Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 41


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sederhana, lima orang yang tengah berkumpul, tiga di antaranya adalah orang dewasa, dan salah satu dari mereka adalah orang yang paling berkuasa.


"Jelaskan sekarang, kenapa Bibi tega untuk menguras keponakan mu sendiri. Padahal penghasilan ada lebih besar daripada keponakan? Apa alasan yang pas untuk anda melakukan hal itu?" tanya Reymond.


Ya, Reymond kembali ke rumah Fatma karena ada sesuatu yang tertinggal miliknya, meskipun barang itu tidak penting, tapi ia jadikan alasan supaya bisa kembali lagi ke rumah sederhana itu. Dan saat sampai di sana ternyata sedang terjadi keributan, dia melihat Bibi Fani yang memaksa Tantri untuk ikut pulang bersamanya. Sedangkan Fatma mencoba untuk menahan kepergian Tantri, karena Tantri sendiri menolak untuk ikut bersama Bibi Fani.


"Sa–saya minta maaf tuan. Saya, saya hanya meminta saya yang dulu pernah dipakai oleh kedua orang tua Fatma" jawab Bibi Fani dengan takut.


"Bukankah hutang Ibu dan Ayah sudah lunas, saat Bibi mengambil sebagian tanah milik kami?" tanya Fatma. Karena setahunya hal itu memang sudah selesai dari beberapa tahun yang lalu.


"S***, kenapa anak kecil seperti dia mengetahui hal itu? Seharusnya mudah melakukan ini jika Fatma tidak benar-benar mengetahuinya" batin Bibi Fani.


"Tahu apa kamu, Fatma? Waktu itu kamu masih kecil!" ucap Bibi Fani.


Fatma berdiri, dan melangkah masuk ke kamarnya, tak lama kemudian ia membawa map yang berisikan surat-surat penting peninggalan kedua orang tuanya. Fatma mengambil sehelai kertas yang berada di dalam map itu, di sana ada perjanjian pelunasan hutang beserta tanda tangan diatas materai.


"Bibi bisa melihat bukti ini" ucap Fatma seraya mengulurkan kertas yang dia pegang.


"S***, ternyata Erin memiliki salinan yang lain" batin Bibi Fani saat ia melihat kertas tanda bukti itu.


"Jadi, sekarang anda sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk memeras Fatma, kan?" tanya Raymond yang ikut membela Fatma.


Bibi Fani tidak berani melawan Fatma saat sedang bersama Reymond, meskipun secara sah mereka sudah menjadi keponakan ipar, tetap saja Reymond adalah majikan.


"Ta–tapi tuan"


"Apalagi Bibi? Bukankah Fatma sudah memberikan bukti yang menunjukkan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak memiliki hutang lagi padamu?" tanya Reymond.


Bibi Fani sudah terlanjur bingung dan malu, dia tidak bisa lagi mengelak untuk membela dirinya.


"Baiklah, aku tidak akan meminta uang lagi padamu" ucap Bibi Fani tidak tulus dan terpaksa.


"Apakah itu cara mu meminta maaf padanya?" tanya Reymond pada Bibi Fani.


Bibi Fani menatap Fatma dengan pandangan seperti yang sedang memohon, dan Fatma pun mengerti dengan tatapan itu, akhirnya ia menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Baiklah, aku memaafkan mu, Bibi" ucap Fatma.


"Terimakasih" jawab Bibi Fani.


Setelah mengatakan terima kasih Bibi Fani pun pamit pulang, sedangkan Tantri dan Tio sudah masuk kembali ke kamar.


Reymond menatap heran pada keluarga itu.


"Apakah seperti itu perilaku Bibi Fani terhadapmu?"


"Iya. Ngomong-ngomong anda kembali lagi ke sini untuk apa Tuan? Bukankah tadi anda sudah pergi?"


"A–aku ingin menginap di sini, boleh ya?"


Fatma menatap heran pada pria yang berstatus kan suaminya itu.


"Apa anda baru saja terbentur, tuan?" tanya Fatma


Kini giliran Raymond yang menatapnya heran, ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya itu.


"Perilaku anda, sikap anda kepada saya berubah 180°"


"Iya. Aku tahu, dulu aku sangat banyak bersikap buruk padamu, dan memperlakukanmu dengan tidak baik. Maka dari itu, saat ini aku ingin meminta maaf padamu, mulai sekarang aku akan memperlakukanmu dengan baik. Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"


Mendengar penuturan Reymond, Fatma sedikit terharu. Entah apa yang harus dikatakan padanya saat ini.


"Beri saya waktu. Sekarang anda istirahatlah, tapi maaf saya tidak bisa menyiapkan kamar kosong untuk anda. Anda bisa tidur bersama Tio di kamarnya" ucap Fatma.


Ia juga meminta Tio untuk berbagi kamar dengan Reymond, dan akhirnya Raymond tidur bersama Tio.


"Tak apalah sekarang aku tidur bersama adik laki-lakinya, mudah-mudahan besok aku bisa tidur bersamanya" batin Reymond sebelum ia menutup mata dan terlelap.


***


Nadira yang baru siuman sore tadi tidak menemukan Reymond disisinya, hampir saja ia marah-marah pada perawat yang menungguinya, sebelum akhirnya kedua orang tua Nadira datang dan menemaninya.

__ADS_1


"Nad, mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya ibu Nadira.


"Apa maksud pertanyaan ibu?" tanya balik Nadira.


"Kamu hampir saja mencelakai janin yang masih ada di dalam perut mu, kamu melakukan semua itu untuk apa?" tanya ibu Nadira dengan cemas dan marah.


"Ibu gak usah ikut campur, sekarang ibu dan bapak tidak bisa lagi memberikan apa yang aku mau. Jadi biarkan aku mencari cara untuk memenuhi semua yang aku inginkan" jawab Nadira dengan nada tinggi.


"Nadira, bapak tidak pernah mendirikan seperti ini. bapak merasa kecewa terhadapmu, jika dalam waktu dekat kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Reymond, bapak sendiri yang akan mengatakannya" ucap bapak Nadira yang sedari tadi diam memperhatikan istri dan anaknya berdebat.


"Bapak jangan macam-macam, kalau bapak berani aku akan menghentikan pengobatan bapak saat ini juga. Memangnya bapak pikir aku dapat uang untuk pengobatan bapak itu dari mana? Louis saat ini tidak bisa diandalkan untuk mencari uang lebih, aku bisa membiayai pengobatan bapak itu dari uang yang Reymond berikan padaku" ancam Nadira pada bapaknya.


"Jika bapak yang menjadi alasanmu, maka hentikan saja pengobatannya, bapak juga tidak mau jika kamu terus melakukan hal yang seperti ini, Nadira" jawab bapak Nadira lagi, dia benar-benar sedih melihat anaknya yang melangkah jauh hanya karena alasan harta.


"Sekarang jawab dengan jujur, anak siapa yang sedang kamu kandung, Nadira?" tanya ibunya yang membuat Nadira sedikit gugup untuk menjawabnya, tidak mungkin jika dia mengatakan hal yang sebenarnya bahwa anak yang dikandungnya itu adalah milik Louis.


"I–ini, ini. tentu saja ini anak Reymond. Memangnya anak siapa lagi?" jawab Nadira dengan terbata dan cepat.


"Jangan berbohong, Nadira!" ucap ibunya.


"Aku tidak berbohong ibu" sentak Nadira.


Ibu Nadira merasa syok karena ini pertama kalinya ia dibentak oleh anaknya sendiri. Tanpa terasa air matanya meleleh membasahi pipi yang mulai terlihat keriput.


"Nadira, kamu harus meminta maaf pada ibumu" perintah bapaknya.


"Aku gak mau pak, ibu yang memulainya terlebih dahulu. Harusnya dia yang meminta maaf padaku" jawab Nadira menolak perintah bapaknya.


"Bu, sebaiknya kita pergi dulu dari sini, ibu harus tenangkan hati dan pikiran dulu" ajak suaminya itu pada sang istri.


Akhirnya mereka pun meninggalkan Nadira yang masih berada di atas pembaringan, dengan rasa kesalnya.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2