
Kehidupan Bibi Fani dan Paman Andre tidaklah berjalan mulus, semenjak mereka keluar dari rumah Reymond, keduanya kerap kali mendapat kesulitan, uang yang pernah Reymond berikan pada mereka, sudah habis tidak tersisa karena dipakai untuk berfoya-foya. Bahkan mereka juga sampai menjadi korban penipuan akibat terlalu percaya pada orang lain dan terlalu serakah untuk bisa melipat gandakan uang itu dengan cara yang tidak masuk di akal.
Saat mereka sedang berjualan makanan kecil, tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang yang sangat mereka kenali.
"Bibi, Paman ...!" sapa Fatma saat ia sudah berada di hadapan paman dan bibinya itu.
Paman Andre dan Bibi Fani cukup terkejut saat melihat kehadiran keponakan mereka, apalagi saat melihat Fatma yang baru saja turun dari mobil mewah, serta pakaiannya yang dikenakannya juga terlihat mahal semakin membuat mereka terdiam.
"Bibi, Paman, apa kabar?" tanya Fatma dengan riang. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan perilaku buruk yang diterima dari paman dan bibinya dulu.
Bibi Fani masih setia dengan wajah sinisnya saat melihat Fatma. "Mau apa kamu kemari? Apa kamu mau pamer sekarang sudah bahagia?" tanyanya dengan nada rendah, tapi tajam.
Fatma menunduk, ia masih saja merasa takut pada bibinya itu, ia menghampirinya karena merasa kasihan pada mereka, ia tidak menyangka jika sikap bibinya masih sama seperti dulu.
"Maaf, Bibi. aku tidak bermaksud apa-apa pada kalian, aku hanya ingin menyapa kalian saja, lagipula kita sudah lama tidak bertemu," ucap Fatma pelan sambil memainkan jari-jarinya tangannya.
Bibi Fani dan Paman Andre masih memandangnya remeh, bahkan mungkin masih kesal karena Fatma bisa hidup lebih baik dari mereka.
"Kami tidak butuh disapa seorang sepertimu," ucap Bibi Fani sambil mendelik, sangat terlihat jika dia membenci keponakannya itu.
Saat Fatma masih di sana, Reymond menghampiri mereka dan membuat bibi dan paman dari istrinya itu terkejut.
"Ehemm."
Seketika itu juga, ketiga orang yang berada di sana, menoleh padanya.
"Tu–tuan?!"
"Sepertinya aku sudah terlalu baik pada kalian berdua, ya?" ucap Reymond, saat ia sudah berdiri di samping sang istri, dengan menatap kedua orang yang berada di depannya.
__ADS_1
"Ma–maaf, Tuan. Kami ... kami tidak bermaksud apa-apa, iya, kan, Fatma?" Paman Andre menjawab sambil mencari pembelaan pada keponakannya.
Cih, dasar tidak tahu malu. Sudah salah, masih saja mengelak, gertak Reymond dalam hatinya.
Fatma sendiri tidak bisa berbuat apa-apa di depan paman dan bibinya dan hanya menunduk.
"I–iya, Mas. Mereka tidak melakukan apa-apa terhadapku," jawabnya masih tertunduk.
Syukurlah, anak itu masih bisa melindungi ku, lihat saja jika dia berani mengadukan yang tidak-tidak terhadap ku pada Tuan Reymond, batin Bibi Fani sambil mengepalkan tangannya kesal.
Reymond melihat kepalan tangan Bibi Fani, ia pun tersenyum sinis dan berbisik, "Bibi, seperti anda memang tidak mengerti dengan apa yang sudah saya katakan padamu saat terakhir kali kita bertemu?"
Tak lama kemudian, Reymond melihat tubuh Bibi Fani dan Paman Andre menegang seketika setelah mendengar bisikannya, tentu saja mereka masih ingat dengan ancaman yang pernah Reymond katakan pada mereka saat terakhir kali bertemu, 'Jangan pernah bersikap kasar lagi terhadap istriku, atau Sefti anak kalian akan ku keluarkan dari sekolahannya dan akan ku jadikan sebagai pelayan di mansionku.'
"Ampun, Tuan. Maafkan kami." Bibi Fani dan Paman Andre segera membungkuk untuk meminta maaf pada Reymond. "Fatma, Bibi minta maaf. Kami tidak akan pernah berbuat kasar lagi padamu, mohon maafkan kami," ucapnya sambil menggenggam tangan Fatma.
"Terima kasih," ucapnya cepat.
Fatma pun memilih untuk mengangguk dan tidak memperpanjang lagi urusan itu. Setelah Bibi Fani meminta maaf, ia segera pamit pulang terlebih dahulu.
"Kalau begitu, kami akan pulang. Semoga kalian selalu dalam keadaan yang sehat," ucap Fatma sebelum ia pergi meninggalkan mereka.
Bibi Fani serta Paman Andre hanya mengangguk samar dan membiarkan mereka pergi dari sana, mereka sudah terlalu takut pada suami keponakannya itu, hingga rasanya dada mereka sesak jika sedang berhadapan dengan Reymond. Setelah Fatma pergi dari sana, barulah mereka dapat bernafas lega.
***
Reymond mengajak Fatma untuk kembali ke dalam mobil dan tanpa menolak lagi, ia pun segera menuruti perintah suaminya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Maaf karena tidak langsung menghampiri mu tadi," sesal Reymond yang melihat istrinya termenung.
__ADS_1
Fatma menoleh dan tersenyum kecil pada suaminya sebelum ia berkata, "Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Tentu," jawabnya sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya." Reymond berucap sambil menggenggam tangan istrinya, karena yang sebelah lagi sibuk untuk menjalankan kemudi mobilnya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah dan langsung membawa masuk mobilnya ke dalam garasi.
di dalam rumah ternyata Tio dan Tantri belum pulang sekolah, mereka berdua sekarang memiliki jadwal yang cukup padat, sehingga membuatnya jarang berada di rumah.
Fatma cukup terheran dengan dirinya, pasalnya ia merasa tidak nyaman dan sedikit gerah. Dengan segera dan tanpa menunggu lama, setelah mobil itu parkir, Fatma segera berlari ke dalam dan menuju kamarnya.
Reymond sendiri di buat bingung dengan tingkah sang istri, tidak biasanya ia tinggalkan seperti itu oleh Fatma. Kenapa dia? batinnya yang melihat sang istri berlari masuk rumah.
Fatma sendiri, setelah ia berada di dalam kamar, segera membuka pakaiannya karena merasa gerah. Sebenarnya hal itu sudah ia rasakan sejak tadi, sebelum turun dari mobil untuk menghampiri paman dan bibinya.
Ya Tuhan, kenapa rasanya gerah sekali? Badanku panah dan tidak nyaman seperti ini, batin Fatma. Dengan segera, ia pun masuk kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin, berharap air itu bisa mendinginkan tubuhnya yang memanas.
Reymond segera menyusul Fatma, sesampai dikamar ia merasa heran, karena melihat tas dan sepatu istrinya yang berserakan begitu saja di atas lantai. Tidak biasanya dia terburu-buru seperti itu, batin Reymond mulai khawatir. Ia segera melangkah menuju kamar mandi untuk memastikan jika Fatma dalam keadaan baik.
"H**oney, are you okay?" tanya Reymond sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Tak ada jawaban yang terdengar dari sana, hanya suara kucuran air yang sangat nyaring.
Reymond semakin gencar mengetuk pintu itu, ia khawatir karena Fatma sebelumnya pernah pingsan di dalam bathtub.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan? Tolong jawablah ...!"
"Mas, aku ... aku ... tolong aku," jawab Fatma lirih.
__ADS_1