
Setelah sadar dari pingsannya, Fatma hanya berdiam diri. Ia masih memikirkan semua yang sudah terjadi padanya, ia juga tidak mengerti dengan sikap yang Reymond tunjukkan padanya. Hingga saat waktu makan siang usai, Fatma masih tidak menyentuh piringnya.
"Kak, apa ada hal yang sedang kamu pikirkan?" tanya Tio saat melihat Fatma hanya diam saja.
"Tidak apa-apa, Yo. Jangan khawatirkan kakak, aku baik-baik saja" jawab Fatma disertai dengan senyuman.
"Baiklah, sekarang kakak makan dulu. Aku ingin melihat keadaan Tantri" ucap Tio.
"Tunggu, kakak ikut, Yo" ucap Fatma menghentikan pergerakan Tio yang baru akan melangkah keluar.
"Tapi badan kakak masih lemah, sebaiknya kamu istirahat saja kak" jawab Tio yang langsung mendapat gelengan kepala dari Fatma.
"Kakak ikut, kakak mau lihat keadaan Tantri. Boleh ya?" mohon Fatma seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Tio menghembuskan nafasnya kasar, Fatma akan susah dicegah jika sudah memiliki keinginan.
"Baikkah selesaikan dulu makan siangmu, kak. Aku akan mencarikan kursi roda untukmu" jawab Tio sambil meninggalkan Fatma yang sudah mulai memakan makanannya.
Dengan segera Fatma memakan makanan siangnya, ia sangat ingin mengetahui keadaan tentang Tantri. Fatma belum lagi mendengar kabar Tantri setelah kemarin sore selesai dioperasi.
Tak lama kemudian Tio datang dengan membawa kursi roda.
"Sudah selesai makannya kak?" tanya Tio yang melihat Tantri sedang meminum air.
"Sudah,Yo. Kamu sudah makan siang belum?" tanya Fatma pada Tio, karena dia belum melihat adik laki-lakinya itu makan siang.
"Sudah, kak. Tadi aku makan siang di kantin saat kakak belum siuman" jawab Tio seraya memegang botol infus milik Fatma dan membantunya untuk menaiki kursi roda yang sudah ia siapkan.
"Syukurlah, kalau begitu ayo kita temui Tantri dulu" ajak Fatma dengan semangat.
Tio pun mulai mendorong kursi roda yang ni naikin oleh Fatma menuju ruang rawat Tantri.
Sesampai di sana, ia melihat Paman Andre dan Bibi Fani sedang duduk di kursi tunggu di luar ruangan.
"Bibi kenapa tunggu di luar?" tanya Fatma.
"Fatma? Kenapa kamu juga bisa di rawat di sini? Naik kursi roda pula, kamu sakit?" tanya Bibi Fani dengan sinis.
Fatma sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Gimana keadaan Tantri di dalam?" tanya Tio.
__ADS_1
"Tantri sedang di periksa saja, tadi dia sudah siuman" jawab Paman Andre.
"Benarkah? Syukurlah kalau Tantri sudah sadar. Mudah-mudahan dia lekas sembuh" ucap Fatma dengan gembira, tentu saja dia bahagia mendengar kabar bahwa Tantri sudah siuman, itu tandanya dia sudah melewati masa kritisnya.
Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa Tantri pun keluar dari ruangan itu bersama dengan seorang perawat.
"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Fatma dengan semangat.
"Alhamdulillah, pasien sudah stabil tinggal menjalani beberapa serangkaian pengobatan yang lain dan tinggal masa penyembuhan saja" jawab dokter itu.
"Syukurlah, terima kasih dokter. Apa saya sudah bisa melihatnya sekarang?" tanya Fatma lagi.
"Silakan, saya harap tidak lebih dari 2 orang dulu yang masuk ke dalam ruangan" jawab dokter itu.
"Baik dokter, terima kasih banyak sebelumnya" ucap Fatma.
"Sama-sama, nona" jawab dokter itu sebelum berlalu dari ruang perawatan Tantri.
Setelah kepergian dokter itu, Fatma meminta izin kepada Paman dan Bibinya untuk menengok Tantri terlebih dahulu bersama Tio.
"Paman, bolehkah aku dan Tio melihat keadaan Tantri sekarang?" tanya Fatma pada Pamannya.
Paman Andre hanya menganggukan kepalanya tanda persetujuan, sedangkan Bibinya tidak menanggapi dan hanya memperhatikan saja.
"Kakak" lirih Tantri saat melihat kedatangan kedua saudaranya.
"Bagaimana perasaan mu saat ini?" tanya Fatma penuh perhatian.
"Aku merasa sakit kepala, kak. Mungkinkah ini efek dari pasca operasi?"
"Sepertinya begitu, Apa kamu sudah menanyakan hal itu pada dokter tadi?"
"Sudah kak, dokter hanya berkata sakit ini akan terasa saat saja"
"Syukurlah, mudah-mudahan kamu cepat pulih dan cepat pulang kembali"
"Ya semoga saja. Lalu kenapa Kakak memakai kursi roda dan juga baju pasien di sini? Apa kakak juga sedang sakit?"
"Tidak, kakak hanya sedang kelelahan saja"
"Benarkah? Syukurlah jika kakak tidak sedang sakit"
__ADS_1
Fatma hanya menipiskan bibirnya saat Tantri berbicara seperti itu, dia tidak mungkin menceritakan semua yang dialami pada kedua adik-adiknya.
"Tantri apa kamu mengingat sesuatu saat sebelum kecelakaan itu terjadi?"
"Aku tidak terlalu mengingatnya kak, karena saat itu jalanan sedang ramai dan aku juga sedang bersama dengan teman-temanku"
"Apa kamu ingat ciri-ciri mobil yang sudah menabrakmu itu?"
"Aku tidak mengetahui hal itu, karena kejadiannya berlalu sangat cepat"
Fatma tidak lagi bertanya, sedangkan Tio hanya diam saja tanpa ikut bertanya apa-apa.
Setelah selesai berbincang, ketiga saudara itupun berpisah. Tio kembali membawa Fatma masuk ke ruang perawatannya.
"Yo, kapan kakak diperbolehkan pulang?" tanya Fatma saat mereka sudah berada di dalam ruangan itu.
"Mungkin sekitar 2 hari lagi, kak. Dokter juga belum membicarakan apa-apa terhadap kondisi yang kakak alami, karena beliau meminta untuk berbicara langsung pada tuan Reymond" jawab Tio.
Dokter memang memiliki informasi penting terkait kesehatan mental dan juga fisik Fatma, jadi beliau hanya ingin membicarakan kondisi Fatma itu dengan Reymond yang merupakan suami pasiennya.
"Oh, padahal kakak sudah tidak betah berada di sini" ucap Fatma dengan sedih.
"Bersabarlah dulu kak, semua ini juga untuk kesehatan mu" jawab Tio.
Hari mulai beranjak petang. Tio ingin pulang untuk membersihkan diri, tapi ia tidak mungkin bisa meninggalkan Fatma sendirian di sana.
" Tidak apa-apa, Yo. Kamu pulanglah dulu kakak bisa meminta bantuan dari suster jika menginginkan sesuatu, lagi pula Kakak juga merasa sudah lebih baik daripada tadi siang" ucap Fatma saat melihat Tio yang enggan beranjak meninggalkannya.
"Tapi nanti kakak akan kesepian jika aku tinggalkan sendiri" jawab Tio.
"Kakak benar tidak apa-apa, Yo. Kamu pulang saja" ucap Fatma untuk meyakinkan Tio.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Tio memutuskan untuk pulang sebentar.
"Baiklah, kakak baik-baik di sini, aku akan segera kembali lagi" ucap Tio sambil menyiapkan kembali tas yang berisi keperluan mereka yang akan dibawa pulang.
Fatma menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Tio Fatma pun memilih untuk memejamkan matanya, ia masih memikirkan bagaimana kehidupan pernikahannya dengan Reymond dan siapa orang yang sudah mencelakai adiknya. Apakah dia orang yang sama atau bukan?
Fatma masih mengingat janji Reymond yang akan menjamin keselamatan keluarganya, tapi yang terjadi saat ini tidaklah sesuai dengan yang Reymond katakan.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗