Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 42


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa, Fatma akan bangun saat dini hari untuk membuat beberapa kue jajanan pasar yang akan Tio jajakan. Saat ia sedang fokus untuk mengukus kue tradisional basah, Reymond keluar kamar dan menghampirinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan pagi-pagi begini?" tanya Reymond pada Fatma.


"Saya sedang membuat jajanan kue untuk berjualan di pasar nanti" jawab Fatma


Reymond tidak mengira jika fatma juga bisa membuat jajanan kue tradisional, selama ini ia berfikir jika Fatma akan mengambil kue dari seseorang dan menjualkannya.


"Apa ada yang bisa aku bantu, Fatma?" tanya Reymond yang tidak tega jika Fatma bekerja sendirian.


"Tidak perlu, tuan. Saya bisa sendiri" tolak Fatma saat Reymond menawarkan bantuan untuknya.


Tapi, bukan Reymond namanya jika perkataan Fatma yang menolaknya akan di turuti. Meskipun ia tidak mengerti bagaimana cara membuat kue, tapi ia tidak menyerah dan meminta Fatma untuk mengajarkannya.


"Fatma ini bagaimana cara mengaduknya?" tanya Reymond sembari memegang alat pengocok telur.


"Tuan, anda tidak perlu membantu saya, saya masih bisa sendiri untuk mengerjakannya" tolak Fatma.


"Tidak, biarkan aku membantu" mohon Reymond.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Fatma mengalah dan membiarkan Reymond membantunya.


"Baiklah, anda tinggal melakukannya seperti ini" ucap Fatma seraya memberikan contoh.


Reymond pun memperhatikan gerakan tangan Fatma dengan teliti, setelah cukup mengerti kini gilirannya yang mengambil alih pekerjaan itu. Mereka berkutat di dapur hingga dua setengah jam dan barulah selesai saat waktu subuh tiba.


"Apa kau terbiasa bangun seperti tadi?" tanya Reymond saat mereka sudah selesai menata kue yang baru mereka buat ke dalam salah satu wadah.


"Iya, saya sudah terbiasa bangun saat dini hari untuk segera membuat jajanan kue basah untuk kami jajakan di pasar" jawab Fatma tanpa menghentikan gerakan tangan yang sedang mengerjakan pekerjaan lainnya.


"Apa kau tidak lelah terus seperti itu? Apalagi saat ini kau sedang mengandung?" tanya Reymond sedikit penasaran, karena setahunya wanita yang sedang hamil muda itu sangat sensitif mencium bau-bauan dan mudah merasa lelah.


Fatma tersenyum simpul saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Tentu saja saya merasa lelah, tuan. Tapi saya tidak mempunyai pilihan lain untuk tidak melakukannya. Dan saya juga akan melakukan apapun untuk bertahan hidup selagi saya mampu" jawab Fatma yang membuat Reymond sedikit tercubit hatinya.


"Apakah seperti ini caramu menghidupi seorang Istri? dia bahkan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari tanpa meminta padamu. Padahal kamu adalah seorang pria yang mapan dan sukses, tetapi berbanding terbalik dengan keadaan istrimu yang bersusah payah untuk mencari makan sendiri" batin Reymond memarahi dirinya sendiri.


Setelah terdiam beberapa saat, Reymond pun mulai ikut membantu Fatma mengerjakan pekerjaan yang belum diselesaikan.


"Fatma, jika aku membawa kalian pindah dari rumah ini, apa kau mau?" tanya Reymond tiba-tiba yang langsung menghentikan gerakan Fatma.


"Tidak perlu, tuan. Anda tidak perlu repot-repot melakukan hal itu" tolak Fatma baik-baik.


"Aku mohon, kali ini kau jangan menolak keinginan ku. Aku benar-benar khawatir jika harus meninggalkanmu di sini sendirian, apalagi Nadira sudah mengetahui rumah kamu, dan sepertinya Bibi Fani pun belum menyerah karena kamu sudah menolaknya. Aku khawatir pada kalian jika mereka melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi" ucap Reymond.


Fatma tidak menanggapi perkataan Reymond, ia masih tetap mengerjakan pekerjaannya tanpa menghiraukan Reymond yang sedang berbicara di sampingnya.


"Tuan, bukankah anda selalu berkata jika setiap pagi anda selalu mengalami mual dan pusing? Apakah hari ini ada tidak merasakannya?" tanya Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan Reymond.


"Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan kita?" tanya Reymond yang sadar jika Fatma sedang menghindarinya. Ya, meskipun dia sadar apa yang Fatma tanyakan padanya, pagi ini dia tidak merasa mual atau pun pusing. Padahal ia tidak tidak dengan waktu yang cukup.


"Ti–tidak, tuan. Saya tidak bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan anda. Hanya saja, saya benar-benar tidak ingin pergi lagi dari rumah ini" jawab Fatma sambil menundukkan kepalanya sedih.


"Fa–Fatma, maaf aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih" ucap Reymond.


"Tidak apa-apa, tuan. Terimakasih karena anda sudah mengkhawatirkan kami, tapi kami tetap ingin tinggal disini, karena rumah ini adalah rumah orang tua kami" jawab Fatma.


Reymond pun menghembuskan nafasnya sedikit kecewa, ia kira akan mudah mengajak Fatma untuk ikut pindah bersamanya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu. Tapi biarkan aku melakukan hal lain untuk melindungi kalian" ucap Reymond


Fatma tidak mengerti ucapan Reymond yang mengatakan "hal lain untuk melindungi mereka".


"Maksud, tuan?" tanya Fatma dengan penasaran.


"Pokoknya kau jangan menolak apapun yang aku berikan" jawab Reymond.

__ADS_1


Fatma menggelengkan kepalanya ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud jawaban Reymond.


"Terserah anda saja, tuan. Yang terpenting jangan sampai mengganggu aktivitas kami" ucap Fatma.


Tak lama kemudian, Tantri dan Tio keluar dari kamarnya masih dengan pakaian sehari-hari. Rencananya mereka akan ke pasar untuk menjajakan kue itu.


"Kalian sudah bangun?" tanya Reymond pada Tio dan Tantri.


"Iya, tuan. Kami harus ke pasar untuk menjual kue-kue itu" jawab Tio.


"Bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya Reymond.


Tiga saudara itu saling menata satu sama lain, mungkin mereka sedang bertanya lewat tatapan mata. Setelah Fatma sedikit menggelengkan kepalanya, Tio langsung menolak keinginan Reymond.


"Tidak tuan, biar kami berdua saja yang pergi. Kami sudah terbiasa" tolak Tio.


Reymond pun menatap Tio dengan tatapan memohon.


"Tidak, tuan. Lebih baik anda menjaga kak Fatma disini" ucap Tio spontan yang membuat Fatma membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan Tio.


Lain halnya dengan Reymond yang langsung tersenyum mendengar ucapan Tio.


"Baiklah, benar perkataan Tio. Lebih baik aku di sini saja untuk menjagamu" ucap Raymond dengan penuh arti.


Fatma tidak menanggapi ucapan Raymond, ia hanya meliriknya sebentar dan meninggalkan suaminya itu masuk ke kamarnya.


"Ya sudah, tuan. Kami pamit pergi dulu, takut keburu kesiangan" ucap Tio yang mendapat anggukan dari Tantri.


"Kalian berhati-hatilah di jalan" ucap Reymond sebelum membiarkan mereka berdua pergi.


Setelah Tantri dan Tio pergi ke pasar kini tinggal Reymond dan Fatma di rumah itu. Reymond mencoba untuk mengetuk pintu kamar Fatma, tapi tidak mendapat jawaban. Ia pun mencoba untuk memutar kenop pintu itu dan ternyata tidak dikunci, Reymond mencoba melihat ke dalam kamar itu dan menemukan Fatma yang kembali tertidur. Setelah sembahyang tadi, Fatma memang sudah sangat mengantuk, dan kini ia pun melanjutkan tidurnya setelah Tio dan Tantri pergi.


"Mungkin dia sangat lelah" gumam Reymond seraya menutup pintu kamar Fatma kembali.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗


__ADS_2