
REYMOND POV
Sudah setengah jam berlalu dari sejak aku menelepon Ayunda, istriku. Namun, ia tidak kunjung mendatangiku, aku sudah menelpon sopir yang menjemputnya dan dia mengatakan jika mereka sudah sampai ke perusahaan.
"Sebenarnya kemana dia? tidak tahukah dia jika Aku cemas terhadapnya." Sepanjangan waktu aku menggerutu sambil menunggunya.
Hingga saat teleponku berdering dengan cepat aku langsung menjawabnya, resepsionis itu mengatakan jika ada dua wanita yang mencari ku. Aku sempat terheran, karena aku tidak memiliki janji dengan siapapun kecuali Ayunda yang akan mengunjungi ku untuk makan siang bersama.
"Tuan, ada dua wanita yang ingin bertemu dengan anda, salah satunya bernama Nona Rumi, dan yang satu lagi saya tidak mengetahui," ucap resepsionis itu
"Rumi?"
"Benar, Tuan."
"Baiklah, aku akan segera kebawah."
Setelah mengatakan itu, aku pun segera berjalan menuju lift untuk membawaku ke lobby. Dengan hati yang berdebar tidak karuan, aku sangat takut sekali jika Ayunda kembali merajuk seperti yang sudah-sudah.
TING...
Suara lift yang terbuka untuk segera menyadarkanku dari lamunan, tampak dari kejauhan aku melihat ada dua orang wanita cantik yang berbeda penampilan sedang berdiri di depan meja resepsionis, dua-duanya tersenyum ke arahku.
Sejenak aku merasa lega karena ternyata Ayunda yang berada di sana, tapi saat aku mengalihkan perhatian pada wanita yang berada di depannya, aku pun kembali gugup, bukan gugup karena aku masih mencintainya, tapi karena aku takut jika Ayunda akan kembali salah paham.
Dengan segera aku pun melangkah untuk menghampiri mereka.
"Sayang," panggilku pada wanita yang kini sudah menjadi bagian dari hatiku.
Kulihat wajah Rumi mengembangkan senyuman manisnya, jika dulu senyuman itu mampu memikatku, maka sekarang senyuman itu tidak berarti apa-apa lagi untukku.
Namun, wanita yang ku panggil hanya terdiam dan menatap ku, karena tidak ingin dia marah aku pun segera menghampirinya dan memeluknya, tepat di depan Rumi.
__ADS_1
"Mas?" Ayunda memanggilku dengan terkejut saat aku tiba-tiba memeluknya, sedangkan Rumi menatap ku dengan tidak percaya.
"Rey?" Rumi memanggilku dengan nada seperti orang yang sedang kecewa.
Sekilas aku tersenyum tipis karena bersyukur Ayunda tidak marah dan merajuk padaku. Aku tidak peduli pada Rumi, dia bukan lagi prioritasku saat ini.
"Oh, hai, Rumi," sapaku dengan dingin.
"Rey." Rumi menatapku dengan pandangan sedih, sedangkan Ayunda yang saat ini berada disisiku menatapnya dengan pandangan heran.
"Oh ya, Rumi, aku lupa jika kamu hari ini akan berkunjung kemari. Ada perlu apa?" tanyaku tanpa melepaskan tangan dari pinggang istriku. Aku juga merasa jika Ayunda tidak nyaman dengan perlakuanku, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku ingin memperlihatkan pada Rumi, jika aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya.
REYMOND POV END
Suasana lobby tiba-tiba mencekam saat Reymond datang dan memeluk Fatma, Rumi melihat itu semua dengan tidak percaya.
Setahunya Reymond sudah bercerai dalam Nadira, Rumi tidak mengetahui jika Reymond memiliki istri lain selain Nadira.
Siapa wanita muda itu? Kenapa informan ku tidak mengatakan jika masih ada wanita lain yang masih berada di sisinya? Tapi itu tidak masalah, aku akan mengatasi wanita itu dan akan membuat Rey kembali padaku, batin Rumi sambil mencengkram erat tas tangan yang ia bawa.
"Oh ya, Rumi, aku lupa jika kamu hari ini akan berkunjung kemari. Ada perlu apa?" tanya Reymond.
"A–aku hanya ingin bertemu denganmu," jawab Rumi dengan terbata.
Reymond tersenyum sinis mendengar jawaban Rumi, jika dulu ia akan senang dan bahagia saat Rumi menginginkan bertemu dengannya, maka sekarang ia muak dengan hal itu.
"Kamu sudah bertemu denganku, sekarang kamu boleh pergi karena aku sedang sibuk dengan istriku," jawab Reymond.
"Istri?" tanya Rumi ia tidak menyangka jika Reymond sudah mempunyai istri lagi. "Bukankah kamu sudah bercerai dengan istrimu, Nadira? Lalu bagaimana saat ini kamu mengatakan jika dia adalah istrimu?"
"Itu urusanku. Sebaiknya kamu tidak mencari tahu tentang urusanku itu." Reymond menjawab sambil melangkah meninggalkan Rumi dan menarik pelan tangan Fatma untuk mengikutinya.
__ADS_1
Tidak ingin kehilangan kesempatan, tanpa tahu malu Rumi mengikuti Reymond dan Fatma ke dalam lift. Reymond tidak menyangka jika Rumi yang sekarang bukankah Rumi yang dulu pernah dikenalnya, ia kira Rumi akan pergi setelah dirinya dingin.
Sedangkan Fatma merasa tidak nyaman karena Rumi sedari tadi melihatnya dengan tatapan tajam. Kenapa dia menatapku seperti itu? batin Fatma yang heran dengan perilaku Rumi. Sedangkan Reymond sendiri membiarkan apa yang Rumi lakukan, ia tidak mempedulikannya dan hanya fokus pada istrinya saja.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Raymond dengan khawatir karena melihat Fatma yang sedikit gelisah. Bahkan ia juga memutarkan tubuhnya untuk melihat apakah Fatma baik-baik saja atau tidak.
Fatma terkejut dengan perlakuannya, ia juga malu terhadap Rumi yang sedari tadi memperhatikannya. "Mas, kamu sedang apa? Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Reymond memastikan.
Sedangkan Rumi menatap mereka dengan pandangan malas. Dasar bocah kecil, pengganggu! Harusnya aku yang diperlakukan seperti itu oleh Rey. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam! batin Rumi sambil menatap nyalang wanita muda yang ada di depannya.
TING...
Lift yang membawa mereka naik ke lantai atas pun berhenti, Reymond menggenggam tangan Fatma dan menuntunnya ke ruang kerja, diikuti oleh Rumi yang membuntuti mereka.
Saat Reymond membukakan pintu untuk istrinya, tiba-tiba Rumi menyerobot Fatma dan masuk terlebih dulu ke ruangan itu. Reymond yang melihatnya pun merasa jengah dengan perilaku Rumi.
Sedangkan Fatma menatapnya dengan bingung, ia tidak mengerti kenapa Rumi bersikap seperti itu padanya. "Nona, tidak bisakah anda berjalan pelan dan tidak tergesa-gesa seperti itu?" tanya Fatma.
Reymond tersenyum melihat reaksi Fatma, sekarang Fatma tidak akan membiarkan dirinya di injak-injak lagi.
"Apa kamu merasa terganggu? Jika ya, sebaiknya kamu pergi sekarang." Rumi menjawab dengan angkuh sambil menunjuk bahu Fatma.
Perilaku Rumi membuat Raymond marah, ia tidak terima jika istrinya diperlakukan seperti itu. "Rumi, hentikan! Apa-apaan kamu bersikap seperti itu pada istriku?" sergah Reymond.
Rumi kembali memainkan ekspresinya, dia menatap Raymond dengan pandangan sedih dan seolah-olah tersakiti.
"Rey, kenapa kamu berubah seperti ini padaku? bukankah dulu kamu sangat mencintaiku?" tanya Rumi dengan sedih.
"Cinta? Cinta mana yang kamu maksud? Sekarang dan dulu adalah waktu yang berbeda, jika dulu kamu begitu berharga untukku, maka sekarang kamu bukan apa-apa lagi selain masa laluku," ungkap Reymond dengan nada dingin.
__ADS_1
Fatma tersenyum kecil, ia senang karena Reymond tidak menanggapi perasaan Rumi padanya. Sepertinya Mas Rey memang sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Mbak Rumi, batin Fatma lega.
"Rey, aku tahu. Kamu hanya sedang kesal saja, kan? Karena waktu itu aku meninggalkanmu? Aku minta maaf, aku salah dan aku juga menyesal–" Rumi meraih tangan Reymond yang satunya lagi dan menggenggamnya, "–Aku sudah kembali, aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi."