
Reymond yang sedang tertidur lelap, tiba-tiba terbangun karena mendengar kegaduhan yang terjadi di luar kamarnya.
Apa yang sedang terjadi di luar sana? Tidakkah mereka tahu aku sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat?
Reymond bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu untuk melihat kegaduhan yang sedang terjadi.
Ceklek...
Pintu terbuka, Reymond melihat sang Mommy sedang memarahi Pak Kus begitupun dengan para pelayan yang sedang mencoba untuk menghalanginya.
"Mommy, kapan datang?"
Plak...
Nyonya Celine tidak menjawab pertanyaan Reymond dia malah menampar anak semata wayangnya itu.
"Mo–mommy kenapa menamparku secara tiba-tiba? Apa aku sudah melakukan kesalahan lagi?"
Nyonya Celine menatap anak semata wayangnya itu dengan penuh amarah, bahkan Reymond sebelumnya belum pernah melihat Nyonya Celine semarah itu.
"Mommy kecewa dengan sikap kamu, Rey. Sampai kapan kamu akan memelihara sifat egois mu?"
"Apa maksud Mommy? Aku tidak mengerti, sifat egois yang mana?"
"Apa kamu tahu, Rey. Ayunda keguguran kemarin siang!"
Seketika tubuh Raymond terpaku kaku, saat mendengar perkataan sang Mommy.
"Puas kamu?"
"Mom, Mommy sedang menakut-nakutiku, kan? Ayunda tidak mungkin keguguran"
"Menakut-nakuti? Untuk apa Mommy sampai datang ke sini jauh-jauh hanya untuk menakut-nakuti mu, Rey?"
"Mommy mendapat kabar itu darimana? Jangan percaya pada sembarangan orang!"
"Leandro yang memberitahukan Mommy, Rey"
"A–apa? Leandro yang memberitahukan Mommy? Bagaimana bisa? Dimana mereka sekarang?"
__ADS_1
"Untuk apa kamu sekarang kamu menanyakan keberadaan mereka? Bukankah harusnya sekarang kamu lega karena Ayunda tidak lagi mengandung anak mu? Sekarang kamu bisa bebas berdekatan wanita ular peliharaanmu itu. Mommy sudah memberikan bukti penghianatan-nya, tapi masih belum kamu ceraikan juga. Mommy benar-benar tidak mengerti dengan isi kepala mu, Rey"
Setelah berkata seperti itu, Nyonya Celine pun pergi meninggalkan Reymond diikuti oleh para bodyguard-nya. Sedangkan Pak Kus dan para pelayan mension itu hanya menatap Reymond dengan pandangan yang kecewa.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? PERGI DARI HADAPAN KU, SEKARANG!"
Reymond mengusir para pelayan itu dan hanya meninggalkan Pak Kus yang masih di sana.
"Pak, tolong siapkan mobil untukku. Aku akan mencari keberadaan Ayunda"
"Baik, tuan"
Pak Kus pun berlalu meninggalkan Reymond yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"S***, kenapa kemarin aku tidak menyusulnya saat dia pergi dari mobilku? Sekarang aku segera mencari keberadaannya. Jangan sampai Leandro kembali memasang badannya dan mengambil Fatma dariku"
Reymond segera bersiap-siap untuk mencarinya, karena Nyonya Celine tidak memberitahukan keberadaan Fatma di mana, jadilah dia harus mencari satu persatu rumah sakit yang ada di kota itu.
***
Sudah tiga rumah sakit yang Reymond datangi, tapi tidak ada nama pasien Fatma Ayunda yang di rawat di sana. Tinggal satu rumah sakit lagi dan itu pun ada di di pinggiran kota, Reymond segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit itu.
Setiba di sana, Reymond segera menghampiri meja resepsionis yang terdapat di sana.
"Kalau boleh tahu, anda dengan siapanya pasien?"
"Saya suaminya, apa dia dirawat di sini?"
"Benar, dia adalah ibu hamil yang mengalami pendarahan kemarin siang"
Perasaan Reymond sudah kacau sejak dari rumah, tapi lebih kacau lagi saat perawat yang bertugas di sana mengatakan jika istrinya sudah mengalami keguguran.
"Baiklah. Bisa tolong katakan di mana ruang rawatnya berada?"
"Pasien di rawat di ruang VVIP, lantai lima"
"Baiklah, terimakasih"
Setelah mendapatkan informasi itu, Reymond pun bergegas menuju tempat dimana Fatma dirawat. Saat ia akan masuk lift, Reymond berpapasan dengan Leandro yang akan keluar dari lift itu.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Aku tidak mempunyai urusan dengan mu?"
"Benarkah? Apa kau lupa dengan kesepakatan kita?"
"Aku tidak pernah mempunyai kesepakatan apa-apa denganmu. Menyingkirlah, biarkan aku bertemu dengan istriku"
"Dia sedang tidak mau bertemu dengan siapapun saat ini"
"Alasan. Aku hanya ingin berbicara dengannya"
Leandro menolak memberikan jalan untuk Reymond bertemu dengan Fatma.
***
Fatma sedang menyesali perbuatan, ia menyesal karena terlalu mengikuti amarahnya sehingga ia lupa jika dirinya sedang hamil muda.
"Maafkan Mama, Nak. Mama belum bisa menjaga kalian, Mama menyesal karena sudah bersikap egois dan membahayakan kalian. Maaf karena Mama tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk kalian, semoga kalian mau memaafkan Mama"
Fatma tidak berhenti menangisi kepergian calon anak-anaknya, Bu Imah yang ikut dengan Tio untuk menjenguk Fatma pun tidak bisa membujuknya untuk berhenti menangis.
"Fatma, Ibu mengerti dengan perasaanmu saat ini, tapi kalau kamu terus seperti itu, hanya akan memperburuk kondisi kesehatanmu. Jadikan ini sebagai pembelajaran, agar kedepannya kamu bisa lebih mengontrol emosi dengan baik"
"Aku benar-benar menyesalinya, Bu"
"Iya, Fatma. Ibu tahu. Kamu yang sabar, ya. Kamu harus yakin, kamu kuat"
Fatma tidak lagi menjawab perkataan Bu Imah, tapi dia sedang berusaha untuk menenangkan hatinya. Saat Fatma masih berusaha berhenti menangis, pintu ruangannya di buka seseorang.
Fatma dan Bu Imah menengok ke arah pintu itu.
"Mommy?"
"Ya Tuhan, Ayunda. Maafkan Mommy karena tidak bisa mendidik anak itu dengan benar, sampai-sampai dia membuat mu seperti ini"
"Tidak, Mommy. Aku juga turut bersalah dalam hal ini, aku tidak bisa mengontrol emosi ku, sehingga tanpa sadar aku sudah menghilangkan mereka. Aku belum bisa menjadi Ibu yang baik. A-aku menyesal, Mom"
"Bukan hanya kamu yang menyesal, Ayunda. Mommy juga menyesal"
__ADS_1
Fatma dan Nyonya Celine kembali menangis sembari berpelukan, mereka berusaha untuk saling menguatkan satu sama lain. Bu Imah merasa terharu melihat Fatma yang diperlakukan seperti anak sendiri oleh mertuanya.
"Fatma, kamu cukup beruntung, Nak. Meskipun suamimu selalu bersikap egois, tapi selalu ada mertuamu yang membelamu"