Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 17


__ADS_3

Fatma menjalani hari-harinya dengan bekerja di sebuah warung makan warteg, dia tidak mencari pekerjaan di pertokoan. Karena ia tidak ingin bertemu kembali dengan Nadira lagi. Sudah tiga hari ini, Fatma membantu Bu Esih menjadi pelayan di warung makan itu.


"Neng, tolong buatkan bapak minta kopi hitam" ucap salah satu pelanggan yang datang ke warung makan itu.


"Iya pak, tunggu sebentar, saya buat dulu" jawab Fatma seraya merebus air panasnya.


"Neng si Ibu gak bikin gorengan ya? Tumben kosong" tanya bapak itu lagi saat ia tak menemukan wadah tempat gorengan berada.


"Tadi sudah habis terjual, pak" jawab Fatma sambil memberikan kopi yang sudah di pesan tadi.


"Oh ya sudahlah" ucap bapak itu sedikit kecewa.


Fatma pun membiarkan bapak itu bersama kopinya, sedangkan dirinya kembali ke dapur untuk membantu Bu Esih memasak.


"Bu, aku bantuin ya" ucap Fatma saat ia sudah berada di dapur.


"Gak usah nak, kamu tunggu di depan saja. Takutnya nanti ada pembeli yang datang" jawab Bu Esih sambil terus mengaduk masakannya.


"Biar aku bantu ya Bu. Ibu istirahat dulu" ucap Fatma kukuh ingin membantu Bu Esih memasak.


Bu Esih pun mengalah dan membiarkan Fatma membantunya. Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, ponsel jadul milik Fatma berdering.


"Maaf Bu, apa saya boleh menerima panggilan telpon ini dulu?" tanya Fatma.


"Ya udah, angkat aja dulu, siapa tahu itu telpon penting" jawab Bu Esih.


Bu Esih orang yang baik, saat Fatma pertama kali bertemu dengannya, ia sangat ramah. Dan ia juga yang mengajak Fatma untuk membantunya berjualan di warung itu.


Fatma berjalan ke luar dapur untuk menerima telpon.


"Halo Bi?"


"Fatma, kamu ada dimana? Tolong kami"


"Bibi kenapa?"


"Adik mu... Tantri, dia–dia kecelakaan jadi korban tabrak lari. Sekarang aku dan paman mu sedang ada di rumah sakit, kamu segera susul kami kemari"


"Ya Allah... Baiklah Bi, aku akan segera ke sana. Tolong Bibi kirimkan alamatnya"

__ADS_1


"Iya Fatma, kami menunggu mu"


Fatma pun segera menghampiri Bu Esih yang masih memasak di dapur warung itu, setelah ia mematikan sambungan telponnya.


"Bu, maaf, aku boleh ijin keluar dulu gak? Adik ku kecelakaan, dia jadi korban tabrak lari. Sekarang Bibi dan Paman ku ada di rumah sakit untuk menemaninya"


"Ya tuhan, cepatlah kamu susul mereka, nak. Mudah-mudahan adik mu tidak terluka parah"


"Amin, Bu. Terimakasih banyak, saya pamit pulang dulu"


"Iya nak, kamu juga hati-hati dijalan"


Setelah berpamitan, Fatma pun segera menaiki mobil angkot yang akan membawanya menuju rumah sakit. Di perjalanan ia sudah sangat khawatir pada keadaan Tantri, ia juga tidak lupa mengabari Tio, adik laki-lakinya. Mereka janjian untuk bertemu di lobby rumah sakit.


"Kak, ayo kita segera ke ruang rawat Tantri, Bibi berkata jika Tantri sudah di pindahkan ke ruang rawat"


"Iya, ayo cepat!"


Mereka pun berjalan cepat menuju ruang rawat inap Tantri. Sesampai di sana, terlihat Bibi Fani dan paman Andre sedang duduk dengan khawatir di depan sebuah ruangan.


"Bibi, bagaimana keadaan Tantri sekarang?" tanya Fatma saat sudah berada di hadapan Paman dan Bibinya.


Setidaknya Bibi Fani lebih menyayangi Tantri dari pada dia.


"Kami sangat cemas dengan keadaan Tantri, Fatma" ucap Paman Andre.


"Kalau boleh tahu, Tantri kecelakaan dimana, Bi?" tanya Fatma lagi.


"Dia kecelakaan saat akan menyebrang di depan gerbang sekolahnya" jawab Bibi Fani.


"Orang yang sudah menabraknya kabur begitu saja tanpa menolongnya" sambung Paman Andre.


Fatma pun menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, dokter yang menangani Tantri pun keluar dari ruangan itu. Fatma beserta Bibi, Paman dan Tio segera menghampirinya.


"Dokter bagaimana dengan keadaan adik saya?" tanya Fatma pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tempat Tantri di rawat.


Sebelum menjawab, dokter itu menghela nafas berat.


"Maafkan kami, tapi kondisi pasien di dalam sangatlah kritis dan harus segera di tangani. Ada penyumbatan pembuluh darah di otaknya, dan pasien harus menjalani operasi" jawab dokter itu.

__ADS_1


Mendengar penuturan sang dokter membuat Fatma tubuh lemas seketika, dan hampir saja ia terjatuh.


"Ya tuhan, Tantri" ucap Bibi Fani syok, Paman Andre pun tak kalah terkejutnya.


"Dokter, tolong tangani adik saya, saya akan berusaha untuk mencari dananya" mohon Fatma pada dokter itu.


"Baiklah, kami mengerti. Setelah pembayarannya dilakukan, kami akan segera menanganinya. Kita tidak memiliki waktu banyak, harap segera di selesaikan pembayarannya" jawab dokter itu sebelum ia berlalu meninggalkan mereka.


"Fatma, bagaimana ini? Apa kamu punya uang untuk biaya operasi Tantri?" tanya Bibi Fani.


"Fatma gak punya, Bi. Tapi akan Fatma usahakan untuk segera membayar biaya pengobatan itu" jawab Fatma dengan yakin.


"Kamu harus berusaha secepat mungkin untuk mendapatkan uangnya, Fatma. Nyawa Tantri sedang dalam bahaya" ucap Paman Andre.


"Iya Paman, aku akan berusaha secepatnya membawa uang itu kemari" jawab Fatma lagi.


Bibi tidak mengatakan apa-apa, meskipun ia menyayangi Tantri, tapi ia lebih menyayangi uangnya. Jadi Fatma-lah yang harus mencari dana itu sendirian.


Fatma dan Tio pamit pulang terlebih dahulu, mereka akan berpisah saat naik mobil angkot di depan. Sedangkan Bibi Fani dan Paman Andre akan menunggui Tantri.


"Kak, bagaimana ini? Uang untuk biaya operasi Tantri sangatlah besar. Kita tidak akan pernah bisa mencari uang segitu banyak dalam waktu 24 jam!"


"Sabar, Yo. Kakak yakin, kakak bisa mendapatkan uang itu secepatnya. Kamu doain kakak aja ya?"


"Hmmm, mudah-mudahan kakak bisa mendapatkan uang itu"


"Amiin"


Mereka pun berpisah saat mobil angkot yang akan Tio tumpangi datang.


"Kamu hati-hati di jalan" ucap Fatma sembari melambaikan tangannya.


"Kakak juga hati-hati, aku doakan mudah-mudahan semuanya lancar" jawab Tio sebelum mobil angkot yang ia tumpangi berlalu meninggalkan Fatma yang masih berdiri di depan gerbang rumah sakit.


"Ya tuhan, aku harus mencari kemana uang 50 juta dalam waktu 24 jam?" batin Fatma bertanya. Sedangkan uang yang ia miliki kurang dari 5 juta, itu pun sisa mahar yang diberikan Tuan Reymond.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2