Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 64


__ADS_3

Keesokan harinya, Rumi datang lagi ke kantor Reymond, pagi-pagi sekali ia sudah menemuinya.


"Hay, Rey ...!"


Sambut Rumi yang sedang berdiri tepat di depan pos satpam, ia menunggu di sana karena tidak diizinkan masuk oleh satpam itu.


Reymond menatap sekilas, sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan Rumi begitu saja tanpa repot-repot membuka kaca mobilnya.


"S***," umpat Rumi kesal sambil mencengkram erat paper bag yang ia bawa, tadinya ia pikir Reymond akan mengizinkannya untuk masuk k perusahaannya, jadi dia sudah membawakan sarapan untuknya.


Satpam yang tadi melarangnya untuk masuk pun kini tersenyum samar, sebelum ia kembali mengusirnya lagi.


"Nona, tadi Anda sudah bertemu dengan Tuan Reymond dan dia tidak memberikan izin Anda masuk, sekarang tolong tinggalkan tempat ini," ucap satpam itu sambil hendak menyentuh tangan rumit tapi segera ditepisnya.


"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotor mu itu!–" seru Rumi sambil sedikit menjauhi satpam itu, "–Aku tidak akan pergi sebelum Reymond menemui ku," LPsambungnya lagi.


"Nona, ternyata Anda keras kepala juga, ya?" tanya satpam tidak suka.


"Apa urusanmu? Jangan berani-beraninya kamu melarang ku!" geram Rumi pada satpam itu.


Satpam itu pun tidak menanggapi perkataan, Rumi dia mendekat dan menarik pelan tangan Rumi untuk pergi dari sana.


"Heh! Apa-apaan kamu?–"


"Nona, saya sudah bersikap sabar terhadap anda sedari tadi Kesabaran saya sudah habis, jadi saya harap selagi masih bersikap baik, Anda tolong pergi dari sini sekarang juga!" ucap satpam itu tidak kalah tariknya dengan Rumi.


Bahkan orang-orang yang berlalu-lalang dan karyawan pekerja perusahaan pun melihat kejadian memalukan itu.


Rumi mengepalkan tangannya karena kesal, dia juga menatap nyalang satpam itu. "Lihat saja aku tidak akan tinggal diam terhadapmu!" teriaknya sebelum ia benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Reymond menatap kejadian itu dari jendela dinding gedung ruangannya, tapi dia hanya membiarkannya begitu saja dan tidak berniat untuk membelanya, karena dia juga yang sudah meminta satpam itu untuk mencegah Rumi datang kembali ke perusahaannya.


"Zio, Apa kamu sudah mencari tahu tentang Rumi yang datang kembali?" tanya Reymond. Sebelumnya ia sudah meminta Zio untuk mencari tahu semua alasan Rumi yang mendatanginya secara tiba-tiba.


"Dia sedang kabur dari seseorang, Rey," jawab Zio. Semalam dia sudah mendapat kabar itu dari orang suruhannya yang merupakan seorang detektif handal.


Reymond menaikkan alisnya ia tidak mengerti dengan jawaban Zio. "Maksudmu?"


"Nasibnya tidak cukup bagus seperti yang kamu tahu, Rey–" Zio menjeda ucapannya, bagaimana pun juga dia harus menceritakan semua yang ia ketahui pada sahabatnya itu. "–Sudah sejak lama ia menjadi wanita pem**s na*** sebagai pelunas hutang oleh ayahnya sendiri."


Reymond sempat tercengang saat mendengar penuturan Zio, lantaran setahunya ayahnya Rumi adalah seorang pengusaha sukses dan juga maju di kotanya, dulu dia sempat dua kali bertemu dengan ayahnya Rumi itu dan sama sekali tidak menemukan kejanggalan apa-apa.


"Bagaimana bisa? Bukankah ayahnya itu seorang pengusaha sukses yang kaya raya?" tanya Reymond heran.


Zio menggeleng pelan, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil amplop yang ia simpan dan memberikan amplop itu pada Reymond.


"Ayahnya Rumi adalah seorang bandar n*****, ia bahkan tidak segan-segan memberikan obat terlarang itu pada Rumi, supaya wanita itu tidak pemberontak dan lebih tenang," jawab Zio.


"Ini?"


"Ya, itu adalah bukti-bukti yang kami dapatkan dari orang dalam."


"Lalu, apa alasannya sekarang Rumi mendatangiku?" tanya Reymond yang belum mendapatkan jawaban dari Zio.


"Sepertinya dia sangat berharap bisa kembali lagi bersama mu, untuk melepaskan diri dari jeratan papanya juga untuk melunasi semua hutang keluarga mereka. Dia tahu kamu bisa melunasi hutang-hutangnya, maka dari itu Rumi mendatangimu untuk kembali memanfaatkan mu," jawab Zio.


Reymond terdiam dan sedikit berfikir, sebenarnya ia juga tidak tega jika harus melihat Rumi yang menjadi seorang pem*** n****, tapi dia juga tidak ingin jika harus kembali bersamanya. Apalagi saat ini ada seseorang yang sudah ia cintai.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya." Reymond bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan Zio untuk kembali ke ruang kerjanya sendiri.

__ADS_1


Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk membuat wanita itu menjauh dariku dan juga istriku, tanpa harus berurusan lagi dengannya, gumam Reymond.


***


Di tempat lain, Rumi mendatangi Fatma. ia nekat untuk menemui istri Reymond itu dan disinilah dia sekarang berada, yaitu di dalam rumah milik Fatma.


Fatma tadi tidak mengetahui jika Rumi-lah yang ingin bertemu dengannya dan hanya bibi memberitahukan jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


Setelah Bibi menyiapkan minuman Fatma pun mulai bertanya pada Rumi, wanita itu sangat terlihat arogan dan ketus.


"Ada perlu apa Mbak Rumi datang kemari?" tanya Fatma baik-baik.


Rumi memandang Fatma dengan remeh, bahkan sudut bibirnya pun terangkat sebelah. Jika tidak diperhatikan, Fatma-lah yang tamunya dan Rumi adalah pemilik rumahnya.


Rumi mendiamkan pertanyaan Fatma, ia bangkit dan berjalan kesana kemari untuk memperhatikan setiap sudut rumah itu. Sedangkan Fatma terus memperhatikannya dengan tatapan heran.


Sebenarnya ada perlu apa Mbak Rumi sampai datang kemari pagi-pagi seperti ini? Bahkan dia juga bersikap layaknya seperti tuan rumah. sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang elegan, batin Fatma yang mulai kesal.


Setelah cukup puas melihat-lihat sudut rumah Fatma, Rumi pun kembali duduk ke tempatnya semula. "Ternyata rumah ini tidak sesederhana yang terlihat, Reymond cukup bagus dengan seleranya untuk memilihkan rumah ini, sangat cocok jika rumah ini menjadi milikku."


Fatma masih diam dan mendengarkan semua perkataan Rumi, karena menurutnya Reymond tidak akan mudah memberikan apa yang ia miliki pada orang lain secara cuma-cuma.


"Aku datang kemari untuk memintamu menjauhi Reymond," ucap Romi dengan tidak tahu malunya.


Fatma tersenyum sinis, dia sudah menyangka jika kedatangan Rumi kemari bukan hanya untuk mengunjunginya saja.


"Atas dasar apa Mbak Rumi meminta saya untuk menjauhi Mas Rey?" tanya Fatma tidak suka.


Rumi menatap nyalang wanita muda di depannya itu, ia tidak berfikir jika Fatma akan melawannya begitu saja.

__ADS_1


"Apa kamu tidak sadar diri? Reymond dan kamu itu sangat berbeda jauh, bagaikan langit dengan bumi," ejek Rumi diiringi senyuman sinis di belakangnya.


Fatma tersenyum menanggapi ejekan Rumi, dia sudah tidak akan lagi terpengaruh oleh kata-kata kasar yang pernah ia dengar dulu.


__ADS_2