Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 34


__ADS_3

Siang itu sepulang dari rumah Fatma, Reymond sempat memanggil Paman Andre dan Bibi Fani yang sedang bekerja di mension nya.


"Tuan, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Bibi Fani dengan lemah lembut, tentu saja ia ingin dinilai oleh Reymond maka dari itu sikapnya pun harus terlihat baik.


"Jawab jujur, selama ini dana yang aku titipkan pada kalian untuk Fatma, dihabiskan oleh siapa?" tanya Reymond dingin.


Paman Andre dan Bibi Fani begitu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Reymond.


"Tu–tuan apa maksud anda? Tentu saja kami berikan pada Fatma sesuai dengan yang tuan titipkan" jawab Paman Andre dengan gugup.


BRAK...


Reymond menggebrak meja yang ada di hadapannya, ia kesal karena sepasang baya itu tidak menjawab jujur pertanyaannya.


"Apakah kalian pikir aku akan mudah dibodohi oleh pengakuan kalian?" tanya Reymond lagi dengan nada yang sudah meninggi.


Suara Reymond membuat Paman Andre dan Bibi Fani langsung bersimpuh seketika, bahkan mereka juga menangis di hadapan Reymond dan meminta ampun padanya.


"Tu–tuan, ampuni kami. Kami menggunakan uang itu untuk membiayai pengobatan berjalan Tantri, dan juga untuk biaya hidup kami sehari-hari" jawab Bibi Fani


"Bukankah gaji kalian lebih banyak daripada pelayanan yang lain? Kenapa sekarang kalian juga memakan hak milik Fatma


Sepulang dari rumah Fatma, Tantri banyak diam. Tidak biasanya dia terlihat murung, bahkan saat pulang tadi pun dia langsung masuk kamarnya begitu sampai di rumah Paman dan Bibi.


"Bu, itu si Tantri kenapa? Pulang dari rumah kakaknya dia diam terus?" tanya Paman Andre yang heran dengan sikap Tantri.


"Gak taulah, Pa. Udah biarin aja nanti juga baik sendiri, yang penting dia masih tinggal di sini, jadi ada alasan kita buat terus-menerus untuk memeras si Fatma itu" jawab bibi Fani dengan mudahnya.


"Apa kita gak keterlaluan, Bu?" tanya Paman Andre pada istrinya itu.


"Kenapa Bapak berfikir seperti itu? Bukankah selama ini kita tenang-tenang saja dengan tindakan kita sekarang?"


"Entahlah, Bu. Bapak mulai merasa bersalah karena sudah memeras Fatma seperti tadi"


"Bapak tenang aja, kita melakukan ini juga untuk keluarga kita sendiri. Toh kita masih mengurus Tantri jadi hal wajar jika Fatma juga harus ikut membiayainya"


Paman Andre tidak membalas lagi ucapan Bibi Fani, ia hanya berdehem untuk menjawabnya.

__ADS_1


***


Di rumah Fatma. Sepulang Bibi Fani dan Paman Andre, Fatma mengurung diri di kamarnya, ia tidak menyangka jika Bibi Fani dan Paman Andre akan memperlakukannya seperti itu. Bahkan ia juga baru tahu jika Paman Andre dan Bibi Fani dibayar oleh seseorang untuk membujuknya menerima pernikahan dengan Raymond saat itu.


Suasana hatinya begitu buruk, ditambah dengan pikirannya yang begitu berat membuat Fatma tiba-tiba mengalami kram yang sangat sakit di perutnya.


"Tio!!!"


"Yo!!!"


"Tio, tolong kakak!!!" panggil Fatma pada Tio.


Tio yang sedang belajar di kamarnya pun langsung menghampiri Fatma.


"Kakak kenapa?" tanya Tio saat melihat Fatma yang sedang menahan sakit dengan tangan di perutnya.


"Yo, tolong, perut kakak sakit sekali" ucap Fatma dengan lirih.


"Ya ampun, kak. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Tio pada Fatma.


"Tolong bantu kakak untuk pergi ke klinik depan, kakak takut terjadi sesuatu pada janin-janin kakak" jawab Fatma.


***


Malam ini Reymond merasa hatinya tidak tenang, sejak pulang dari rumah Fatma ia begitu terus memikirkan istri pertamanya, ditambah lagi dengan perilaku Nadira yang membuatnya semakin merasa j*j*k pada istri tercintanya itu. Ia memilih pergi dari mension-nya untuk mencari udara segar, sekaligus makan malam di luar.


Nadira yang melihat suaminya sedang bersiap untuk pergi pun mencoba mendekatinya.


"Rey, kamu mau ke mana? Bukankah sudah waktunya kita makan malam?" tanya Nadira tepat berjarak 50 CM di belakang Reymond, dan membuat Reymond segera melangkah, menjauhinya.


"Sudah ku katakan, Nadira. Jangan dekat-dekat dengan ku, aku benar-benar mual jika harus berada dekat dengan mu" ucap Reymond.


"Rey, kamu membuat ku tersinggung. Apa aku sudah melakukan kesalahan pada mu?" tanya Nadira dengan mimik wajah yang menatap sedih Reymond.


Jika dulu Reymond akan merasa tidak tega, lain halnya dengan saat ini, dia merasa semakin muak melihatnya.


"Sudahlah, Nad. Ini juga mungkin karena efek kehamilan kamu, makanya aku yang menjadi lebih sensitif di bandingkan dengan mu" jawab Reymond. Bahkan ia masih menyelidiki siapa ayah dari bayi yang sedang Nadira kandung.

__ADS_1


"Tapi Rey, apa kamu tidak bisa mengerti bagaimana dengan perasaan ku? Aku benar-benar tersinggung, Rey" ucap Nadira lagi.


"Berdo'a saja, efek kehamilan mu ini segera berakhir dan aku bisa seperti biasa lagi" jawab Reymond.


Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan apa yang sudah ia ucapkan, hanya saja dokter yang memeriksanya mengatakan jika itu adalah efek kehamilan yang dialami oleh istrinya.


"Sekarang kamu mau kemana, Rey?" tanya Nadira lagi melihat Reymond sudah siap untuk pergi.


"Aku akan keluar, malam ini kamu makan saja sendiri" ucap Reymond sebelum ia berlalu meninggalkan Nadira.


"Rey, aku belum selesai berbicara dengan mu!" seru Nadira yang melihat kepergian Reymond tanpa menoleh ke belakangnya lagi.


"S***, kalau seperti ini terus, bisa-bisa perasaan Reymond akan cepat memudar terhadap ku" batin Nadira yang khawatir dengan sikap Reymond padanya.


Reymond melajukan mobilnya tanpa tujuan, ia ingin menenangkan hatinya sebelum mencari makanan yang diinginkan. Tanpa sadar ia mengemudikan mobilnya ke arah rumah Fatma. Dari kejauhan, ia melihat istri pertamanya itu sedang berdiri di pinggir jalan bersama Tio.


Saat mulai mendekat, ia melihat Fatma sedang dalam keadaan yang tidak baik. Reymond pun memperlambat lajunya dan berhenti tepat di hadapan kakak beradik itu.


"Fatma, Tio? Kalian sedang apa malam-malam begini masih diluar?" tanya Reymond yang menghampiri mereka.


"Tuan Rey?" lirih Fatma.


"Fatma, kamu kenapa?" tanya Reymond lagi khawatir melihat Fatma yang sedang merintih kesakitan.


"Tuan, tolong bantu kak Fatma untuk pergi ke klinik depan jalan sana" tunjuk Tio


"Ayo, kita segera pergi" jawab Reymond seraya membopong tubuh Fatma untuk ia masukkan ke dalam mobilnya.


Tanpa menunggu lama, Reymond pun melajukan mobilnya menuju klinik terdekat yang Tio tunjukkan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di klinik itu, Reymond kembali mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke ruang pemeriksaan.


"Dok, tolong periksa istri saya" ucap Reymond.


"Baik, pa. Mohon mundur dulu" ucap dokter itu.


Dokter itu pun melakukan tugasnya untuk memeriksa keadaan kandungannya Fatma, sedangkan Reymond berdiri di belakang dokter itu dengan gelisah.


"Alhamdulillah, janin ibu baik-baik saja"

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗


__ADS_2