Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 33


__ADS_3

Nadira pulang saat hari mulai beranjak gelap, ia pulang dengan hati yang berbunga lantaran ia baru saja melepas h*****nya bersama sang kekasih sampai mereka puas, bahkan kini ia masih sedikit kelelahan akibat aktivitas tadi.


"Baru pulang?" tanya Reymond tiba-tiba, ia mengejutkan Nadira yang tadinya sedang berjalan santai.


"Rey? Se–sejak kapan kamu pulang?" tanya Nadira gugup setelah ia kembali menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang akibat terkejut oleh sapaan Reymond yang tiba-tiba.


"Aku sudah menunggu kedatangan mu dari siang, memangnya kamu kemana saja? Ponsel pun kamu matikan, dan kamu juga selalu menolak pengawal yang aku tugaskan untuk mu" ucap Reymond.


"A–aku tadi keluar untuk bertemu dengan teman-temanku dan langsung pergi bersama menghadiri acara arisan yang di adakan oleh teman sosialita ku" jawab Nadira dengan gugup.


"Dari pagi sampai malam hari?" tanya Reymond lagi.


"I–iya, Rey. Memangnya kenapa?" tanya Nadira.


"Tidak mungkin kan jika ia akan mencurigai ku?" batin Nadira yang ketakutan


"Tidak ada, aku hanya khawatir saja. Kamu kan sedang hamil, tidak baik jika wanita hamil masih berkeliaran di luar rumah, apalagi hanya sendirian" jawab Reymond santai, hanya saja ia masih tidak beranjak dari tempat duduknya.


Entah kenapa, semenjak terakhir kali ia tidur bersama Fatma, Reymond selalu mati rasa pada Nadira. H******nya seakan menghilang begitu saja, di tambah akhir-akhir ini dia selalu merasa mual jika berdekatan dengannya. Maka dari itu, Reymond memilih untuk tidur di ruang kerjanya, dan akan kembali ke kamar saat Nadira sudah bangun tidur.


Awalnya Reymond merasa sedikit bersalah pada Nadira, tapi dia tidak bisa memaksakan dirinya karena selalu langsung mual jika mereka berdekatan dalam jarak lebih dari satu meter.


"Terimakasih, sayang. Ternyata kamu masih mengkhawatirkan aku dan bayi kita" ucap Nadira dengan bahagia.


"Cih, dasar wanita rubah. Selama ini aku sudah di bodohi olehnya" batin Reymond yang muak melihat wajah Nadira.


"Tentu saja, karena aku adalah laki-laki baik yang pantas mendapatkan WANITA BAIK pula" jawab Reymond dengan menekan kata "wanita baik" yang seketika membuat senyum di wajah Nadira memudahkan perlahan.


" Te–tentu saja sayang, dan wanita baik itu adalah aku. Ya, wanita yang pantas untuk mu hanyalah aku" ucap Nadira dengan percaya dirinya


Mendengar ucapan Nadira yang seperti itu, semakin membuat Reymond muak hingga ia merasa tiba-tiba mual dan segera berlalu meninggalkan Nadira yang masih berdiri tadi.

__ADS_1


"S***, kenapa dia sampai bersikap seperti itu? Seakan-akan aku adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah di lihatnya. Aku merasa sangat tersinggung" gumam hati Nadira kesal.


Sedangkan Reymond yang tadi berlari meninggalkan Nadira, ia menuju toilet yang dekat dengan ruangan itu dan segera menuju wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya.


Sebenarnya ia cukup terganggu dengan kondisi yang seperti itu, hanya saja ia tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Di sudut tempat lain, Fatma masih dengan kesibukannya membuat kue basah untuk ia berjualan esok hari. Beruntung janin-janin yang ada di perutnya sudah bisa di ajak berkompromi dan tidak lagi membuatnya mual atau pun pusing.


"Kak, ini sudah sore, sebaiknya kakak istirahat dulu. Nanti aku akan membantumu untuk menyiapkan kue-kue itu" ucap Tio yang tidak tega melihat kakaknya sibuk sendiri.


"Tidak apa-apa, Yo. Kakak masih kuat, aku akan berhenti saat sudah merasa lelah" jawab Fatma.


Saat ia hampir menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba pintu rumahnya di buka seseorang dengan kuat.


Blar... (mohon anggap aja itu suara pintu yang di banting 🙏🙏🙏)


"Bibi, Pama, ada apa?" tanya Fatma yang terkejut dengan kedatangan Paman dan Bibinya yang tiba-tiba.


"Heh, Fatma. Apa yang kamu katakan pada tuan muda Reymond, hah?"tanya Bibi Fani begitu ia masuk ke dalam rumah Fatma, bahkan tanpa mengucapkan salam.


"A–apa maksud Bibi?" tanya Fatma yang tidak mengerti dengan pertanyaan Bibi Fani.


"Alah, kakak jangan pura-pura gak tahu ya. Kakak ngadu kan ke tuan Reymond kalau kami sudah menghabiskan uang yang dia titipkan untuk mu?" timpal Tanti.


"Apa maksud kalian? Aku sama sekali tidak mengerti" tanya Fatma bingung dengan tuduhan yang di lontarkan Tantri padanya.


"Tuan Reymond mengancam kami, Fatma. Dia berkata jika kamu memang tidak menerima uang darinya" jawab Paman Andre. Fatma akhirnya mengerti dengan maksud dari pertanyaan dan ucapan Tantri padanya.


"Paman, aku tidak pernah mengatakan apa-apa pada tuan Reymond. Bahkan aku tidak pernah tahu jika dia menitipkan uang pada kalian, sekarang kenapa paman menyalahkan ku seperti ini?" tanya Fatma.

__ADS_1


"Fatma, harusnya kamu tahu diri, uang itu kami pakai untuk keperluan adik mu juga, dan sisanya kamu pakai untuk kebutuhan keluarga kami" ucap Bibi Fani dengan menggebu.


"Iya kak, sekarang kenapa kakak tega ngadu ke tuan Rey? Apa kakak gak suka lihat aku, Bibi, dan Paman hidup dengan berkecukupan?" tuduh Tantri lagi pada Fatma.


"CUKUP TANTRI. TIDAK SEHARUSNYA KAMU BICARA SEPERTI ITU PADA KAK FATMA" bentak Tio.


Tio sudah tidak tahan lagi dengan perilaku adik perempuannya yang selalu membela Paman dan Bibinya, akhirnya membentak Tantri.


"Diam kamu Tio" desis Bibi Fani yang melihat Tio membentak adiknya sendiri.


"CUKUP! Kenapa kalian menyalahkan ku? Bukankah selama ini kalian yang menggunakan uang itu? Harusnya kalianlah memperkirakan hal ini, bukan malah menyalahkan ku atas semua tindakan kalian. Kalau memang tuan Reymond mengetahui perbuatan kalian, itu semua bukan salahku. Dan kamu Tantri, kakak tidak pernah mendidik mu menjadi orang serakah seperti ini. Kakak benar-benar kecewa melihat kamu yang seperti ini" ucap Fatma panjang lebar. Sudah cukup ia mengalahkan selama ini. Biarkan kali ini ia membela dirinya sendiri.


Mendengar ucapan Fatma yang biasanya tidak pernah mengelak atau pun membantahnya, membuat sepasang baya itu sedikit terkejut. Lantaran sepengetahuan mereka, Fatma adalah gadis yang sangat penurut, lemah lembut, dan selalu mengalah.


"Fatma, kamu sudah berani membantah ku? AKU INI BIBI MU" seru Bibi Fani.


"Lalu kenapa kalau kalian Bibi dan Paman ku? Apa aku harus selalu mengalah pada kalian? Apa aku harus menyerah saat kalian menindas ku seperti ini?" tanya Fatma yang sudah di kuasai oleh emosi.


Tio yang belum pernah melihat Fatma emosi seperti itu pun merasa takut dan khawatir, ia sangat mengkhawatirkan kandungan kakaknya yang masih lemah.


"Kak, udah. Tenangkan diri dulu, ingat kandungan kakak" bisik Tio yang tidak bisa di dengar oleh Paman, Bibi, dan juga Tantri.


Seketika membuat Fatma sadar, ia pun segera menenangkan dirinya dengan menarik nafasnya panjang.


"Sudahlah, kalian pergi dari sini. Aku sudah terlalu lelah berdebat dengan kalian" ucap Fatma sambil berlalu masuk ke kamarnya meninggalkan orang-orang yang masih berdiri di ruang depan rumahnya.


"Berani-beraninya dia meninggalkan kami yang belum selesai berbicara. Awas saja kamu Fatma, aku akan membuat perhitungan dengan mu. Kamu juga Tio, kalian berdua sama saja" ucap Bibi Fani yang masih emosi terhadap Fatma.


Paman Andre dan Bibi Fani pun pulang bersama, tidak lupa ia juga menarik tangan Tantri untuk ikut bersama mereka.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA

__ADS_1


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗


__ADS_2