
Sepanjang perjalanan pulang, Reymond merasa hatinya sangat sakit, apalagi saat ia melihat raut wajah Fatma yang menyunggingkan senyuman disertai air mata yang berderai.
"Apa aku sudah keterlaluan? Bukankah hal wajar jika aku meragukan bayi yang Fatma kandung juga? Dia juga bersalah karena menghabiskan waktu bersama Leandro hingga membuatku mencurigai mereka" batin Reymond seraya melajukan mobilnya.
Reymond sendiri melupakan niatnya untuk mencari makanan di luar, ia langsung kembali ke Mansion setelah Fatma meninggalkannya di pelataran klinik tadi.
"Aku akan mencari tahu dulu kebenarannya untuk memastikan bahwa bayi yang di kandung Fatma adalah darah daging ku" batinnya lagi.
Menurutnya hal wajar jika Reymond mencurigai Fatma, karena dia juga selalu bersama Leandro. Apalagi mengingat ia juga sudah di tipu oleh Nadira yang mengatakan jika bayi yang ia kandung adalah anaknya. Karena memikirkan hal itu, Reymond sampai tidak sadar jika dirinya sudah berada di kawasan mansion-nya.
"Akh, sudah sampai rupanya" gumam Reymond pelan, ia pun segera mematikan mesin mobilnya dan meninggalkannya begitu saja di halaman.
"Kamu sudah pulang, Rey?" tanya Nadira yang ternyata sudah menunggu kedatangannya dari tadi. Ia segera berjalan untuk menghampiri suami siri-nya itu.
Mood Reymond malam ini benar-benar hancur, hingga ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Demi rencana untuk menjebak Nadira, ia harus bisa menahan diri untuk tidak terlihat mencurigakan di hadapan Nadira.
"Iya, ada apa, Nad?" tanya Reymond kembali seraya menghentikan langkah Nadira yang akan mendekatinya.
Seperti biasa, ia tidak mengijinkan Nadira untuk mendekatinya. Melihat penolakan yang lagi-lagi di lakukan Reymond padanya, Nadira pun kesal dan marah, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.
"A–aku hanya ingin bertanya, apa kamu sudah makan malam di luar? Dan kamu pergi bertemu siapa?" tanya Nadira terbata karena menahan amarahnya.
Reymond menyunggingkan senyum sinis-nya sebelum menjawab pertanyaan Nadira.
"Tidak ada, aku sedang tidak berselera untuk makan. Malam ini jangan menggangguku lagi, kamu tidurlah, aku akan pergi ke ruang kerja" ucap Reymond sebelum ia berlalu dari hadapan Nadira.
"Tunggu, Rey" cegah Nadira yang menghentikan langkah Reymond.
Akhirnya Reymond pun menghentikan langkahnya tanpa perlu repot-repot membalikan tubuhnya.
"Mau sampai kapan kamu akan menolak ku terus seperti ini?" tanya Nadira dengan nada yang mulai bergetar.
__ADS_1
Dengan gerakan malas, Reymond pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap Nadira.
"Entahlah, aku juga tidak tahu" jawab Reymond ringan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Nadira yang mulai terisak. Walau bagaimanapun dia juga ibu hamil yang mood-nya bisa berubah kapan pun.
Reymond meninggalkan Nadira untuk pergi ke ruang kerjanya, malam ini ia memilih menghabiskan kembali waktunya untuk bekerja, sebelum akhirnya ia akan tertidur di kursi sofa yang berada di ruangan itu.
Nadira menatap kepergian Reymond dengan mata yang sudah memanas, dia masih tidak mengerti kenapa sikap Reymond berubah padanya, dan menjadikan kehamilan sebagai alasannya untuk menjauh.
"Sabar Nadira, saat waktunya sudah tepat nanti kamu akan melepaskan dia dengan bangga karena sudah memiliki semua harta kekayaannya. Mungkin memang benar dia mengalami efek dari kehamilanku" batin Nadira yang mencoba untuk bersabar menghadapi Reymond, suami siri-nya itu.
Ia masih harus berjaga-jaga, karena statusnya masih belum sah dimata negara. Dia fikir rencananya akan berjalan mulus saat Fatma keluar dari mension itu, dia akan meminta Reymond supaya mendaftarkan pernikahan mereka dan diakui oleh negara. Tapi sayang belum sempat Nadira mengutarakan niatnya, sikap Reymond sudah berubah padanya.
***
Fatma pulang ke rumahnya bersama Tio, ia masih terus merasa sedih dan marah di waktu bersamaan.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu? Kalau memang dia tidak menginginkan kehadiran bayi-bayi ini, seharusnya dia tidak perlu mencurigai ku berselingkuh dengan Leandro" batin Fatma.
Tio yang melihat keadaan Fatma yang seperti itu hanya bisa merasa kasihan, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membela kakak perempuannya itu.
"Tapi, Yo–"
"Kakak yakin aja, mungkin tuan Reymond sedang mengalami masalah yang besar, jadi dia berfikiran seperti itu. Aku juga tidak membenarkan tindakannya terhadap kakak, tapi aku harap kakak tidak sampai terpuruk akibat perkataan tuan Reymond tadi" ucap Tio.
Fatma membenarkan ucapan Tio, mungkin saja saat ini Reymond sedang memiliki masalahnya sendiri hingga bisa berbicara seperti tadi. Tapi tetap saja mengingat alasan Reymond yang mendatanginya dengan alasan yang sama, membuatnya semakin sakit hati, dia tidak tahu kenapa Reymond bisa bersikap seperti itu padanya.
"Baiklah, Yo. Kakak tidak akan lagi memikirkan ucapan orang itu. Kamu benar kakak harus kuat demi anak-anak" ucap Fatma membenarkan perkataan Tio.
Setelah hatinya mulai tenang, Fatma pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat, begitupun dengan Tio.
***
__ADS_1
Pagi hari tiba, Fatma tidak menemukan keberadaan Tio di dalam rumahnya. Tidak biasanya Tio pergi tanpa memberitahukan terlebih dahulu padanya.
"Ya tuhan, Tio. Kamu kemana sih?" tanya Fatma pada dirinya sendiri, ia pun melangkah keluar untuk bertanya pada ibu tetangga yang mungkin saja melihat adiknya pergi keluar rumah saat subuh tadi.
"Permisi, bu. Ibu lihat Tio tidak?" tanya Fatma pada ibu Imah yang sedang menyapu halaman rumahnya
"Tio? Memangnya dia tidak pamit padamu tadi pagi?" tanya balik bu Imah merasa heran pada Fatma.
"Tidak, bu. makanya aku khawatir padanya" jawab Fatma.
"Ibu lihat tadi pagi dia sudah berangkat ke pasar membawa dagangan yang biasa kalian jajakan di sana" ucap bu Imah memberitahukan Tio pada Fatma.
"Oh syukurlah kalau seperti itu, terima kasih bu" ucap Fatma merasa lega setelah tahu jika Tio pergi ke pasar untuk berdagang.
"Sama-sama, Fatma. Tumben dia tidak berangkat berjualan bersama kamu?" tanya bu Imah, lantaran biasanya Fatma dan Tio selalu berangkat bersama ke pasar.
"I–itu karena a–aku sedang hamil muda, dokter menyarankan aku untuk istirahat dan tidak terlalu lelah" jawab Fatma lirih. Dia masih malu untuk mengakui jika dirinya sedang hamil lantaran selama dua bulan dia tinggal di sana, suaminya tidak pernah datang.
"Oh. Jadi benar yang dikatakan Bibi mu itu? Bahwa kamu sudah menikah dengan majikannya?" tanya bu Imah.
"Iya benar bu" jawab Fatma sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa dia yang sering datang ke sini?" tanya bu Imah lagi.
"Bukan, bu. Itu sepupunya, suami ku yang kemarin datang ke sini pagi-pagi" jawab Fatma.
Setelah mengetahui orang yang menjadi suami Fatma, bu Imah pun mengangguk kepalanya sebagai tanda mengerti. Fatma juga menceritakan jika pernikahan mereka adalah hasil dari kesepakatan Paman dan Bibinya.
"Kamu yang sabar saja Fatma, namanya orang rumah tangga itu tidak semuanya mulus. Yakin saja apa yang kamu lakukan jujur, maka kedepannya juga insyaallah akan benar" ucap bu Imah lagi
"Iya, bu. Insyaallah saya akan sabar" jawab Fatma.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗