
"Berkencan? Dalam mimpimu pun aku tidak sudi,"
ucapan Reymond begitu menyakitkan untuk Rumi. Ia memandang sinis pada sepasang suami istri itu, ia merasa sudah dipermalukan dan dipermainkan oleh keduanya.
"Rey apa maksud dari semua tindakan mu ini!?" tanya Rumi dengan nada tinggi. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
"Mbak Rumi, tenanglah. Kami di sini hanya ingin membantumu, kami tidak mempunyai maksud ataupun niatan lain selain itu," ucap Fatma mencoba untuk menerangkan maksud mereka.
Rumi memandang sinis keduanya, ia mencibir dalam hatinya. "Cih, membantu? siapa yang membutuhkan bantuan mu? Aku menyuruhmu untuk menjauhi Reymond dan memberikannya padaku."
Fatma dan Reymond saling memandang, mereka sedikit khawatir jika Rumi sampai melakukan hal yang diluar dugaan.
"Rumi, kami benar-benar ingin membantumu untuk terbebas dari ayahmu," ucap Reymond membenarkan jawaban istrinya.
"Rey, kenapa kamu ikut-ikutan berbicara seperti itu? Aku baik-baik saja, yang aku inginkan hanyalah kamu!"
Rumi masih berusaha untuk menutupi semua yang terjadi pada dirinya dengan dalih hanya membutuhkan Reymond.
Fatma mencoba untuk mendekati Rumi agar wanita dewasa itu sedikit lebih tenang, juga untuk menjalin kepercayaan di antara mereka.
"Mbak, kami benar-benar ingin membantumu. Mbak bisa percaya pada kami," ucap Fatma sambil mencoba untuk meraih tangan Rumi. Namun, Rumi segera menepisnya, ia sama sekali tidak bisa mempercayai siapa-siapa saat ini.
Fatma tidak menyerah begitu saja, ia masih berusaha untuk meyakinkan Rumi. Setelah mendengar cerita dari suaminya kemarin, ia pun merasa iba dan kasihan pada wanita dewasa yang kini sedang berada di depannya. Ia berpikir jika Rumi melakukan hal itu hanya untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak mudah disakiti lagi orang lain, hanya saja dengan cara yang salah.
"Tahu apa kamu tentang masalahku? Kamu bukanlah siapa-siapa! Bahkan kita saja tidak saling mengenal, lalu untuk apa aku harus mempercayaimu?!" seru Rumi.
"Sebaiknya kita duduk dulu," ucap Reymond sambil memegang tangan Fatma dan mengajaknya untuk duduk.
"Kami tahu semua masalah yang sedang Mbak hadapi dan kami ingin membantu supaya Mbak bisa keluar dari masalah itu," jawab Fatma dengan yakin.
Rumi menyunggingkan senyumnya tipis. "Aku tidak berniat untuk menceritakan apapun pada kalian."
__ADS_1
"Kami tahu, selama ini Mbak sudah dijual pada laki-laki hidung belang untuk melunasi semua hutang yang dimiliki oleh Ayah Mbak, kan?" tanya Fatma.
Rumi menatap tidak percaya pada wanita muda yang duduk di depannya itu. "Bagaimana dia bisa tahu jika aku menjadi budak s*** pelunas hutang?" batinnya.
"Dari mana kamu mengetahui semua hal itu? Jika tidak tahu kebenarannya, lebih baik kamu diam saja dan jangan ikut campur dengan urusan ku." kecam Rumi.
Reymond melihat semua itu, dia masih memberikan waktu pada Fatma untuk berbicara dengan Rumi karena istrinyalah yang meminta seperti itu.
"Maaf, Mbak. Sekali lagi, kami hanya ingin membantumu," jawab Fatma.
Rumi cukup tersentuh dengan kegigihan Fatma untuk menyakinkannya.
"Rumi, aku tidak ingin mempunyai kenangan buruk denganmu. Aku menghargai persahabatan kita dulu, maka dari itu aku ingin membantumu untuk menyelesaikan semua masalah yang sedang kamu alami atas nama PERSAHABATAN dan itu tidak lebih." Raymond angkat bicara saat ia yakin Rumi sudah mulai tenang.
Rumi menunduk, ia memang ingin terbebas dari ayahnya yang gila itu, tapi apa ia bisa mempercayai kedua orang yang sedang berada di hadapannya saat ini? Sedangkan dirinya sendiri sudah berbuat buruk pada mereka.
"Bagaimana caramu menolongku?" tanya Rumi tanpa menatap kedua orang di depannya.
Fatma dan Reymond menarik nafas panjang, mereka merasa lega karena Rumi mulai bisa diajak berbicara dengan tenang.
"Syarat? Kenapa harus ada syarat jika kalian tulus ingin menolongku?"
"Karena kami perlu yakin agar kamu tidak mengganggu pernikahan kami lagi," jawab Reymond.
Rumi membuang mukanya, sudut hatinya yang lain menyuruhnya untuk tetap mempertahankan Reymond, tapi ia juga ingin segera terbebas dari belenggu jeratan ayahnya.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Rumi pun mengangguk dan menyetujui persyaratan dari Reymond.
"Baiklah. Aku akan memenuhi semua keinginan kalian," jawabnya. Rumi menjawab dengan lugas bahkan tanpa ada keraguan di dalam semua kata-katanya, tapi dalam hati tentu saja lain.
"Baiklah, aku akan meminta Leandro untuk mengurus ayahmu yang di sana. Ingat, jika kamu berani macam-macam terhadapku, aku tidak segan-segan lagi terhadapmu." Reymond memberikan peringatan untuk Rumi sambil menodongkan telunjuknya tepat dihadapan wanita itu.
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Terserah kamu saja," jawab Rumi tanpa menetap Reymond maupun Fatma.
Setelah pertemuan itu selesai, Reymond dan Fatma pun langsung meninggalkan Rumi yang masih di sana.
"Sayang, apa kamu yakin jika sekarang kita bisa mempercayainya?" tanya Reymond.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan akan pulang menuju rumah mereka.
"Kita berdoa saja, Mas. Semoga dia bisa memegang janjinya sendiri," jawab Fatma yang sebenarnya ia pun tidak terlalu mempercayai Rumi.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh Zen dan Yui untuk kembali mengawal mu," ucap Reymond. Itu bukanlah saran, melainkan perintah. Ia hanya tidak ingin jika sesuatu yang buruk kembali terjadi pada istrinya itu.
Fatma tidak bisa menolak hal itu, ia yakin Reymond melakukan itu semua bukan tanpa alasan, apalagi jika mengingat Rumi yang mantan pasien gangguan jiwa, kemungkinan hal buruk itu bisa saja terjadi.
"Bagaimana baiknya saja, Mas." Fatma tersenyum saat menjawab ucapan Reymond.
Setelah itu pun, mereka kembali melanjutkan perjalanannya, tapi saat di persimpangan Fatma meminta Reymond untuk menghentikan mobilnya.
"Mas, stop!"
Reymond terkejut dengan perintah Fatma yang tiba-tiba, beruntung saat itu ia membawa mobilnya dalam kecepatan rendah.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu minta berhenti tiba-tiba?" tanya Reymond saat ia sudah berhasil menghentikan kendaraannya.
"Mas, lihat! Bukankah itu Bibi Fani dan Paman Andre?" tunjuk Fatma pada sepasang baya di pinggir jalan yang sedang menjajakan makanan kecilnya.
Reymond pun mengikuti arahan yang ditunjukkan Fatma. Ya, dia melihat paman dan bibi dari istrinya itu sedang berjualan makanan ringan.
"Iya, sayang. Mereka adalah Paman Andre dan Bibi Fani," ucap Reymond. "Sedang apa mereka di sana?"
Fatma menggeleng pelan, "Aku juga tidak tahu, Mas," jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari sepasang baya itu.
__ADS_1
Fatma pun segera turun dari mobilnya untuk menghampiri pasangan suami-istri itu.
"Bibi, Paman?"