Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 59


__ADS_3

FLASHBACK ON


POV REYMOND


Aku mempunyai sahabat perempuan, namanya Rumina. Dia adalah gadis baik, periang dan juga selalu menjadi penengah antara aku dan Leandro.


Kami bertiga selalu kompak dalam hal apapun. Saking dekatnya, kami sampai memiliki sweater dan topi yang berinisialkan nama Rumi, Rey dan Lean atau lebih tepatnya RRL.


Aku dan Lean selalu akrab saat bersama Rumi, sampai akhirnya aku tahu jika Leandro menyukainya, dia datang menemuiku dan mengatakan hal itu.


"Rey, sebenarnya aku menyukai, Rumi. Bagaimana pendapat mu?" tanya Leandro padaku.


Aku sempat terkejut saat Leandro mengungkapkan perasaannya terhadap Rumi dan meminta pendapatku. pasalnya dia selalu mengatakan jika dirinya sudah menyukai gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman bicaranya saat di negara I. "Itu hal bagus. Apa kamu sudah mencoba mengungkapkannya?"


Leandro menggelengkan kepalanya, "Aku belum mengatakan apa-apa padanya," jawab Leandro.


Sebenarnya aku juga menyukai Rumi saat itu, hanya saja bukan dalam artian mencintai. Aku menyukainya hanya sebatas persahabatan karena dia merupakan gadis yang baik dan juga cukup menarik perhatian.


"Kenapa kamu tidak mencoba untuk mengatakannya?" tanyaku pada Leandro.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku," jawab Leandro dengan lirih.


Aku sempat bingung akan hal itu, karena sebenarnya aku mengetahui jika Rumi menyukaiku dan menganggap Leandro hanya sebatas sahabat laki-lakinya saja.


"Kenapa kamu tidak mencoba untuk mengatakannya? Siapa tahu dia juga menyukaimu?" selorohku yang sebenarnya juga tidak yakin.


"Baiklah aku akan mencoba untuk mengatakan padanya siang ini," jawab Leandro dengan semangat.


"Good luck, aku akan membantumu nanti," ucapku yang semakin mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Siang harinya, aku benar-benar membantu Leandro untuk mengungkapkan perasaannya pada Rumi. Kami menyiapkan acara piknik di seberang danau buatan yang ada di belakang mansionku. Dengan semangat, Leandro menyiapkan semua hal yang akan ia butuhkan.


Aku tertawa mengejeknya, dia adalah pria yang cukup dingin menurutku, tapi yang aku lihat hari ini, dia berubah menjadi pria bucin yang pernah kutemui.


"Lean, apa kamu benar-benar bahagia saat ini?" tanyaku. Meskipun aku dan Leandro kadang menjadi rival, tapi aku juga menyayanginya karena dia adalah sepupu yang paling dekat denganku ketimbang Dean.


"Tentu saja. Bahkan saat ini jantungku semakin berpacu cepat seiring waktu berjalan," jawab Leandro tetap dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Aku ikut tersenyum mendengar jawabannya. Tanpa terasa, waktu yang kami butuhkan untuk menyiapkan semua acara itu sudah berlalu dan kini saatnya Rumi datang.


Seperti biasa, gadis itu selalu terlihat sangat cantik dengan rambut pirang panjang yang tergerai.


"Hay, Rey, Lean. Ada apa? Tumben sekali kalian memintaku datang kemari?" tanya Rumi begitu ia berada di hadapan kami.


Sebenarnya, kami sudah biasa untuk bertemu di pinggir danau ini. Hanya saja sekarang mungkin waktunya sedikit berbeda dan Leandro juga yang meminta Rumi untuk datang ke mansionku.


"Tidak ada. Kami hanya ingin mengajakmu piknik seperti biasa," jawab Leandro.


Aku tersenyum mengejek Leandro saat mendengar jawaban darinya. Setelah itu kami pun mulai dengan acara pikniknya, tapi aku lebih menjaga jarak dan coba memberikan ruang untuk mereka berbicara.


"Guys, aku pamit ke belakang dulu," ucapku seraya bangkit dari duduk dan berjalan menjauhi mereka.

__ADS_1


Selama aku tidak ada, aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan dan apa yang terjadi. Aku memberikan waktu luang bagi mereka kurang lebih satu jam. Saat aku kembali menghampiri mereka, Rumi tiba-tiba saja menabrak dan memelukku didepan Leandro.


Aku mencoba bertanya melalui tatapan mata pada Leandro, tapi dia hanya membuang muka dengan menatap kesal padaku, karena tidak mendapatkan jawaban dari Leandro, maka akupun bertanya pada Rumi, "Rumi, ada apa?" tanyaku seraya melepaskan diri dari pelukannya.


"Rey, maaf. Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukaimu dan mencintaimu, apa kamu tidak merasakan sesuatu seperti yang aku rasakan?" ungkapnya tiba-tiba.


Aku mematung seketika karena terkejut dengan pengakuannya, aku pun menatap Leandro, tapi dia pergi begitu saja tanpa melihatku dan Rumi lagi, mungkin dia sakit hati karena perasaannya bertepuk sebelah tangan.


Mulai saat itu Leandro menjauhiku dan Rumi, hubunganku dengan Leandro pun semakin merenggang, kami tidak lagi saling menyapa. Aku cukup kehilangan karena hal itu, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa.


Bahkan Rumi semakin gencar sekali mendekatiku, meskipun aku sudah beberapa kali menolaknya. Dia selalu memperlakukanku dengan baik dan juga lembut, hingga pada akhirnya aku juga mulai membalas perasaannya.


Hubunganku dengan Rumi berlangsung sekitar dua tahun selama itu hubungan kami terjalin baik dan cukup membuat siapapun merasa iri pada kami. Saat aku meyakinkan diri untuk meminangnya, tepat di hari yang sudah kami rencanakan, tiba-tiba saja dia pergi meninggalkanku tanpa kabar.


Bahkan Leandro juga sampai menyalahkanku atas kepergian Rumi yang sebenarnya tidak kuketahui.


Aku sudah pernah mencoba untuk menghubunginya dan menghubungi keluarganya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau berkata jujur padaku. Setelah aku merasa lelah dengan pencarian ku yang sia-sia, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari negara B dan tinggal di negara tempat Leandro dibesarkan dulu.


***


Siang harinya, aku tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Seperti biasa, aku tidak terlalu mempedulikan pemilik nomor itu dan langsung menjawabnya.


"Halo, Rey, apa kabar? Apa kamu masih mengingatku?" tanya seseorang dari seberang sana.


Reymond mematung saat mendengar suara dari wanita yang sedang menelponnya.


"Apa itu kamu, Rumi?" tanyaku


Dari seberang sana, aku mendengar wanita itu tertawa pelan, "Ternyata kamu masih mengingatku, aku senang mendengarnya," jawab wanita yang ku kenal itu adalah Rumi.


"Ada perlu apa kamu menelponku?"


"Kenapa kamu tidak percaya? Leandro sudah mengatakan yang sebenarnya, jadi kamu tidak perlu mencari tahu lagi." Aku menjawab dengan nada dingin, nada yang tidak pernah dipakai terhadap Rumi.


Rumi tertawa renyah diseberang sana. "Aku akan menemuimu besok siang. Sampai jumpa, Rey." Rumi memutuskan panggilan teleponnya terlebih dulu tanpa sempat aku menjawabnya.


REYMOND POV END


FLASHBACK OFF


Reymond sudah menceritakan semua tentang masa lalunya pada Fatma dan istrinya itu benar-benar hanya diam, mendengarkan saja tanpa menyela sepatah katapun.


Reymond juga tidak mengetahui bagaimana perasaan Fatma saat ini, "Kau baik-baik saja?" tanya Reymond khawatir karena istrinya itu hanya diam saja.


Fatma menghela nafas panjang, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja, Mas," jawab Fatma, "Lalu bagaimana dengan perasaanmu saat ini pada wanita itu?"


"Jangan berfikir yang lain-lain, saat ini aku hanya mencintaimu saja, sekarang dan seterusnya. Dia hanya masa laluku." Reymond menjawab sambil memeluk Fatma yang sedang tiduran di lengannya.


"Kalau seperti itu, aku merasa lega. Setidaknya Mas sudah yakin dengan perasaanmu sendiri," jawab Fatma sambil membalas pelukan suaminya.


Reymond tersenyum mendengar jawaban istrinya, rasa sesak yang ada di hatinya sejak siang pun hilang, menguap begitu saja setelah ia menceritakan semuanya terhadap Fatma. "Berkomunikasi itu memang hal yang paling penting dan akan membuat pondasi hubungan semakin kokoh," batinnya.


Reymond menundukkan kepalanya untuk menyetarakan wajah mereka. Dengan tatapan dalam, ia semakin mendekatkan wajahnya, ia sadar jika wajah istrinya sudah kembali memerah akibat ulahnya, tapi ia tidak peduli. Ia ingin selalu menatap wajah itu, ia selalu ingin merasakan halusnya kulit wajah Fatma.


Setelah selesai memperhatikan setiap jengkal wajah istrinya, kini tatapannya terpaku pada bibir Fatma yang berwarna soft pink, rasanya ia tidak pernah bosan untuk selalu mencicipinya. Entah siapa yang memulai, tapi kini Reymond benar-benar sangat menikmati ciuman itu.

__ADS_1


Hampir saja ia kebablasan, andai ia tidak mengingat jika Fatma baru saja keguguran, mungkin ia akan melanjutkan aksinya yang lain. Reymond segera melepaskan tautan itu, ia tidak ingin semakin terbuai dan akhirnya hanya akan menyakiti sang istri.


"Maaf, Mas," ucap Fatma saat ia menyadari jika suaminya sudah dalam mode ON.


Reymond semakin mengeratkan pelukannya, "Sudahlah, tidak perlu di fikirkan. Aku baik-baik saja, lagipula kita masih banyak waktu untuk melakukan hal itu," jawabnya.


Fatma pun mengangguk, membenarkan ucapan suaminya. Pernikahan bukan hanya tentang s** atau pelampiasan n****, tapi juga saling mengerti dan memahami. Itulah yang Reymond lakukan sekarang, ia akan menunggu sampai saatnya tiba.


***


Pagi menjelang, Fatma segera bangun dari tidurnya setelah alarm berbunyi. Dengan perlahan, ia segera menurunkan tangan suaminya yang masih bertengger manis di atas perutnya.


Selesai dengan kewajiban dan kegiatannya, Fatma segera keluar kamar dan menuruni tangga, berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi orang-orang yang ada di rumahnya Tepat pukul enam pagi, pembantu yang Reymond pekerjakan datang dan membantunya menyelesaikan hidangan sarapan mereka.


Setelah selesai, ia pun mengecek kamar Tio dan Tantri, berjaga-jaga takut mereka kesiangan.


"Tio," panggil Fatma dari luar kamar adik laki-lakinya.


"Iya, Kak?" tanya Tio sembari membukakan pintu kamarnya. Fatma melihat ternyata Tio sudah rapih dengan seragam sekolahnya.


"Kirain belum bangun," ucap Fatma, cekikikan.


"Apa, sih, Kakak ini? Memangnya aku selalu bangun siang?" tanya Tio merajuk.


Tak lama kemudian, pintu kamar sebelah Tio pun terbuka dan menampilkan Tantri yang sama-sama sudah rapih.


"Pagi, Kak," sapa Tantri.


Fatma tersenyum, "Pagi juga, Tan. Kalian segera ke ruang makan, sebentar lagi Mas Rey turun," perintah Fatma yang langsung diangguki oleh adik-adiknya.


"Oke, Kak," jawab keduanya bersamaan.


Fatma pun berlalu dari sana dan berjalan menuju tangga, untuk menghampiri Raymond yang masih ada di kamarnya.


CEKLEK


Fatma tidak menemukan keberadaan suaminya di atas kasur, tapi ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Mungkin sedang mandi, sebaiknya Aku menyiapkan pakaian kerjanya terlebih dulu," batin Fatma seraya melangkah menuju walk-in closet yang ada di kamarnya.


Selesai menyiapkan baju untuk suaminya, ia pun segera membereskan kembali tempat tidur yang masih berantakan dan mengganti spreinya dengan yang baru. saat hampir selesai dengan pekerjaannya, Reymond datang menghampiri dan memeluknya dari belakang.


Wangi sabun begitu menusuk indra penciuman Fatma, ia pun berbalik untuk menatap suaminya yang masih berbalutkan handuk.


"Pakai dulu bajumu, Mas," ucap Fatma.


Reymond tidak menggubris ucapan Fatma, dengan gerakan perlahan, ia mendorong Fatma hingga istrinya itu terlentang di atas kasur yang masih sedikit berantakan.


"Mas?" tanya Fatma dengan bingung.


"Kenapa tadi pagi tidak memberikan morning kiss padaku?" tanya Reymond sembari mengungkung Fatma.


Fatma tersenyum dan mengangkat kepalanya sedikit, ia mengecup bibir Reymond sekilas, "Tuh, sudah. Sekarang cepat pakai bajumu, kita sarapan bersama. Kasihan Tio dan Tantri jika harus menunggu lama." Fatma berucap sambil melepaskan diri kungkungan suaminya.


Reymond pun mengalah, ia cepat-cepat memakai pakaiannya di ruangan walk-in closet. Setelah itu ia pun segera berjalan menghampiri Fatma dan meminta istrinya untuk memasangkan dasi.

__ADS_1


Fatma menurut, dengan gerakan lincah ia memasangkan dasi di kerah leher suaminya. "Done," ucapnya saat ia sudah selesai memasangkan dasi itu.


Selesai dengan semua kegiatannya tadi, mereka pun berjalan menuruni tangga dan menuju ruang makan. Seperti biasa, saat makan ia akan melayani suaminya terlebih dahulu, setelah itu barulah dirinya dan adik-adiknya, mereka pun menikmati sarapannya tanpa ada senda gurau di sana.


__ADS_2