Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 70


__ADS_3

Di tempat lain, lebih tepatnya di apartemen yang ditempati Rumi. Wanita itu sedang kesal, hampir semua barang yang ada di apartemen itu ia hancurkan begitu saja. Bagaimana tidak kesal, jika rencananya gagal karena kesalahan seorang pelayan restoran tadi.


FLASHBACK ON


Setelah kepergian Reymond dan Fatma, salah seorang pelayan restoran segera menghampiri dan meminta maaf padanya, karena sudah salah memberikan minuman pada teman tamunya.


"Apa maksudmu dengan salah memberikan minuman itu?" tanya Rumi, berang sambil menatap ganas pelayan itu.


"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," jawab pelayan itu dengan menunduk ketakutan saat melihat pelanggannya marah.


"Akh ...! Dasar tidak bec*s ...! Tidak berguna ...! S***an ...!" umpat Rumi sambil menggebrak meja. "Aku tidak akan membayar mu, sebaliknya kamu harus bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah kamu lakukan," sambungnya dengan menunjuk wajah wanita pelayan di depannya.


Sedangkan pelayan itu hanya menunduk karena ia memang menyadari kesalahannya, Rumi meninggalkan restoran itu masih dalam keadaan yang marah.


FLASHBACK OFF


"Harusnya apa yang aku rencanakan itu berjalan dengan sempurna, bukan malah gagal seperti ini ...!" teriaknya sambil terus membanting hiasan yang ada di apartemennya.


Rumi berniat akan membuat Reymond mendatanginya dalam keadaan ter*ng*sang, ia sudah memastikan jika Reymond tidak akan menyentuh Fatma, karena ia tahu jika istrinya itu baru selesai keguguran beberapa minggu yang lalu dan pasti Reymond akan datang padanya dalam keadaan marah, saat itulah rencananya akan dijalankan, tapi sekarang rencana itu sudah gagal total.


"Akh ...! Dasar bo*oh ...! Tidak berguna ...!" umpatnya lagi.


Setelah marah-marah seperti itu, Rumi pun menangis tersedu hingga akhirnya ia akan tertidur karena kelelahan.


***


Reymond semakin khawatir saat mendengar istrinya meminta tolong dengan suara yang lirih.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reymond dari luar kamar mandi. Saat hendak membuka pintunya, Reymond kesulitan karena terkunci dari dalam. Dengan segera, ia pun mendobrak pintu kamar mandi itu.

__ADS_1


BRUK


BRUK


BRAK


Pada dorongan terakhir, pintu itu berhasil terbuka. Reymond melihat istrinya sudah terduduk di bawah guyuran shower air dingin, dalam keadaan basah kuyup. Tanpa bertanya lagi, ia segera mematikan guyuran air itu dan mengangkat tubuh istrinya untuk di bawa keluar kamar mandi.


Fatma sudah dalam keadaan yang setengah sadar, matanya menatap sayu sang suami. Saat Reymond sudah mendudukkannya di atas sofa, tiba-tiba Fatma menyerangnya begitu saja, sehingga membuat Reymond terkejut dengan tindakan yang sudah ia lakukan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reymond dengan khawatir saat ia sudah melepaskan diri dari serangan istrinya.


"Mas ... tolong ..." Fatma berucap dengan sayu, memohon pertolongan pada suaminya agar menghilangkan rasa tidak nyaman pada tubuhnya.


Reymond mengerti dengan tatapan istrinya, Fatma dalam keadaan yang tidak baik. Meskipun masih khawatir dengan keadaan Fatma yang belum benar-benar pulih, tapi saat ini istrinya lebih membutuhkan 'itu'. Reymond di buat bingung sekaligus khawatir secara bersamaan.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku membiarkannya seperti ini, tapi tidak mungkin juga jika aku menyakitinya dengan cara ini, batin Reymond. Setelah berfikir sejenak, ia melihat kalender yang ada di atas mejanya, ia ingat jika dokter pernah berkata waktu pemulihan Fatma itu sekitar empat sampai dengan lima minggu dan ini adalah minggu ke lima.


Tanpa menunggu lama lagi, Reymond pun mulai menciumnya yang langsung di sambut oleh sang istri dan akhirnya, terjadilah ...


Semoga ini menjadi awal yang semakin baik untuk kita di kemudian hari, batin Reymond sambil terus mengimbangi permainan istrinya. Cukup lama mereka melakukan hal itu sampai efek obatnya benar-benar hilang, Reymond sendiri merasa kelelahan di buatnya. Fatma langsung tertidur setelah kelelahan, sedangkan Reymond membantu istrinya untuk membersihkan sisa-sisa peluh percintaan mereka. Reymond tidak mau jika istrinya merasa tidak nyaman saat bangun tidur nanti, setelah selesai ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


"Selamat beristirahat, sayang. Maaf dan terima kasih," gumam Reymond sambil mencium kening Fatma sebelum ia menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


Fatma terbangun saat menjelang malam hari dengan tubuh kaku dan pegal-pegal, ia berusaha mengingat semua yang sudah terjadi padanya, tapi hasilnya nihil. Ia tidak mengingat satu potong pun selain terakhir kali masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin karena merasa kepanasan.


Saat berbalik ke samping, Fatma tidak melihat keberadaan suaminya di sana dan ia juga menemukan tubuhnya tidak memakai sehelai benang pun dibalik selimut yang menutupinya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa? batin Fatma yang masih kebingungan.


Saat ia masih terdiam, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan Reymond dengan wajah cemas sekaligus lega. Tanpa menunggu lama, ia pun segera menghampiri Fatma yang sudah terduduk di atas tempat tidurnya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Kamu baik-baik saja, kan? Maaf karena lagi-lagi aku tidak menjagamu dengan benar," sesal Reymond dengan wajah terduduk sambil menggenggam tangan istrinya.


"Aku baik, Mas. Hanya saja badan ku sangat pegal," jawab Fatma sambil tersenyum dan mengusap lengan suaminya dengan lembut.


"Syukurlah, aku sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu," ucap Reymond yang merasa lega.


Fatma sedikit mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh sang suami. "Memangnya apa yang terjadi padaku, Mas?"


Reymond menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ia bingung harus menyampaikannya seperti apa pada Fatma.


"Ehmm, sebenarnya ... maaf ..."


Fatma semakin tidak mengerti dengan ucapan suaminya yang hanya meminta maaf. "Sebenarnya kenapa, Mas? Jangan membuatku bingung seperti ini."


Sebelum menjawab, Reymond menarik nafasnya terlebih dulu. "Sebenarnya ... Rumi sudah mencampurkan sesuatu pada minuman milikku yang kamu minum tadi."


Mata Fatma seketika membeliak setelah mendengar ucapan suaminya. "A–apa? Bagaimana bisa dia melakukan hal itu?"


"Maka dari itu aku tidak mempercayainya, sayang. Tapi, sekarang kamu bisa tenang aku sudah mengurusnya dengan benar, dia tidak akan lagi mencelakaimu ataupun mengancam lagi," jawab Reymond sambil menenangkan istrinya.


"Sangat disayangkan sekali, padahal aku benar-benar berniat untuk membantunya, karena dia pernah menjadi sahabatmu, Mas," ucap Fatma seraya menunduk. Ia benar benar menyayangkan sifat Rumi yang tidak bisa melihat letak kebaikan seseorang.


"Sudahlah, sayang. Semuanya tidak perlu disesali lagi, itu adalah pilihan hidupnya, yang penting sekarang kamu sudah aman."


"Hemmm, terima kasih, Mas."

__ADS_1


Reymond tersenyum menanggapi ucapan Fatma. "Mulai sekarang aku akan selalu menjagamu dengan lebih baik."


__ADS_2