Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 54


__ADS_3

Siang ini Fatma sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, tidak terasa sudah seminggu sejak kejadian dimana ia mengalami keguguran dan juga sudah seminggu itu juga ia berbaikan dengan Reymond, suaminya.


Mulai sekarang Fatma berjanji akan belajar untuk bersikap dewasa dan tidak mudah terbawa emosi lagi, ia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali.


"Sayang, apa kau sudah siap?" tanya Reymond saat melihat sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya.


"Sebentar lagi, Mas." Fatma menjawab. Kini dirinya juga sudah mulai terbiasa dengan sikap yang Reymond tunjukkan padanya.


Selama di rumah sakit Tio dan Tantri juga sering menemaninya, mereka datang bergantian dengan Reymond untuk sekedar menjadi teman berbincang. Berbeda halnya dengan Bibi Fani dan Paman Andre, mereka hanya pernah sekali datang menemuinya saat Reymond sedang tidak ada di samping Fatma.


Tak berapa lama kemudian, Fatma pun selesai dengan urusannya.


"Ayo, sayang. Aku akan membawamu ke suatu tempat," ajak Reymond.


"Memangnya kita mau kemana, Mas?" tanya Fatma saat Reymond sudah mulai menggenggam tangannya.


"Ikutlah dulu, nanti juga kau akan tahu." Raymond menjawab dengan mulai menarik pelan tangan Fatma.


Fatma tidak bisa lagi menolak ajakan Reymond karena tangannya sudah digenggam oleh pria itu. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke arah pintu keluar gedung rumah sakit itu, di sana sudah ada mobil Reymond yang menunggunya.


"Selamat siang, Tuan Rey, Nyonya Ayu," sapa sopir yang datang menjemput mereka.


"Selamat siang juga, pak," balas Fatma. Sedangkan Reymond menanggapi sapaan itu hanya dengan menganggukan kepalanya. Setelah mereka masuk kedalam mobil itu, sang sopir pun mulai menjalankan tugasnya.


Di dalam mobil, Reymond tidak sekalipun melepaskan tautan tangan mereka, meski Fatma berusaha untuk menarik tangannya, tapi itu hanya sia-sia. Reymond menggenggam tangannya erat.


"Mas, lepas. Aku malu," ucap Fatma sedikit berbisik pada suaminya. Tautan tangannya memang di lepaskan, tapi Reymond beralih ke pinggangnya dan menarik sang istri untuk lebih mendekat padanya.

__ADS_1


"Mas!?" tegur Fatma yang tidak diindahkan oleh Reymond, dia hanya melirik sebentar dan mengecup puncak kepala sekilas, setelah itu kembali fokus pada gawai yang tengah di genggaman tangan lainnya.


"Ya Tuhan, aku tidak tau jika Tuan Reymond bisa bersikap semanis ini padaku," batin Fatma.


"Mas, jangan seperti ini, malu di lihat pak sopir," ucap Fatma yang menyadari sopir itu sedang mencuri pandang ke arah mereka.


"Pak, sebaiknya kita berhenti dulu," ucap Reymond tiba-tiba menghentikan mobil itu.


"Kenapa berhenti di sini, Mas?" tanya Fatma dengan gelisah, ia takut jika Reymond akan menurunkannya di tempat itu. Bukan apa-apa, memang banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana dan juga ada angkutan umum, hanya saja saat ini dirinya tidak mempunyai uang sepeserpun untuk bisa menaiki angkutan umum itu.


Reymond turun dan berjalan ke arah pintu mobil tempat sopirnya berada.


"Pak, mulai dari sini anda menaik angkutan umum saja, biar saya yang akan membawa mobilnya" ucap Reymond pada sopir itu.


Fatma dan sopir itu memandang Reymond dengan tatapan terkejut, mereka tidak percaya Reymond bisa melakukan itu padanya.


"Ba–baik, tuan. Maaf," jawab sopir itu dan beranjak dari tempatnya untuk membiarkan tuan dan nyonya-nya kembali masuk kedalam mobil lagi.


"Ayo masuk, sayang. Aku tidak ingin membuat mu tidak nyaman," ajak Reymond untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Mas, bagaimana dengan pak sopir itu?" tanya Fatma.


"Tidak perlu mengkhawatirkannya, dia bisa pulang sendiri dengan caranya," jawab Reymond sembari mulai melajukan kendaraannya.


Akhirnya mereka pun pergi dari sana dan meninggalkan sopir yang tadi Reymond turunkan. Kini Reymond bebas melakukan apa yang ia mau, mulai dari memegang tangan Fatma, hingga mengecupinya, sedangkan Fatma tidak bisa mengerti menolak karena hanya ada mereka berdua di dalam mobil itu.


Fatma terheran karena mobil yang dikendarai oleh Reymond tidak menuju ke arah mansion-nya ataupun ke arah rumah lama Fatma.

__ADS_1


"Mas, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah ku ataupun mansion," tanya Fatma dengan terus menatap ke luar jendela mobil.


"Aku ingin memulai semuanya dari awal bersama mu dan aku juga menginginkan suasana yang baru," jawab Reymond membuat Fatma tidak mengerti dengan arah ucapannya.


"Maksudnya?"


"Tunggulah dulu, sebentar lagi kita akan sampai. Aku jamin kau akan menyukainya," jawab Reymond semakin membuat Fatma tidak mengerti.


Fatma pun tidak bertanya lagi, ia membiarkan Reymond membawanya kemanapun dia pergi, karena tubuhnya masih belum benar-benar pulih, Fatma pun memilih untuk memejamkan matanya.


Hingga beberapa saat kemudian, Reymond memberhentikan mobilnya tepat di sebuah rumah minimalis modern, Reymond meminta satpam yang ada di sana untuk membukakan pintu gerbang.


"Selamat datang, tuan," sapa satpam itu.


Reymond menanggapinya hanya dengan anggukan kepala dan terus menjalankan kendaraannya hingga memasuki garasi yang sudah tersedia di rumah itu Saking fokusnya di perjalanan tadi, ia baru menyadari jika istrinya tengah tertidur lelap.


"Pantas saja dari tadi sepi, rupanya dia sudah tertidur," gumam Reymond sembari membenarkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, ia memandangi wajah itu dengan senyuman manis yang membingkainya.


Reymond turun dari mobil itu terlebih dahulu dan berjalan menuju pintu tempat dimana istrinya berada, dengan perlahan ia mulai mengangkat tubuh Fatma untuk memindahkannya ke dalam kamar baru mereka.


Fatma sama sekali tidak merasa terganggu dengan guncangan yang ia rasakan, bahkan Fatma malah menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya seperti sedang mencari kenyamanan.


Reymond sesekali mengecup puncak kepala istrinya dan berjalan menaiki tangga menuju dimana kamar mereka berada. Sesampai di sana, ia mulai membaringkan tubuh Fatma dengan perlahan agar tidak membuatnya terganggu.


"Nyenyak sekali tidur mu," gumam Reymond yang terus menatap Fatma.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, Reymond pun beranjak untuk membersihkan tubuhnya karena ia sudah merasa sangat lengket akibat keringat. Selesai dengan ritual mandinya, ia melihat Fatma yang masih terlelap dan memutuskan untuk ikut tidur siang bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2