Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 56


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Reymond mengajak Fatma untuk menemaninya di ruang kerja. Reymond benar-benar menyiapkan semua kebutuhan mereka dengan lengkap di rumah itu, mulai dari pakaian sampai makanan isi kulkas semuanya penuh dan tidak kurang satu pun.


Saat memasuki ruang kerja Reymond, Fatma begitu takjub dengan semua buku-buku yang berderet rapi di dalam rak buku, menurutnya ruang kerja Reymond mirip dengan perpustakaan kota yang dulu sering ia kunjungi.


"Mas, apa semua ini milikmu?" tanya Fatma tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tentu saja, sayang. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya takjub melihat buku-buku yang tertata rapih itu. Sangat mirip dengan perpustakaan yang dulu sering aku kunjungi." Fatma menjawab seraya mulai melangkah menuju salah satu rak buku yang ada di sana.


"Benarkah? Maksudku dulu kamu sering datang ke perpustakaan kota?" tanya Raymond sambil membuntuti Fatma dari belakang.


"Hmmm, iya. Hanya saja setelah kartu keanggotaan ku hilang, aku tidak lagi datang ke sana," jawab Fatma.


"Kenapa bisa hilang?" tanya Reymond yang ingin mendengar cerita Fatma.


"Saat dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju perpustakaan, aku pernah hampir tertabrak mobil dan waktu itu tas lamaku sudah rusak, saat aku terjatuh semua barang-barang ku berceceran dimana-mana dan mungkin ada seseorang yang tidak sengaja menendang dompetku sampai hilang. Aku sudah pernah mencarinya, tapi tidak pernah ketemu." Fatma bercerita sambil terus mencari buku yang menurutnya menarik untuk dibaca, sedangkan Reymond terus mengikutinya dari belakang.


"Oh, ya? Apa orang yang hampir menabrak mu itu tidak turun dan meminta maaf?" tanya Reymond lagi.


"Huh, jangankan turun untuk meminta maaf, membuka kaca mobilnya pun tidak," jawab Fatma dengan geram saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Wah, berarti dia orang yang arogan, ya?"


"Hmmm, andai aku bertemu dengan orang itu lagi, aku akan meminta ganti rugi padanya."


"Tentu saja harus begitu karena dia hampir mencelakai mu." Fatma menggeleng mendengar penuturan suaminya.


"Bukan karena hal itu, tapi dia membuatku gagal mengikuti ujian seleksi beasiswa karena tidak bisa belajar di perpustakaan itu lagi, padahal saat itu aku sangat membutuhkannya," jawab Fatma dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Hmmm, apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat nanti kalian bertemu?" tanya Reymond.


"Entahlah, aku juga bingung. Aku hanya kesal dan marah terhadapnya." Fatma menghembuskan nafasnya berat.


Iya, dia dulu hampir saja lolos ikut seleksi itu, tapi karena suatu kejadian akhirnya membuatnya gagal untuk melakukan tes itu. Reymond melihat mood Fatma yang berantakan saat mengingat masa lalu, ia memeluknya dan mengajak Fatma untuk beristirahat karena tidak ingin membuatnya semakin lebih kesal.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita segera beristirahat. Kamu masih harus segera cepat sembuh," ucap Reymond sembari melepaskan pelukannya.


Setelah mendapat pelukan dari suaminya, perasaan Fatma pun jauh lebih baik, ia menatap wajah Reymond yang lebih tinggi darinya, "Terimakasih, Mas." Fatma melepaskan diri dari pelukan suaminya dan berjalan bersama menuju kamar mereka.


***


Pagi menyapa, Fatma yang terbiasa bangun dini hari, saat ini pun dirinya sudah terjaga sejak tadi, hanya saja ia merasa enggan untuk bangun dan melepas pelukan hangat suaminya. Dengan gerakan perlahan, Fatma membalikkan badannya agar bisa menatap wajah pria yang kini sudah menjadi suaminya.


Mas, aku kira dulu kamu akan melepaskanku begitu merasa bosan atau saat semuanya terungkap. Dulu aku tidak pernah berani berharap lebih padamu, apalagi saat itu kamu masih mencintai Mbak Nadira. Terimakasih, karena sampai saat ini kamu masih mempertahankanku untuk terus berada di sampingmu.


Fatma terus menatap wajah Reymond, ia tidak tahu jika suaminya juga sebenarnya sudah terbangun saat dirinya membalikan badan tadi.


"Morning kiss, sayang." Reymond kembali mengecup bibir itu sekilas.


Fatma masih terdiam, dirinya masih shock atas perlakuan suaminya barusan.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Reymond saat melihat Fatma tak bereaksi apa-apa, lantas ia pun melambaikan tangannya untuk menyadarkan istrinya itu dari lamunan.


"Hah? Hmmm, aku, aku baik-baik saja, Mas," jawab Fatma saat ia sudah sadar dari lamunannya dan segera bangkit meninggalkan Reymond yang melihatnya dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


Ya Tuhan, aku benar-benar nekat sekali. Aku kira dia masih tidur tadi, batin Fatma saat ia sudah berada di kamar mandi.


Setelah selesai dengan urusannya, Fatma pun keluar kamar mandi dalam keadaan sudah segar, ia memilih sekalian mandi. Reymond yang mencium wangi segar sabun pun langsung bangkit dari tidurnya, ia berjalan mendekati sang istri yang sedang berdiri di hadapan cermin.

__ADS_1


"Hmmm, harumnya." Reymond berucap sembari memeluk dan menciumi wangi sabun yang menempel pada kulit leher istrinya.


"Mas, geli," ucap Fatma akibat perlakuan Reymond.


"Aku tidak berbuat apa-apa," kilah Reymond tanpa


menghentikan aksinya yang sedang mendusel hidupnya di tengkuk Fatma.


"Mas, jangan gini. Geli, tahu!"


Reymond pun melepaskan kesenangannya dan membiarkan Fatma untuk menyelesaikan urusannya.


"Mas, kamu mau sarapan apa?" tanya Fatma.


"Apa pun sayang." Reymond berucap sambil kembali mengecup sekilas kepala Fatma dan berlalu menuju kamar mandi.


Setelah selesai dengan urusannya, Fatma pun menyiapkan semua keperluan Reymond karena hari ini ia mulai kembali bekerja.


Reymond keluar kamar sudah dengan setelan kantor yang disediakan oleh istrinya. Samar-samar ia mencium wangi harum masakan yang sangat menggugah selera makannya.


Dengan langkah panjang, ia pun menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan, di sana Reymond melihat sang istri tengah menata makanan yang baru saja selesai dimasaknya.


"Mas, kamu sudah selesai?" tanya Fatma saat ia melihat Reymond yang sudah berdiri di ambang pintu masuk ruangan itu.


"Hmmm, harum masakanmu sangat menggugah selera makanku." Reymond berjalan menghampiri Fatma dan segera duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.


Dengan telaten, Fatma mulai melayani Reymond untuk mengambilkan makan.


"Terimakasih, sayang," ucap Reymond sembari memeluk tubuh Fatma dari samping.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Semoga kamu menyukainya," jawab Fatma. Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Reymond, ia pun ikut makan bersama di sana. Mereka berdua sarapan bersama dengan di iringi senda-gurau yang menghangatkan suasana di antara keduanya.


__ADS_2