
Menjelang siang hari, Fatma berencana untuk pergi ke rumah lamanya. Tadi pagi Reymond sudah mengizinkannya untuk ke sana yang tentu saja ditemani oleh sopir sekaligus bodyguard yang akan mengantarnya kemanapun ia pergi. Jangan berfikir jika Reymond akan membiarkan Fatma pergi bersama pria, karena nyatanya bodyguard plus sopir itu adalah seorang wanita.
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Zen memberitahukan Fatma.
"Terimakasih, Zen." Fatma keluar dari mobil yang ia tumpangi dan berjalan menuju depan pintu ke rumah lamanya.
"Fatma!" panggil Bu Imah yang kebetulan sedang duduk di terasnya.
"Ibu, gimana kabarnya?" tanya Fatma setelah Bu Imah berada di hadapannya.
"Alhamdulillah, kabar Ibu baik. Gimana kabarmu dan suami?" tanya Bu Imah.
"Alhamdulillah, Bu. Kabar kami juga baik. Ayo masuk Bu, Zen." Fatma berucap seraya membuka pintu rumahnya menggunakan kunci cadangan yang ia punya.
Bu Imah dan Zen mengikuti Fatma untuk masuk ke rumahnya dan duduk di tikar tipis yang sudah tergelar di sana.
Sebelumnya Zen tidak percaya saat Fatma mengatakan jika ia adalah orang tak punya, tapi sekarang setelah melihat kenyataannya barulah Zen percaya.
Bu Imah dan Fatma banyak bercerita tentang beberapa hal, termasuk keadaan rumah tangganya sekarang, sedangkan Zen hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu karena dia merasa tidak pernah tahu tentang keadaan Fatma sebelumnya.
"Alhamdulillah, sekarang rumah tangga kalian sudah dalam keadaan harmonis, semoga selalu seperti itu." Bu Imah berkata dengan haru. Ia sangat lega saat mendengar Fatma sudah bahagia dengan kehidupan rumah tangganya.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, padahal sebelumnya aku tidak pernah berharap bisa merasakan ini semua," ujar Fatma kala ia mengingat beberapa bulan yang lalu.
"Anggap saja semua itu adalah ujian dalam rumah tangga untuk mempererat hubungan pernikahan kalian. Jadi jika suatu saat nanti ada masalah lain, kamu maupun suamimu bisa menyikapinya dengan kepala yang dingin, karena sejatinya dalam rumah tangga itu selalu ada saja hal yang menjadi permasalahan, tapi itu semua kembali lagi ke diri kita, mau di selesaikan seperti apa masalah itu." Bu Imah sedikit memberikan nasihatnya.
"Terimakasih, atas nasihatnya, Bu. Aku akan selalu mengingatnya," jawab Fatma.
Tak lama kemudian, Tio dan Tantri pulang. Mereka belum mengetahui keberadaan kakak perempuannya di rumah itu, hanya saja mereka merasa heran lantaran disana ada sebuah mobil yang tidak dikenalnya terparkir tepat di halaman rumah.
"Bang, itu mobil milik siapa? Kenapa parkirnya di depan rumah kita?" tanya Tantri pada Tio.
"Aku juga tidak tahu, Tan. Sebaiknya kita lihat saja dulu." Tio berjalan mendahului Tantri.
__ADS_1
Dari jarak sekitar sepuluh meter, ia melihat pintu rumahnya pun di buka seseorang, Siapa yang sedang berada di rumahku? Apa Kak Fatma sedang pulang? Tapi itu bukan mobil milik Kak Rey. Tio terus mengira-ngira di dalam hatinya karena ia tidak mengetahui jika Fatma sedang berkunjung.
"Assalamualaikum," sapa Tio dan Tantri bersamaan saat mereka sudah berada di depan pintu rumah yang terbuka.
"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam yang tentu saja sudah mereka ketahui pemilik suara itu.
"Kakak!" Tantri begitu senang saat ia bertemu dengan kakak perempuannya, ia langsung menubruk tubuh Fatma dan memeluknya.
"Kakak, Aku sangat merindukanmu," ucap Tantri
"Kakak juga merindukan kalian." Fatma memeluk Tantri dan mengusap kepala Tio, kedua adik kesayangan Fatma.
"Tan, bagaimana keadaan Bibi Fani sekarang?" tanya Fatma karena ia sudah lama tidak mengetahui kabar keluarganya yang lain.
"Bibi Fanny sekarang sudah berhenti bekerja di rumah Kak Rey, terakhir kali aku lihat Kak Rey mendatangi Bibi dan memberikan sejumlah uang untuk modal usahanya." Tantri menceritakan sedikit tentang Bibi Fani.
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Tidak. Mas Rey meminta Kakak untuk menjemput kalian agar ikut tinggal bersama kami. Sebenarnya Kakak yang meminta ada Mas Rey tadi pagi," ucap Fatma.
"Apa tidak merepotkan Kakak jika kami tinggal bersama kalian?" Tio merasa tidak enak hati jika harus tinggal bersama dengan kakaknya.
"Tidak, Yo. Kakak senang jika kalian mau tinggal bersama lagi, Kakak khawatir pada kalian jika kalian tetap disini. lagipula kami tidak tinggal di mansion," ujar Fatma.
Tio dan Tantri sejenak berfikir dan saling menatap sebelum akhirnya menjawab.
"Tapi aku merasa tidak enak hati, Ka," jawab Tio.
Saat Fatma, Tio dan Tantri masih berunding tentang tempat tinggal mereka, tiba-tiba Zen datang menghampiri Fatma.
"Nyonya, Tuan Rey ingin berbicara dengan anda," ucap Zen sambil memberikan telepon genggam miliknya.
Fatma pun pergi dari sana meninggalkan Tio, Tantri beserta Zen untuk menerima telepon dari sang suami.
__ADS_1
"Halo, Mas."
"Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?"
"Oh, ya? Sebenar akan ku periksa dulu." Fatma berucap sambil merogoh tas kecil yang ia bawa, ia melihat ponselnya ternyata tidak aktif.
"Maaf, Mas. Ternyata ponselku mati."
Di sebrang sana terdengar Reymond mendesah kasar, tadi pagi ia sudah meminta Fatma untuk membawa ponsel yang diberikannya tapi istrinya itu kukuh menolak.
"Aku tidak mau tahu, setelah kamu pulang ke rumah ponselmu sudah diganti dengan yang kuberikan tadi pagi." ucap Raymond dengan nada memerintah.
"Hmmm, baiklah. Kira-kira kapan Mas pulang?"
"Apa kamu merindukanku?" tanya Reymond dengan nada menggoda.
"Apa, sih, Mas." Fatma menjawab dengan malu-malu, ia masih segan untuk mengakui perasaannya. Ditanya seperti itu meskipun hanya lewat ponsel, tapi bisa membuatnya tersipu.
"Baiklah, baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi," ucap Reymond yang pasti tahu jika istrinya sedang tersipu malu.
"Jadi?"
"Jadi, apa?"
"Ish, jadi kapan Mas pulang?"
Di seberang sana terdengar jika Reymond sedang tertawa renyah, "Baiklah, aku akan pulang tepat waktu hari ini. Oh, iya, bagaimana dengan Tio dan Tantri apa mereka bersedia untuk ikut tinggal bersama kita?" tanya Reymond ingin tahu.
"Mereka masih berfikir, aku juga sangat ingin mereka tinggal bersama kita, aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka jika tidak ada yang memperhatikannya."
"Baiklah, kamu coba bujuk lagi mereka agar ikut bersama mu. Kalau bisa sebelum aku pulang, kalian sudah ada di rumah."
"Hmmm, baiklah, Mas. Aku mengerti." setelah mengatakan itu, Fatma pun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menemui adik-adiknya yang sedang bersama Zen
__ADS_1