
"Alhamdulillah, janin ibu baik-baik saja," ucap dokter itu pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Reymond.
"Janin? Maksud dokter apa?" tanya Reymond dengan penasaran. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter itu.
Dokter itu berbalik dengan menatap Reymond dan Fatma secara bergantian.
"Mari, saya jelaskan," jawab dokter itu seraya melangkah menuju meja dan kursi tempat pemeriksaan berada.
Dengan perlahan Fatma turun dari ranjang pemeriksaan itu, Reymond yang berniat untuk membantunya, di tolak oleh Fatma.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuan Reymond pasti akan marah besar saat ia tahu jika aku sedang mengandung anaknya. Ini salahku juga yang waktu itu lupa untuk langsung minum obatnya, tapi kehadiran anak-anak ini bukanlah suatu kesalahan. Aku harap Tuan Reymond mau membebaskan kami dan tidak akan melukaiku maupun kedua janinku ini, batin Fatma, ia masih teringat ucapan Reymond saat pertama kali mereka tidur bersama.
Setelah berhasil turun dari ranjang pemeriksaan, dengan perlahan Fatma pun melangkah menuju kursi yang tersedia di depan meja dokter itu, dengan diikuti Reymond di belakangnya.
"Alhamdulillah, saat ini janin-janin ibu tidak mengalami hal yang membahayakan. Hanya saja, tolong jangan terlalu berpikiran berat dan melakukan hal-hal yang berat juga, karena itu bisa mengganggu kesehatan ibu dan calon bayi yang ada di perut ibunya" ucap dokter itu.
Reymond kini mulai mengerti dengan arah pembicaraan sang dokter.
Apakah benar gadis kecil ini sedang mengandung? Apa itu adalah anakku? Sebaiknya aku tanyakan nanti padanya langsung, batin Reymond.
"A–apa me–mereka ba–baik-baik saja, dok?" tanya Fatma pelan, karena ia merasa ketakutan dengan tatapan Reymond padanya.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja, bu. Setelah ini, ibu harus bed rest dulu ya. Minimal 3 hari, dan ini resep obat yang harus di tebus," jawab dokter itu seraya memberikan catatan kecil pada Reymond.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Bu, kami pamit undur diri dulu," ucap Reymond dengan segera. Sebenarnya ia sudah tidak kuat lagi untuk bertanya pada Fatma.
Mereka pun pergi dari ruangan dokter itu, Reymond segera pergi menuju tempat penebusan obat untuk mengambil obat yang diperlukan oleh Fatma.
"Yo, bagaimana ini? Kakak takut jika Tuan Rey akan melukai kita. Dia tidak pernah menginginkan kehadiran anak-anak ini" ucap Fatma yang membuat Tio terkejut seketika.
"Apa maksud kakak? Bagaimana bisa kakak berbicara seperti itu?" tanya Tio yang belum mengetahui tentang keadaan Fatma yang sebenarnya karena Fatma tidak pernah menceritakan semua perlakuan Reymond padanya.
"Sebenarnya, Tuan Rey tidak pernah menginginkan anak dari ku, Yo," jawab Fatma dengan tertunduk dalam.
Tio yang mendengar jawaban sang kakak terkejut seketika, ia tidak menyangka jika ternyata pernikahan kakaknya dan Tuan Reymond tidaklah semudah yang ia ketahui.
"Terus, bagaimana sekarang, Kak? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tio yang sama bingungnya seperti Fatma.
Fatma menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Kita harus bicarakan" ucap Raymond sambil menarik pelan tangan Fatma.
Tio tidak bisa menolak Reymond yang membawa kakaknya secara tiba-tiba, dia hanya mengikuti mereka dan memperhatikan dari jarak jauh, berharap jika Tuan Reymond tidak menyakiti kakaknya itu.
"Jawab dengan jujur, anak siapa yang sedang kau kandung? Bukankah kita baru melakukan hal itu dua kali? Dan itupun kau selalu meminum obat pemberian ku, kan?"
Bahkan keberadaan mereka pun di ragukan? batin Fatma sedih.
__ADS_1
"Tuan benar, kita memang melakukannya hanya dua kali, dan saat yang terakhir, saya lupa meminum obatnya karena pingsan di bak mandi saat itu. Tuan tenang saja, saya masih mengingat ucapan anda waktu itu yang mengatakan jika anda tidak ingin memiliki anak bersama saya. Maka dari itu, mereka hanyalah anak saya. Anda jangan khawatir, saya tidak akan meminta pertanggungjawaban atas anak ini," ucap Fatma dengan berani, ia tidak ingin jika kedua janinnya dilenyapkan oleh Reymond. Dia bertekad untuk melindungi kedua anak-anaknya nanti.
Reymond menyunggingkan senyumnya, entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.
"Benarkah mereka itu anak-anakku? Bukan anak dari sepupuku?" tanya Reymond.
Ia berfikir jika Nadira saja yang ia cintai bisa memiliki anak bersama orang lain, bagaimana dengan Fatma? Wanita itu bahkan tidak pernah ia sukai, apalagi Fatma dan Leandro berhubungan baik.
"Serendah itukah saya di mata anda tuan?" tanya Fatma dengan nada bergetar. Ia tidak percaya jika Reymond masih mengira hubungan antara dirinya dan Leandro adalah sebuah perselingkuhan.
"Kenapa aku harus percaya jika itu adalah anak ku? Sedangkan kau selalu menghabiskan waktu bersama Leandro, bahkan Leandro-lah yang dikira suamimu oleh para tetangga," ucap Reymond.
"Aku bahkan tidak pernah sekalipun membiarkan Leandro masuk ke dalam rumahku, bagaimana Anda bisa percaya dengan ucapan tetangga, tanpa bertanya pada Leandro ataupun saya?" tanya Fatma mulai emosi.
"Buktikan dulu jika itu adalah darah daging ku, maka aku akan mengakuinya," titah Reymond.
Fatma menyunggingkan senyumnya sinis di tengah wajah yang mulai basah karena air matanya.
"Tidak perlu, seperti ucapan saya di awal tadi. Anda tidak perlu repot-repot mengakui anak-anak ini, karena mereka tidak membutuhkan Ayah yang tidak menginginkannya sejak awal," jawab Fatma sebelum berlalu meninggalkan Reymond yang masih berdiri di tempatnya.
Terlalu sakit hati atas tuduhan yang Reymond tunjukkan padanya, dulu ia di s*tbu*i dengan alasan supaya ingat akan statusnya dan kedua kali pun dengan alasan yang sama. Dari awal ia sudah di tuduh berselingkuh, kini anak-anaknya pun di ragukan. Lalu untuk apa ia harus membuktikan hasil yang nantinya akan kembali di sia-siakan.
Fatma berjalan cepat dengan menahan sakit yang mulai terasa lagi di perutnya, Tio pun ikuti langkah Fatma dibelakangnya, mereka segera menaiki ojek yang ada di sana untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗