
Rey menatap Fatma tanpa berkedip, dirinya sudah di kuasai oleh alkohol yang tadi ia konsumsi karena kesal terhadap Nadira istri siri-nya.
Flashback on
Siang tadi Nadira ijin padanya untuk mengunjungi rumah orang tuanya, dan Rey pun mengijinkannya. Sebenarnya Rey merasa heran, setiap kali Nadira pulang ke rumahnya, ia selalu menolak untuk diantar oleh Rey dengan alasan jika ia tidak ingin merepotkan suaminya itu.
Hingga tadi sore saat Nadira pergi, Rey pun diam-diam mengikutinya tanpa sepengetahuan Nadira.
Rey melihat Nadira masuk ke semua rumah sederhana, dia melihat ada sosok anak kecil yang berjenis kelamin perempuan menghampirinya dengan berlari dan memeluk Nadira. Yang Rey ketahui jika Nadira tidak suka terhadap anak kecil apalagi sampai mau dipeluk seperti tadi. Setelah kedatangan anak kecil itu, dari dalam rumah ada sosok pria beserta seorang wanita paruh baya menghampiri Nadira.
Rasanya ingin sekali Rey menghampiri Nadira dan bertanya tentang semua yang ia lihat, tapi belum sempat Rey turun dari mobilnya, Nadira beserta laki-laki dan wanita paruh baya tadi membawa anak kecil itu pergi dari sana dan menaiki mobil yang Nadira bawa.
Rey masih berniat ingin mengikuti Nadira pergi, tapi kemudian ia menerima telpon dari Zio yang mengatakan bahwa Leandro dan istri pertamanya itu kini bertetangga di gedung apartemen yang Rey beli untuk Fatma.
"Bukankah Lean ikut bersama bibi Camila pulang ke negara B?" tanya Rey memastikan pendengarannya.
"Tidak Rey, Lean masih ada di sini. Tadi setelah aku mengirimkan keperluan istri kecil mu, aku bertemu dengannya. Meskipun hanya berpapasan, tapi aku sangat yakin itu adalah Lean" jawab Zio sang asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Ada perlu apa dia di sini?" tanya Rey lagi.
"Entahlah Rey, aku tidak mengetahui alasannya" jawab Zio apa adanya.
"Oh ya Rey, apa kau tidak ingin menanyakan sesuatu tentang istri siri mu?" tanya Zio yang ingin memancing reaksi Rey.
"Apa yang harus ku ketahui darimu? Aku bisa menanyakan semua hal pada istri tercinta ku itu" jawab Rey dengan bangganya.
Dari sebrang sana, Zio terdengar menarik nafas panjang.
"Terserah kau saja, jika saat ini aku mengatakan hal buruk pun kau tidak akan percaya kan?" tanya Zio yang sudah mulai kesal dengan sikap Rey karena buta akan cinta yang salah.
Rey sendiri hanya menanggapi pertanyaan Zio dengan tawa pelannya. Menurut Rey, Zio memang tidak menyukai Nadira. bahkan saat pernikahan Rey dan Nadira akan berlangsung, Zio sempat menentangnya.
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan tentang Nadira lagi, percayalah padaku Nadira itu adalah orang yang baik" jawab Rey dengan santainya.
"Ya... ya... ya... Terserah kau saja, aku muak harus berdebat dengan mu" jawab Zio yang sudah kesal.
__ADS_1
Setelah Rey mematikan panggilannya, dia pun berniat untuk mencari kembali Nadira. Tapi sayang karena terlalu lama menerima panggilan dari Zio, akhirnya Rey kehilangan jejak Nadira.
Rey pun menjalankan mobilnya menuju kediaman orang tua Nadira, dia akan mencari Nadira di sana.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, akhirnya Rey sampai di kediaman orang tua Nadira. Rey melihat kedua orang tua itu tengah duduk santai di sebuah gazebo yang ada di halaman rumahnya.
"Nak Rey, Ada apa kemari? Mana Nadira? Apa kau datang sendiri?" tanya ibu Nadira yang menyadari kehadiran Rey di sana.
Sejenak Rey merasa bingung dengan pertanyaan yang Ibu Nadira lontarkan padanya.
"Kenapa ibu malah bertanya Nadira pada ku? Aku saja datang kemari untuk bertanya keberadaan Nadira padanya. Apa Nadira sudah mulai membohongi ku? Tapi itu tidak mungkin" gumam Rey dalam hatinya.
"Tidak ada apa-apa bu, saya kemari hanya ingin melihat keadaan ibu dan bapak. Apa kalian berdua dalam keadaan sehat?" tanya Rey pada ibu Nadira.
"Kami sehat nak, bagaimana dengan kabarmu dan Nadira? Kenapa Nadira tidak ikut kemari?" tanya ibu Nadira lagi.
"Lho, bukankah Nadira baru mengunjungi mereka dua hari yang lalu?" tanya Rey dalam hatinya.
"Kabarku dan Nadira sehat, bu. Nadira tidak kemari karena dia ada urusan dengan beberapa teman sosialitanya, mungkin sekarang masih sibuk jadi belum sempat datang kemari" jawab Rey. Dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.
"Amin pak, terima kasih atas doanya" ucap Rey lagi.
Bapak kandung Nadira itu hanya tersenyum sebagai jawaban ucapan Rey, sebenarnya beliau tidak setuju dengan pernikahan yang Nadira dan Rey jalani tapi karena suatu hal, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah berbincang sejenak, Rey pun pamit undur diri dari hadapan kedua orang tua istri siri-nya itu.
dia masih bingung untuk mencari Nadira kemana lagi, Rey tidak menempatkan mata-mata untuk mengawasi Nadira, karena ia begitu percaya pada istri sirinya sehingga membuatnya tidak melakukan hal itu.
Hari sudah semakin sore, Rey memutuskan untuk pulang ke mansion, dan berharap jika Nadira ada di sana.
Ternyata benar dugaannya, Nadira sudah kembali.
"Sayang tadi siang kau pergi kemana?" tanya baik-baik pada istrinya yang sedang duduk bersantai di sofa tunggal yang ada di kamarnya.
"Aku pergi mengunjungi rumah kedua orang tua ku seperti biasa. Ada apa? Kenapa kau menanyakan hal itu?'' tanya Nadira sedikit was-was.
__ADS_1
''Benarkah? Apa kau sedang tidak membohongiku?" tanya Rey dengan tatapan intimidasi.
"Rey, Aku tidak pernah sekalipun membohongimu. Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mencurigai ku?" tanya Nadira dengan wajah sedihnya.
Rey yang sudah tidak tega melihat wajah sedih Nadira hanya bisa berlalu dari sana, karena ia pun sedang kesal, ia tidak mau melukai Nadira jadi Rey pergi ke bar mini yang ada di ruang kerjanya, dan mengurung diri di sana hingga ia merasa sedikit mabuk.
Rey juga mengingat perkataan Zio yang mengatakan jika Leandro sepupunya menjadi tetangga unit istri pertamanya, dengan segera Rey pun menyambar kunci mobilnya dan pergi ke apartemen milik Fatma.
Flashback off.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Fatma pada Rey yang sedari tadi hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Bahkan mereka berdua masih berdiri di pintu masuk apartemen itu.
Mendengar pertanyaan Fatma, Rey pun mulai berjalan masuk ke unit itu, Fatma membiarkan Rey masuk ke dalam apartemennya, dia pun menutup pintu itu setelah Rey masuk.
Rey berjalan menuju sofa yang ada di sana, sedangkan Fatma hanya mengikutinya dari belakang.
"Tuan, apa anda mau saya buatkan minuman?" tanya Fatma lagi, setelah melihat pria itu duduk di sofanya.
Rey masih tidak menjawab pertanyaan Fatma, dia hanya menatap lurus gadis yang kini berdiri di hadapannya, dan tanpa mengatakan apa-apa, tiba-tiba saja Rey menarik Fatma hingga ia terjatuh menimpa tubuh Rey.
"Tuan, apa yang anda lakukan? Kenapa menarik saya tiba-tiba seperti itu?" tanya Fatma yang sudah mulai ketakutan.
"DIAM KAU" ucap Rey dengan tegasnya.
Fatma pun hanya diam saja karena takut jika Rey akan marah padanya. Perlahan Rey bangkit dari sofa itu menuju kamar yang biasa Fatma tempati dengan membawa Fatma di pangkuannya.
Fatma merasa takut dengan semua perlakuan Rey padanya, ingin menolak tapi ia takut jika Rey melakukan kekerasan padanya.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh takut berhadapan dengan tuan Rey, apalagi di unit ini hanya kami berdua" batin Fatma.
Perlahan Rey menidurkan Fatma di ranjang itu dan mulai m*******nya. Fatma merasa syok dengan perlakuan Rey terhadapnya, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menghalangi tindakan Rey padanya, Tapi semua usahanya sia-sia. Rey melupakan sesuatu, bukankah dia bilang jika Fatma hanyalah istri di atas kertas?
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗
__ADS_1