
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Fatma menolak lagi untuk menyiapkan semua keperluan milik Reymond. Fatma lebih sering meminta bantuan pada Mimi atau pun Rere untuk menggantikan tugasnya, selama tugas Fatma dikerjakan oleh Rere ataupun Mimi semuanya berjalan lancar, hingga hari ini Reymond mendapati jika bukan Fatma yang mengurus semua keperluannya.
"Kemana Fatma? Kenapa bukan dia yang mengerjakan tugasnya ini?" tanya Reymond saat mendapati Rere sedang menyiapkan baju-baju yang akan ia kenakan hari ini.
"Maaf, Tuan. Fatma sedang tidak enak badan, dia meminta tolong kepada saya untuk menggantikan tugasnya dulu," jawab Rere berbohong.
Semoga tuan Reymond percaya dengan kebohongan ku ini, gumam Rere dalam hatinya.
"Cepat keluar dari sini!" perintah Reymond.
Reymond tidak menggubris jawaban Rere tadi, ia tidak ambil pusing, yang terpenting sudah ada baju yang akan ia kenakan.
Sepertinya harus aku sendiri yang menegur gadis itu, gumamnya sambil memakai baju yang sudah tersedia.
***
Fatma sendiri bukannya tak enak badan, ia memang keberatan jika di tugaskan untuk menyiapkan keperluan Reymond, tapi ia juga sudah mendapat peringatan keras dari Nadira.
Flashback on
Dua hari yang lalu Nadira datang menemui Fatma di paviliun yang biasa di huni para pelayan saat mereka sedang beristirahat.
"Maaf nyonya, ada apa anda mencari saya sampai ke sini?" tanya Fatma saat mereka sudah berada jauh dari para pelayan yang lain.
"Aku sebenarnya mulai kesal padamu, mengingat kamu adalah istri sah dari suami siriku. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa padamu selain meminta untuk menjaga jarak dengan suamimu, lebih tepatnya Tuan suamimu," ucap Nadira terus terang.
"Lalu Nyonya ingin saya berbuat seperti apa? Lagipula jika bukan karena aku memiliki hutang pada Tuan Reymond, aku tidak akan berada di sini," jawab Fatma.
"Pikiran mu sesimpel itu, ya? Benar-benar naif sekali," ucap Nadira merendahkan Fatma.
"Maaf, Nyonya. Saya sadar diri, saya tahu dimana harusnya saya berada saat ini. Saya juga tidak pernah berambisi atau bermimpi untuk menjadi Nyonya besar seperti Anda," jawab Fatma yang entah kenapa membuat Nadira merasa tersindir kerena mengucapkan "Ambisi dan Mimpi".
"Sudahlah, saya peringatkan kamu untuk sebisa mungkin jangan menampakkan diri di depan Rey-ku, kalau kamu masih tetap melakukannya, aku tidak akan segan-segan untuk melukai adik-adik mu lagi!" ucap Nadira dengan nafas yang menggebu-gebu dan menunjuk wajah Fatma. Setelah mengatakan itu, Nadira pun pergi meninggalkan Fatma.
__ADS_1
Flashback off
TUNGGU, apa maksud Nyonya Nadira dengan mencelakai adik-adik ku lagi? gumam Fatma karena dia baru saja mengingat sesuatu. Jangan-jangan nyonya Nadira mengetahui sesuatu pada saat Tio dan Tantri keracunan makanan waktu itu. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin, kami bahkan baru bertemu saat tuan Reymond sudah mengucapkan ijab kobul kemarin, sambungya lagi dengan bahu yang merosot.
Saat Fatma sedang menyapu taman, tiba-tiba ia mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya.
"Fatma!"
"Fatma!"
"Fatma!"
Teriak seseorang itu, Fatma pun membalikkan badannya agar bisa melihat orang yang memanggil namanya.
Tuan Rey? aduh bagaimana ini? Apa aku sudah melakukan kesalahan? gumam Fatma saat melihat tuan Rey sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Kenapa kamu berada di sini? Sampai lelah saya mencari kamu!"
"Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa? Kenapa harus saya?" tanya Fatma bingung.
"Tentu saja karena kamu istriku!" geram Reymond kesal.
"Lalu bagaimana dengan Nyonya Nadira?"
"Dia sudah aku suruh untuk menunggu di Villa dekat danau, sekarang cepat kamu kerjakan apa yang ku perintahkan tadi!"
"Tapi, maaf sebelumnya Tuan. Saya tidak mempunyai baju yang pantas untuk menyambut Nyonya besar dan Tuan besar," ucap Fatma sambil menundukkan kepalanya dan memilin celemek yang menempel di badannya.
"Sudah ku siapkan. Sekarang cepat pergi temui Pak Kus, dia yang akan mengurus semua keperluan mu," perintah Reymond sambil mendorong pelan tubuh Fatma.
Fatma pun berlalu dari sana dan segera mencari keberadaan pak Kus, benar saja ternyata pak Kus sudah menunggunya di depan ruangan yang Fatma tahu itu adalah salah satu kamar untuk tamu.
__ADS_1
"Nyonya muda, mari ikut saya," ucap Pak Kus penuh dengan rasa hormat.
Wah ... bahkan Pak Kus sendiri sudah mengganti gaya bicaranya, batin Fatma merasa lucu sendiri. Fatma tidak menjawab ucapan Pak Kus, dia hanya mengikuti arahan dari kepala pengurus rumah itu.
Di dalam ruangan, penata rias dan juga penata busana yang sudah dipersiapkan oleh tuan Reymond.
Lihat, bahkan mereka semua langsung menunduk saat aku menatapnya, sungguh lucu sekali hidupku, batin Fatma saat melihat orang-orang di depannya yang sedang menunduk hormat padanya.
"Silakan Nyonya. Baju mana yang akan anda kenakan hari ini," ucap salah satu penata busana yang ada di sana sambil membawa beberapa gantung baju lengkap dengan aksesoris serta sandal dan heels yang sangat terlihat mewah di mata Fatma.
"Apa aku harus memakai semua ini?" tanya Fatma saat ia melihat beberapa baju yang sudah di pasang-pasangkan sekaligus dengan aksesorisnya.
"Tentu saja Nyonya, karena ini sudah kami siapkan dan sudah kami cocokkan," jawab salah satu penata busana itu.
"Apakah tidak ada baju yang lebih ringan dan sederhana dari ini? Karena saya merasa tidak nyaman jika harus memakai pakaian yang modelnya seperti ini?" tanya Fatma saat ia tidak menemukan pakaian yang cocok dengannya.
"Maafkan kami Nyonya, kami akan segera menyiapkannya," jawab penata busana itu sambil memundurkan dirinya untuk mengambil beberapa potong pakaian yang menurutnya sederhana dan ringan.
"Sebaiknya Nyonya, kami dandani dulu," ucap salah satu penata rias yang ada di sana.
"Apa saya benar harus dirias?" hanya Fatma karena ia tidak terbiasa dengan alat-alat make up.
"Iya Nyonya. Nyonya tenang saja karena kami akan menyesuaikan dengan kepribadian Anda. Jadi, tidak akan terlihat berlebihan saat memakainya," jelas penata rias itu.
"Baiklah, tapi tolong jangan terlalu tebal," pinta Fatma pada sang penata rias.
"Baik Nyonya akan saya laksanakan," jawab penata penata itu.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Fatma selesai di dandani. Sedangkan di luar ruangan Reymond sudah bolak-balik dan menunggu dengan tidak sabarnya, karena sebentar lagi orang tuanya akan sampai ke Mansion miliknya itu.
"Lama sekali, sih, dia." Reymond menggerutu.
Saat dia sedang berdiri membelakangi pintu, pintu ruangan itu pun terbuka dan tampaklah sosok wanita yang tidak dikenal.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA
TERIMAKASIH 🤗🤗🤗