Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 55


__ADS_3

Fatma terbangun karena rasa lapar yang menderanya, di tambah ia merasa sedikit sesak oleh tangan Reymond yang memeluknya posesif.


Uh, aku kesulitan untuk bergerak jika seperti ini, batin Fatma saat Reymond semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya dengan terpaksa ia pun membangunkan suaminya, "Mas, bisakah kamu melepas pelukannya? Aku lapar dan ingin makan sesuatu." Fatma menyingkirkan tangan Reymond yang melingkar di tubuhnya.


Reymond terbangun saat Fatma mengatakan jika dirinya lapar, "Apa kamu akan memasak untuk makan malam kita?" tanya Reymond dengan antusias karena ia begitu menyukai masakan istrinya itu.


"Tentu." Fatma menjawab seraya mengedarkan pandangannya, ia tidak mengenali di mana mereka sedang berada saat ini. "Mas kita ada di mana? Ini rumah siapa?" tanya Fatma dengan heran.


"Tenanglah, sayang. Ini adalah rumah baru kita. Aku sudah mengatakannya padamu, jika aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu dan dengan suasana yang baru juga," ungkap Reymond membuat Fatma terharu, ia tidak menyangka jika suaminya akan seserius itu terhadapnya.


"Terimakasih, mas. Aku sangat bahagia mendengarnya." Fatma mulai berani memeluk Reymond hingga membuat pria itu di landa gugup seketika. Dengan cepat ia segera merubah mimik wajahnya agar tidak terlalu kelihatan gugup oleh Fatma.


"Sama-sama, sayang. Mulai saat ini hanya kamulah ratu di rumah ini dan juga ratu di hatiku," ucap Reymond membalas pelukan Fatma. Cukup lama mereka berpelukan hingga keduanya tersadar karena bunyi perut Fatma yang nyaring.


"Ups, maaf, Mas." Fatma segera melepaskan pelukannya, ia merasa malu karena Reymond sudah mendengar bunyi perutnya.


Reymond mengacak pelan rambut Fatma, "Sudahlah, untuk kali ini kamu tidak perlu masak, kita pesan makanan saja." Reymond mengambil handphone-nya untuk memesan makanan dari salah satu restoran favoritnya.


"Maaf karena tidak bisa menyiapkan makanan malam untuk mu, Mas," sesal Fatma.


"Tidak perlu minta maaf. Sekarang lekaslah mandi dulu, aku akan menunggu sampai makanan itu tiba," perintah Raymond yang langsung diangguki Fatma.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mandi dulu," ucap Fatma hendak berdiri dari tempat tidur, sebelum akhirnya Reymond tiba-tiba menghentikan gerakannya sehingga membuat Fatma terjatuh tepat di atas tubuh suaminya.


"Mas apa-apaan, sih? Jadi jatuhkan!" oceh Fatma, sedangkan Remon hanya tertawa kegirangan saat berhasil mengerjai istrinya.


"Aku mencintaimu," ucap Reymond sebelum Fatma benar-benar beranjak dari tubuhnya. Fatma mematung seketika saat mendengar ungkapan cinta Raemond padanya.


Ya Tuhan, apa benar yang baru saja dikatakan olehnya? Apa dia berniat untuk mengerjai ku lagi? batin Fatma.

__ADS_1


"Hey, kenapa melamun, sayang?" tanya Reymond saat melihat Fatma hanya terdiam setelah mendengar ungkapan hatinya.


"Ti–tidak apa-apa, aku, aku baik-baik saja," jawab Fatma dengan gugup, ia berusaha untuk berbicara senetral mungkin agar Reymond tidak menyadari kegugupannya.


"Kau sangat menggemaskan saat terlihat gugup seperti ini." Reymond bangkit dari tidurnya dan mendekati Fatma, dengan perlahan ia mulai menempelkan bibirnya sebelum akhirnya mengulum benda kenyal yang sudah menjadi candu untuknya.


Sedangkan Fatma sendiri sudah sangat gugup saat Reymond mulai melancarkan aksinya, tapi perlahan kegugupan itu menguap begitu saja, ia mulai terbawa suasana dan membalas l*matan itu.


Di tengah aksi mereka, Reymond tersenyum simpul karena perlakuannya mendapat sambutan dari Fatma, meskipun masih terasa sangat kaku, tapi ia cukup puas.


Reymond melepaskan p*ng*tan mereka saat Fatma memukul dad*nya pelan, Reymond lupa jika Fatma masih pemula dan belum bisa mengatur nafas hingga membuatnya terengah-engah.


"Kamu sangat cantik." Reymond mengusap lembut bibir istrinya, *****rnya sudah hampir memuncak, Reymond pun bangkit dari atas tubuh istrinya, kali ini ia akan membiarkan Fatma lolos karena masih dalam masa pemulihannya.


Wajah Fatma kini sudah sangat terasa panas, ia benar-benar tidak bisa mendeskripsikan lagi perasaannya. Saat Reymond bangkit darinya, ia buru-buru berlalu masuk kamar mandi, sedangkan Reymond menatapnya dengan pandangan lucu. Iya, lucu karena melihat sikap polos yang malu-malu.


Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi? tanya Fatma dalam hatinya, ia mencoba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu mereka ber*****. Tanpa sadar, Fatma terpekik kecil, "Akkkkhhhh." Sadar dengan suaranya, ia cepat-cepat menutup mulutnya.


Tok... tok... tok...


"Sayang, kamu baik-baik saja? Ada apa?" tanya Reymond dengan khawatir.


"Ti–tidak, Mas. Aku, aku baik-baik saja," jawab Fatma dengan cepat.


"Apa kamu yakin?" tanya Reymond lagi.


"I–iya, Mas. Aku benar tidak apa-apa," jawab Fatma di balik pintu kamar mandinya.


"Baiklah. Kalau begitu cepat selesaikan acara mandi mu, sepertinya kurir sebentar lagi akan segera tiba untuk mengantarkan pesanan kita," ucap Reymond yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"I–iya, Mas," jawab Fatma. Dengan segera, ia pun memulai ritual mandinya. Sedangkan Reymond memilih mandi di kamar lain.


***


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Fatma baru sada jika tempat handuk tidak ada bathrobe, ia lupa membawa pakaian ganti dan hanya ada handuk yang lebarnya pun tidak bisa menutupi seluruh area pahanya.


Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku sampai lupa untuk membawa baju ganti, sih? gumam Fatma. Ia mencoba untuk mengintip ke arah kamar, tidak ada Reymond di sana. Dengan gerakan cepat, ia pun segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri pintu kamar untuk menguncinya, ia tidak ingin jika tiba-tiba Reymond muncul dan melihat penampilan saat ini. Bukan apa-apa, hanya saja kondisinya belum benar-benar pulih, makanya Fatma tidak ingin membuatnya terpancing.


Reymond sedikit heran saat ia akan membuka pintu kamarnya, tapi terkunci dari dalam. Ia pun panik, lantaran Fatma tidak biasa mengunci ruangan.


Tok... tok... tok...


"Sayang, buka pintunya! Kenapa di kunci? Apa terjadi sesuatu?" tanya Reymond dengan paniknya.


Ceklek


Pintu itu terbuka, Reymond langsung memeluk Fatma dan meneliti tubuh istrinya. Fatma merasa heran dengan sikap suaminya yang langsung memeluknya saat ia membuka pintu kamarnya dan sekarang sedang memutarkan tubuhnya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Fatma dengan heran.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Reymond balik bertanya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Memangnya kenapa?"


"Aku khawatir, tidak biasanya kamu mengunci pintu kamar seperti tadi." Reymond menjawab seraya memeluk Fatma kembali.


Fatma tersenyum mendengar jawaban Reymond, kini suaminya sudah benar-benar berubah. Ia bukan lagi Tuan Reymond yang dulu.


"Terimakasih karena kamu sudah mengkhawatirkan ku, Mas," ucap Fatma seraya membalas pelukan suaminya.

__ADS_1


"Sebaiknya ayo kita makan sekarang, tadi kurirnya sudah datang saat kamu masih mandi," ajak Reymond yang sudah kembali mendengar suara perut istrinya


__ADS_2