
Dinginnya suasana di pagi hari menusuk kulit Fatma yang tidak tertutupi selimut hingga membuatnya terbangun. Perlahan Fatma membuka matanya dan netranya menangkap sosok seorang pria yang tengah membelakanginya di balkon unit miliknya.
"Tuan, apa yang sedang anda lakukan di sana? Bukankah ini masih dini hari?" tanya Fatma pada Rey suaminya itu, setelah ia melihat jam yang berada di dinding kamarnya masih menunjukan pukul 02:30.
Perlahan Rey membalikan badannya dan menatap dingin istri sah pertamanya itu.
"Pakai bajumu dengan benar, dan segera minum ini. Aku tidak ingin punya anak bersama mu" ucap Rey sambil melemparkan pil kontrasepsi ke pangkuan Fatma.
Jeder...
Bagai tersambar petir di tengah hujan deras malam hari, perkataan Rey membuat hatinya hancur berkeping-keping. Fatma syok mendengar perkataan Rey barusan hingga membuatnya diam tak berkutik.
"Jangan mengharapkan apa-apa dari ku. Aku kemari karena sedang kesal dengan Nadira. Dan kau jangan membuat ku semakin kesal" ucap Rey sambil menudingkan jari telunjuknya di hadapan Fatma.
Fatma terdiam, dia masih berusaha mencerna semua perkataan yang Rey lontarkan padanya.
"Ku kira perlakuannya tadi malam adalah awal dari hubungan baik diantara kami. Tapi ternyata aku salah, apa aku terlalu berharap jika hubungan suami-istri kami sama dengan layaknya pasangan lain meskipun ada madu di antara kami?" tanya batin Fatma sambil tertunduk memegang erat selimut yang membungkus tubuh polosnya.
"Tuan, apa salah saya hingga anda memperlakukan saya seperti ini?" tanya Fatma menatap Rey dengan wajah yang basah karena air mata.
"Jangan berani membantah ku, dan jangan tunjukan wajah buruk mu yang seperti itu. Membuatku semakin muak saja" ucap Rey sambil meninggalkan Fatma yang masih duduk di pembaringannya.
Rey pergi begitu saja meninggalkan Fatma yang masih menangisi nasibnya. Bukan ia tak ikhlas sudah memberikan haknya pada Rey, tapi ia sedih karena Rey memperlakukannya seperti wanita malam yang hanya memberikan kenikmatan untuk tamunya.
"Ya tuhan, kenapa aku bisa terjebak dalam pernikahan seperti ini?" tanya Fatma pada dirinya sendiri.
Saat ini, bolehkah ia menyesali pilihannya? Dia bukan ingin hidup senang untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang-orang yang ia cintai juga. Tapi kenapa pilihan yang ia ambil sepenuh hati itu malah menjerumuskannya kedalam lubang hitam.
Dari sejak kepergian Rey dini hari tadi, Fatma tidak bisa lagi memejamkan matanya, ia menangis hingga matahari terbit.
Fatma memaksakan dirinya untuk kembali beraktivitas seperti biasa, meskipun inti bagian tubuhnya terasa ngilu, tapi ia tetap memaksakan diri. Hari ini ia berencana untuk mencari pekerjaan di toko-toko yang berada dekat dengan apartemennya.
"Aku harap dengan mempunyai pekerjaan seperti ini, setidaknya aku bisa menghabiskan waktu ku dengan tenang tanpa ada yang mengganggu fikiran ku" gumam Fatma saat hendak membuka pintu apartemennya.
Fatma pun melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di ujung lorong unit apartemen miliknya, ia menekan tombol turun untuk bisa sampai ke lobby.
Saat sudah berada di lobby, Fatma pun mulai keluar gedung itu dan berjalan menuju toko-toko yang berada dekat sana, Fatma berharap ada salah satu toko yang akan mempekerjakannya.
Beberapa toko ia lalui, hingga ia sampai di sebuah toko baju yang ada di sana. toko itu tidak terlalu besar namun cukup ramai, karena banyak pengunjung yang memasuki toko baju itu.
__ADS_1
Beruntung setelah ia bertemu dengan manajernya, manajer itu mau memperkerjakan Fatma meskipun ia hanya lulusan sekolah menengah pertama.
"Sekarang kau bisa mulai bekerja di sini, Dewi akan menunjukkan bagaimana cara melayani pelanggan" ucap manajer itu sambil menunjuk seorang perempuan yang usianya tidak jauh darinya.
"Dewi, tolong kau bantu dia untuk menerangkan bagaimana cara melayani pelanggan dengan benar" perintah manager itu pada Dewi sambil menunjuk Fatma.
"Baik bu" jawab Dewi pada manajer itu.
Setelah kepergian manajer itu, Dewi pun mulai mengajarkan Fatma untuk melayani pelanggan yang sedang memilih pakaian di tempat mereka.
"Fatma, apa sebelumnya kau pernah bekerja di toko?" tanya Dewi.
"Aku belum pernah bekerja di toko mana pun, sebelumnya aku hanya bekerja sebagai pembantu" jawab Fatma apa adanya.
Dewi pun mengangguk mengerti.
"Baiklah, mari ku tunjukkan bagaimana cara melayani pelanggan" ucap Dewi sambil mengajak Fatma untuk menghampiri seorang ibu-ibu yang sedang memilih baju di sana.
Dengan sabar dan telaten Dewi mengajarkan Fatma, begitupun dengan Fatma yang mudah mengerti, dan dia sudah mulai terbiasa untuk menghadapi pelanggannya sendiri.
Fatma benar-benar menikmati hari pertamanya bekerja, hingga tak terasa waktu mulai beranjak petang dan toko itu pun mulai tutup.
"Iya aku tinggal di apartemen sana sendirian" jawab Fatma sambil menunjuk ke gedung apartemen tempatnya tinggal.
"Oh, lumayan dekat juga ya?" tanya Dewi lagi.
Fatma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Saat ia sudah berpisah dengan Dewi, Fatma pun berjalan sendirian menuju gedung apartemennya. Meskipun banyak toko-toko ramai di siang hari, tapi saat malam hari jalanan itu terasa sepi dan sunyi.
Fatma berjalan sendirian di sana, tapi ia merasa jika ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Namun saat ia menengok kebelakang, ia tidak menemukan siapapun disana.
"Sepertinya hanya perasaanku saja, tidak mungkin ada orang yang mengikuti ku secara diam-diam" gumam Fatma sambil mempercepat langkah kakinya.
***
Sejak pagi Rey terlihat lebih bersemangat dan banyak tersenyum, sampai-sampai Zio sang asisten merasa heran padanya.
"Rey apa kamu baik-baik saja?" tanya Zio.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" tanya balik Rey.
"Entahlah, aku fikir kita tidak habis memenangkan tender besar, tapi kenapa kau dari tadi tersenyum bahagia seperti itu, apa terjadi sesuatu yang spesial tadi malam?" tanya Zio dengan penasarannya.
"Tidak ada yang spesial, mungkin karena tadi malam aku tidur di apartemen" jawab Rey acuh.
Zio tersentak mendengar jawaban yang Rey lontarkan.
"Apa kau serius, Rey?" tanya Zio mendekat kearah Rey.
"Ya itu benar, memang ada apa?" tanya balik Rey.
Zio tidak langsung menjawab pertanyaan Rey, dia malah menendang angin untuk melampiaskan kekesalannya pada Rey.
"Rey, apa kau tahu jika dia masih perawan?" tanya Zio.
"Entahlah, aku tidak peduli. Toh aku tidak akan membiarkannya untuk hamil anakku" jawab Rey dengan mengangkat bahunya.
"Tunggu, apa maksudmu pil kontrasepsi yang kau minta itu untuknya?" tanya Zio dengan kesal.
"Tentu saja, mana mungkin aku memberikan obat itu pada Nadira" jawab Rey dengan entengnya.
Zio memukul keningnya perlahan.
"Astaga Rey, kau tega sekali melakukan hal itu pada Fatma. Bahkan kalian belum saling mengenal lama" ucap Zio.
"Memang apa salahnya? Bukankah sah-sah saja jika kami melakukan hal itu?" tanya Rey dengan heran.
"Secara tidak langsung kau sudah memberikan harapan Rey, Apa yang kau pikirkan saat melakukan hal itu?" tanya Zio dengan geram.
"Aku hanya tidak suka jika dia dekat-dekat dengan Leandro. Makanya aku melakukan hal itu untuk mengingatkan jika dia sudah mempunyai suami" jawab Rey apa adanya dengan isi hatinya.
Zio makin kesal dengan jawaban yang Rey diberikan.
"Aku tidak menyangka jika kau bisa melakukan hal itu tanpa rasa suka ataupun ketertarikan" ucap Zio frustasi.
Setelah mengatakan itu, Zio pun keluar dari ruangan Rey dengan berjalan cepat. Dia sedikit khawatir pada Fatma, meskipun Zio tidak terlalu menyukai gadis itu, namun setitik hatinya mempunyai rasa bersalah dan tidak tega sudah membawa Fatma pada laki-laki seperti Rey, sahabatnya.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
__ADS_1
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗