
Fatma membiarkan dua orang pria dewasa itu untuk duduk di ruang tengah rumahnya yang hanya dialasi oleh tikar tipis, tidak lupa Tio juga tadi sudah membawakan mereka segelas air minum dan cemilan yang tadi mereka beli di pasar.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Lean?" tanya Reymond dengan wajah yang sudah memerah.
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, apa yang kamu lakukan di sini, Rey? Bukankah biasanya kamu akan sibuk bersama Nadira, istri tercinta mu itu?" tanya balik Leandro dengan menatap Reymond sinis.
"Asal kamu ingat saja, Fatma masih menjadi istriku, dan aku masih berstatus kan suaminya"
"Suami? Mana ada suami yang melupakan istrinya begitu saja? Bahkan tidak pernah memberikan kabar ataupun menafkahinya, atau jangan-jangan kamu sudah bangkrut karena Nadira menghabiskan uang mu?"
Reymond tidak mengerti maksud dari ucapan Leandro yang menyatakan tentang nafkah, dia selalu menitipkan uang untuk Fatma pada Bibinya seminggu sekali.
"Apa maksud mu? Aku tidak pernah telat memberikan uang pada Fatma, aku selalu menitipkannya pada Bibi Fani, seminggu sekali" tolak Reymond dengan cepat.
Leandro mendengus kesal atas jawaban yang Reymond katakan.
"Asal kamu tahu saja, Bibi Fani bahkan tidak pernah datang ke sini sekalipun semenjak Tantri keluar dari rumah sakit" ucap Leandro ketus.
"Apa? Itu tidak mungkin. Aku selalu menitipkan padanya, bahkan Bibi Fani selalu berkata jika Fatma dan Tio di sini baik-baik saja. Aku juga pernah menyampaikan pesan padanya supaya Fatma tinggal di apartemen lagi, tapi dia berkata bahwa Fatma menolaknya" terang Reymond.
Leandro tersenyum sinis, entah benar atau tidak yang di katakan Reymond barusan, ia tidak mempercayainya begitu saja.
"Sudahlah tuan, sekarang ada keperluan apa sampai anda datang kemari?" tanya Fatma yang sedari tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan Reymond dan Leandro.
"Aku kemari untuk melihat kondisi mu, dan lagi tidak ada salahnya jika aku datang kemari, kan?" jawab Reymond.
"Tuan, anda sekarang bisa pulang dengan tenang, saya di sini baik-baik saja" ucap Fatma dengan ketus.
"Kenapa kau mengusir ku? Yang seharusnya kau usir itu dia, bukan aku" tunjuk Reymond pada Leandro.
Lama-lama Fatma kesal dengan kehadiran dua orang pria dewasa yang kini sedang bertamu di rumahnya itu.
"Ya, anda benar. Sekarang kalian bisa pergi dari rumah ku" ucap Fatma pada Reymond dan juga Leandro.
"Apa? Tapi kenapa aku harus pergi juga Ayunda?" tanya Leandro yang tidak terima jika dirinya juga di usir oleh Fatma.
"Apa kalian tidak sadar? Kehadiran kalian itu mengganggu ketenangan ku" ucap Fatma dengan menggebu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi sekarang–" jawab Leandro hendak bangkit dari duduknya.
"–Mood wanita hamil memang mudah berubah" gumam Leandro pelan, tapi ternyata Reymond bisa mendengar perkataan Leandro.
"Hamil?" tanya Reymond untuk memastikan pendengarannya.
Fatma menatap Leandro dengan kesal, dan menegurnya lewat tatapan mata.
"Siapa yang sedang hamil?" tanya Reymond yang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.
"A–anda salah dengar saja tuan" jawab Fatma dengan gugup.
"Tidak mungkin aku salah dengar, jelas-jelas Leandro mengatakan jika wanita hamil mudah berubah" ucap Reymond.
Fatma semakin menatap kesal ke arah Leandro, sedangkan yang ditatapnya sendiri malah buang muka.
"Sepertinya hari sudah semakin siang, sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Ayo, aku ikut mobilmu. Aku ada jadwal meeting siang ini" ucap Leandro seraya menarik tangan Reymond.
Reymond yang tidak siap dengan posisinya, hampir saja terhuyung sebelum akhirnya Fatma dengan refleks menahannya.
"Ayunda, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak sadar jika perbuatan mu itu bisa membahayakan kalian" ucap Leandro yang segera melepaskan tangan Fatma dari dada Reymond, sedangkan Reymond sendiri sempat terpana sesaat melihat Fatma yang berjarak dekat dengannya.
"Ya, tidak apa-apa. Sekarang kalian bisa pergi dari sini" ucap Fatma lagi dengan santai, bahkan ia tidak merasa gugup sama sekali.
Dengan tidak rela, Reymond pun mengikuti langkah Leandro keluar dari rumah Fatma dan pulang ke mansion miliknya, setelah sebelumnya ia mengantarkan Leandro ke apartemennya.
Sesampai di mansion, Reymond tidak menemukan keberadaan Nadira, ia sudah bertanya pada para pelayan atau pun pak Kus, tapi jawaban mereka sama, yaitu tidak tahu.
Sampai seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba menitipkan amplop pada penjaga di luar gerbang mansionnya, ia begitu penasaran dengan amplop coklat itu dan membawanya ke ruang kerja.
"Kenapa tidak ada alamat pengirimannya?" tanya Reymond pada dirinya sendiri.
Saat ia membuka amplop coklat itu, pupil matanya seketika melebar menahan amarah.
"Dasar wanita j*****, berani-beraninya dia menipu ku" ucap Reymond dengan mata yang sudah memerah.
"Kita lihat saja, sampai kapan kamu bisa bertahan"
__ADS_1
***
Ditempat lain...
Nadira masih menemani Putri kecilnya bermain, Nadira memutuskan untuk pergi ke tempat dimana kekasih gelapnya berada.
"Sayang, aku senang sekali karena akhirnya kau hamil anakku lagi, Primabelle sangat senang saat ia mengetahui jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakak" ucap Louis.
(Primabelle adalah anak perempuan Nadira, sedangkan Louis adalah mantan suami atau selingkuhan Nadira saat ini)
"Aku masih takut Lou, bagaimana jika Reymond akan mencurigai ku?" ucap Nadira yang sedang duduk berada dekat dengannya
"Tidak akan, lagipula kau sudah menikah dengannya hampir lima bulan. Dan aku yakin dia juga tidak akan mencurigai mu" jawab Louis menenangkan Nadira dengan mengusap kepala mantan istrinya itu.
"Baiklah sayang, semoga saja lelaki itu tidak menyadarinya" jawab Nadira dengan menampilkan senyum manisnya pada Louis.
Dia melupakan Reymond yang bisa saja mengetahui semua kebenaran tentang dirinya setiap saat.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Louis dengan tatapan menggoda.
Nadira yang ditatap seperti itu sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Louis, ia pun membalas tatapan Louis tak kalah menggoda.
"Baik, aku juga sangat merindukan mu" ucap Nadira.
"Biar aku titipkan Belle pada Bibi dulu" ucap Louis sambil mengangkat tubuh anaknya untuk ia titipkan pada pengasuhnya.
Tak lama kemudian, mereka pun melakukan hal yang seharusnya sudah tidak mereka lakukan lagi sejak ikatan suci itu di tinggalkan.
"Sayang, aku sangat merindukan mu" ucap Louis di sela-sela kegiatannya.
"Aku juga, Lou. Bahkan kau tidak tahu betapa tersiksanya aku saat sedang ingin, tapi pria itu tidak ingin menyentuh ku. Bayangkan saja, sudah hampir dua bulan ini aku hanya bisa membayangkan diri mu saja. Padahal kau tahukan jika sedang hamil n**** ku sangat tinggi" jawab Nadira dengan panjang lebar yang membuat Louis semakin tersenyum bahagia.
"Benarkah itu? Beruntungnya aku" ucap Louis senang.
Mereka pun melanjutkan kegiatannya hingga puas dan tertidur pulas karena kelelahan.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
__ADS_1
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗