Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 71


__ADS_3

FLASHBACK ON


Di sebuah apartemen, seorang wanita tengah berusaha melepaskan dirinya dari dua orang wanita yang diperintahkan Reymond untuk menangkapnya, Ya, dia adalah Rumi.


"Lepas ...! Aku tidak mau ikut kalian," teriak Romi sambil terus berusaha memberontak dari cengkraman Yui dan Zen yang terus memeganginya.


"Nona, tenanglah dan ikut kamu secara baik-baik," ucap Yui.


"Tidak ...! Aku tidak mau ...! Lepas ...! Lepaskan aku ...!" tidak henti-hentinya Rumi memberontak dari genggaman Yui dan Zen.


"Hey ...! Jika kamu tidak bisa diam, maka aku terpaksa akan menyuntikkan obat pelumpuh padamu," ancam Zen sambil memperlihatkan suntikan kecil yang ada di tangannya.


Seketika itu juga pergerakan Rumi terhenti, tentu saja ia merasa takut jika harus merasakan kelumpuhan pada tubuhnya.


"Nah, jadilah anak baik. Maka kamu akan selamat dan tidak akan merasakan sakit akibat memberontak." Zen menyunggingkan senyum sinisnya.


Diantara Zen dan Yui, yang paling keras adalah Zen, dia selalu dituntut untuk serba cepat dan sempurna. Sedangkan Yui, hanya mengawasinya saja.


"Kalian akan membawaku kemana?" tanya Rumi dengan takut.


Zen tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan dari Rumi. "Kamu akan mengetahuinya setelah ikut dengan kami ...!"


Nada bicara Zen selalu menakutkan sehingga membuat Rumi gemetar, wanita itupun memilih diam dan ikut dengan mereka.


Sepanjangan perjalanan, Rumi terus memperhatikan jalanan yang mereka lalui. "Inikan arah mansion milik Rey, kenapa mereka tidak memberi tahukan aku jika akan kemari," batinnya kesal. "Setidaknya aku harus terlihat cantik jika akan menemui Rey." Sambungnya lagi.


Yui dan Zen bisa menebak arti tatapan Rumi pada mereka, tapi mereka tidak menanggapinya dan hanya memalingkan wajah.


"Kenapa kalian harus memaksa ku jika kita akan ke tempat Rey?" tanya Rumi pada Yui dengan kesal.

__ADS_1


"Apa untungnya bagi saya harus memberitahukan semua itu padamu?" tanya Yui tak kalah sinisnya.


Perjalanan mereka tidak berselang lama, beberapa menit kemudian, Zen, Yui dan Rumi pun sampai di mansion milik Reymond.


"Ayo, cepat ...!" Titah Zen sambil memegang tangan Rumi yang langsung ditepis oleh pemiliknya.


"Lepaskan aku ...! Aku bisa jalan sendiri," ucap Rumi yang langsung melenggang cantik di depan Yui dan Zen.


Kedua wanita yang berada di belakang Rumi pun menggeleng pelan. "Dasar ulat bulu," desis Zen pelan, tapi masih bisa didengar oleh Yui. Mereka berdua pun terkikik pelan di belakang Rumi.


Sontak saat itu juga Rumi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap dua orang wanita yang berada di belakangnya. "Apa yang kalian bicarakan?" bentaknya.


"Bukan urusanmu," jawab Zen tanpa memandang Rumi.


"Awas, ya kalian ...! Akan kubuat kalian membayar semua yang sudah kalian lakukan terhadapku tadi," ancamnya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Dasar tidak tahu malu, sudah berada di kandang singa pun masih berlaga angkuh," geram Yui dalam hatinya.


Saat Rumi akan melangkah menuju ruang tamu, tiba-tiba Yui dan Zen menghentikan langkahnya. "Nona, Tuan Reymond tidak berada di sana."


"Apa maksudmu? Bukankah Reymond sudah menunggu kedatanganku?" tanya Rumi sambil berbalik menatap Yui.


Zen menggeleng pelan melihat tingkah laku Rumi yang sudah seperti tamu kehormatan di mansion itu. "Ikuti saya ...! Perintahnya.


Meskipun sedikit heran, akhirnya Rumi pun mengikuti langkah Zen yang akan membawanya ke hadapan Reymond. Dia mulai merasa cemas saat kedua wanita itu menggiringnya ke sebuah pintu besi yang berada di samping garasi bagian belakang.


"Sebenarnya kamu mau membawa ku kemana?" tanya Rumi dengan takut, bahkan tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.


Zen kembali tersenyum sinis. "Tentu saja untuk menemui Tuan Reymond–" Ia membuka satu pintu besi lagi, "–Bukankah itu keinginan mu?"

__ADS_1


Reymond tampak duduk santai di sana dengan menyesap red wine secara perlahan, udara dingin dan sangat lembab menyambut kedatangan mereka, membuat siapapun merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama di sana.


"Kamu sudah datang?" tanya Reymond dengan nada datar dan terkesan acuh.


Rumi sedikit gemetar, tapi ia berusaha bersikap tenang seperti biasanya. "Hm ... mmm, Re–Rey, ke–kenapa kamu mengajak bertemu di–di sini?" Rumi berusaha untuk menekan nada bicaranya agar terdengar tenang, tapi semua itu gagal karena melihat Reymond yang menatapnya dengan tajam.


Pria yang tadi tengah duduk pun kini sudah berdiri dan menghampirinya. "Kenapa kamu terlihat tegang, hmmm?" tanya Reymond sambil mengusap pipi Rumi dengan halus.


Rumi bukannya senang diperlakukan seperti itu, tapi malah membuatnya semakin takut dan gemetar, bahkan tanpa sadar ia hampir saja terjatuh ke belakang jika Zen tidak membantu menopangnya.


Reymond melihat semua itu, dia tersenyum sinis sambil kembali menatap Rumi dengan tajam. Perlahan ia menarik nafasnya dalam sebelum berbicara pada wanita yang dulu pernah berstatuskan calon tunangannya.


"Kenapa ... kenapa kamu melakukan itu?" tanya Reymond tanpa menatap Rumi dan hanya menunduk sambil memainkan gelas yang berisikan red wine setengahnya.


Rumi tercengang dengan pertanyaan Reymond, ia tidak berpikir jika Reymond sudah mengetahui semuanya, padahal ia yakin sudah menekan pelayan wanita yang menjadi suruhannya tadi agar tidak memberitahukan tentang perbuatan itu pada siapapun.


"S***, apa Rey sudah mengetahui semuanya?" tanya Rumi dalam hatinya, ia sudah sangat ketakutan saat ini.


"A–apa ma–maksud mu, Re–Rey?" tanya Rumi penuh dengan kegugupan bahkan perkataannya pun sudah terbata-bata.


"S***, aku juga lupa meminum obatku," batinnya kesal pada diri sendiri karena sudah melupakan hal yang menurutnya sangat penting. Ya, dia memang sudah ketergantungan memakai pil itu, jika tidak memakannya maka ia tidak bisa mengontrol dirinya dalam hal apapun termasuk seperti saat ini.


"Kamu sudah merencanakan untuk menyimpan obat itu dari awal, kan?"


"O–obat apa maksudmu, Rey?"


Reymond diam dan tidak menjawab pertanyaan Rumi. Beberapa saat kemudian, barulah ia mulai berbicara kembali.


"Rumi, kamu tahu? Dulu aku pernah hampir gila karena sudah kehilanganmu, aku sudah berusaha mencarimu kemanapun dan bertanya pada orang-orang terdekatmu, tapi hasilnya nihil–" Reymond mulai berbicara dan menceritakan kisah masa lalu mereka, sedangkan Rumi hanya memperhatikan dan mendengarkannya saja, "–Bahkan, sampai saat ini pun hubunganku dengan Leandro tidak pernah baik setelah hari itu, dia selalu berpikir jika aku yang sudah merebutmu darinya dan sekarang kamu datang kembali dengan niat untuk merebut kembali perasaanku. Kamu pikir aku orang yang seperti apa?"

__ADS_1


Rumi terdiam, memang bukan hanya salahnya saat itu dirinya tidak datang ke acara pertunangan mereka, tapi dia salah karena sudah mempermainkan hati Reymond dari awal sampai sekarang. Dulu dia mendekati Reymond sama halnya dengan niatnya saat ini, yaitu untuk membantunya keluar dari belenggu sang ayah. Namun, dia juga sadar cara yang kali ini dilakukannya sudah sangat salah.


"Rey, tidak bisakah kamu memaafkan kesalahanku kali ini?"


__ADS_2