab pertanyaannya.


"Akh, hmmm, i–iya, Mas. Aku masih di sini," jawab Fatma dengan gugup.


Tanpa Fatma ketahui, di seberang sana Reymond tengah tersenyum geli saat mendengar nada bicara istrinya.


Akh, andai saja saat ini pekerjaanku tidak banyak, aku ingin langsung pulang ke rumah dan memeluknya. Dia selalu tampak menggemaskan, meskipun aku tidak melihatnya langsung, tapi aku bisa membayangkan pasti saat ini wajahnya tengah memerah, batin Reymond.


"Bagaimana? Bisakah kamu datang kemari? I really miss you right now," mohon Reymond.


"Hmmm, baiklah. Aku akan ke sana. Mau sekalian ku bawakan makan siang?" tanya Fatma.


Reymond menimbang tawaran Fatma yang akan membawakan makan siang untuknya, tadinya ia pikir akan mengajak Fatma makan siang di luar. "Apa kamu yang memasaknya?" tanya Reymond. Jika itu masakan istrinya, dia akan senang hati untuk menerimanya.


Fatma refleks mengangguk, seakan-akan Reymond melihat apa yang dilakukannya. "Iya, aku baru saja selesai memasak. Tio dan Tantri sebentar lagi akan pulang, jadi aku memasak untuk mereka–" ucap Fatma menjeda perkataannya.


Reymond merasa sedikit kecewa karena ternyata Fatma bukan memasak khusus untuknya, melainkan untuk kedua adik-adiknya.


"–Aku pikir Mas akan pulang untuk makan siang di rumah. Jadi aku juga memasak makanan kesukaanmu," sambung Fatma. Seketika itu juga, wajah Reymond yang tadinya sudah muram, kini kembali cerah dan tersenyum lagi.


"Benarkah? Kamu juga memasak makanan kesukaanku?" tanya Raymond antusias.

__ADS_1


"Hmmm, iya, Mas."


"Baiklah. Kalau begitu, kamu segera bersiap. Aku akan mengirimkan sopir ke rumah yang akan mengantarkanmu kemari," ucap Reymond dengan senang.


"Iya, Mas. Aku tutup dulu telponnya."


"Oke, sayang. I love you," ucap Reymond sebelum ia menutup telponnya.


Fatma tidak menjawab ungkapkan cinta Reymond padanya, ia masih malu untuk mengakui perasaannya saat ini. Lagipula Fatma juga berpikir, terlalu cepat jika mengatakannya sekarang.


Tanpa menjawab ucapan Reymond lagi, Fatma pun menutup sambungan teleponnya dengan hati yang berdebar. Ya Tuhan jantungku, gumam Fatma sembari memegang dada sebelah kirinya.


Setelah kembali menetralkan degup jantungnya, Fatma pun segera menyiapkan makanan kesukaan Reymond dan mengganti pakaiannya. Tak lama setelah ia selesai mengganti pakaian, sopir yang Reymond kirimkan pun sudah tiba di halaman rumahnya.


"Bi, saya pamit keluar dulu. Jika Tio dan Tantri sudah pulang, katakan saja jika saya sedang mengirimkan makanan untuk Mas Rey." Fatma menitip pesan pada bibi yang bekerja di rumahnya, sebelum ia pergi.


"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan," jawab bibi itu.


Setelah berpamitan dengan bibi, Fatma pun segera menghampiri sopir yang sudah menunggunya.


"Terima kasih, Pak."


Fatma pun masuk ke dalam mobil dan membiarkan sang sopir untuk membawanya ke perusahaan milik suaminya. Dengan jantung yang masih berdebar kencang seiring perjalanan, ia berusaha untuk tetap tenang.


Rileks Fatma, kamu sekarang ini hanya mengunjungi suamimu, bukan untuk bertemu selingkuhanmu ataupun berbuat kesalahan lain, batin Fatma. Dia salah mengartikan degup jantungnya.


Sepanjang perjalanan, Fatma terlihat sangat gelisah karena gugup, berkali-kali ia menyeka keringat yang tidak sengaja mengucur di pelipisnya, sehingga membuat sang sopir penasaran dan bertanya, "Nyonya, apa anda baik-baik saja?"


"Sa–saya baik-baik saja, Pak." Fatma menjawab dengan gugup.


Sang sopir pun memberikan air minum yang masih tersegel pasa nyonyanya. "Sebaiknya anda minum dulu, Nyonya."


"Terima kasih, Pak." Fatma pun merasa lebih baik setelah ia minum.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka pun tiba di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Ini kedua kalinya dia mengunjungi perusahaan Reymond. Ia ingat saat pertama kali datang kemari itu karena dijemput dan diminta untuk mengikuti asisten Zio dan dipaksa untuk menikah dengan tuannya.


Saat mengingat itu Fatma pun tersenyum miris, tapi ia tidak bisa menyalahkan keadaan dan waktu, semua itu terjadi diluar kendali dan bukan kemauannya.


Sudah hampir setengah tahun berlalu, tapi ternyata rasa itu masih ada, ucapnya sambil tersenyum miris.


Fatma keluar dari mobil setelah sopir membukakan pintu untuknya, tepat di pintu lobby masuk perusahaan. "Silakan, Nyonya."


"Terima kasih, Pak."


Fatma dengan gugup dan mulai memasuki area lobby itu, ia mulai berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan ruang kerja Reymond, suaminya.


"Permisi, Kak. Maaf mau tanya, ruang kerjaTuan Rey ada di lantai berapa?" tanya Fatma.


Resepsionis itu bukannya menjawab pertanyaan Fatma, tapi dia malah memperhatikan penampilan Fatma dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak lupa matanya juga terlihat menyelidik, penampilan Fatma saat ini memang terkesan sederhana.


Apalagi saat ini dia hanya mengenakan dress bunga selutut dengan panjang tangan yang sepertiga, meskipun begitu tapi baju itu adalah milik keluaran salah satu brand ternama.


Fatma merasa risih ditatap resepsionis itu, ia semakin mencengkramkan tangannya pada paper bag yang ia bawa.


"Apa anda sudah membuat janji? Jika anda tidak membuat janji dengan Tuan Reymond, maka anda tidak bisa menemuinya," ujar resepsionis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Fatma.


"Janji? Tapi saya–" Belum sempat Fatma meneruskan perkataannya, tiba-tiba ia melihat wanita dewasa juga berdiri di sampingnya dan menanyakan ruangan Remon pada resepsionis itu.


"Bisa tolong tunjukkan ruangan Rey padaku?" tanya wanita dewasa itu, sekilas Fatma melihat jika resepsionis itu pun terkesima dengan penampilan wanita di sampingnya yang terkesan elegan dan mewah.


"Maaf, Nona, apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Raymond?" tanya resepsionis itu.


"Katakan saja padanya, jika aku Rumi datang untuk mengunjunginya," ucap wanita dewasa itu.


DEGH


Rumi? Berarti dia adalah wanita yang diceritakan Mas Rey kemarin malam, jadi dia benar-benar mengunjungi Mas Rey hari ini? Fatma bertanya-tanya dalam hatinya sembari melihat wanita yang ada di sampingnya itu.

__ADS_1


Resepsionis itupun segera menelpon Reymond dan mengabaikan Fatma yang sedari tadi menunggunya.


Setelah selesai menelepon tuannya, resepsionis itu pun mengalihkan kembali perhatiannya pada dua wanita yang mungkin jaraknya bisa ia lihat tidak terlalu jauh. Hanya saja penampilan mereka yang berbeda, jika rumit terlihat elegan dan anggun, maka Fatma terlihat lebih terkesan feminim dan imut, sangat cocok dengan usianya yang masih sembilan belas tahun.


__ADS_2