
Tak terasa sudah tinggal beberapa hari lagi resepsi pernikahan Reymond dan Fatma akan di gelar, saat ini keduanya masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Seperti saat ini, Reymond tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya, ia ingin memiliki waktu luang yang banyak, agar setelah selesai resepsi nanti mereka bisa pergi berbulan madu dengan tenang.
Fatma sendiri tidak kalah sibuknya seperti sang suami, ia sibuk bersama mertuanya untuk belajar tata Krama kebangsawanan. Fatma di tuntut untuk selalu tampil sempurna kapanpun. Apalagi jika pernikahan mereka sudah diketahui banyak orang, para rekan bisnis Reymond pasti akan selalu mengundang mereka berdua, untuk hadir di pesta-pesta yang biasa digelar oleh para pengusaha.
Saat ini Fatma sedang belajar berjalan dengan anggun, sudah beberapa kali ia menjatuhkan buku yang berada di atas kepalanya, tapi Nyonya Celine masih terus sabar mengajarinya.
"Mom, aku lelah. Boleh minta istirahat sebentar?" tanya Fatma sambil menenteng high heels sepuluh senti di tangan kirinya dan buku tebal di tangan kanannya.
Nyonya Celine menghela nafasnya pelan, ia juga tidak bisa terlalu menuntut menantunya jika sudah lelah, akhirnya ia pun mengalah dan mengangguk membiarkan menantunya itu untuk istirahat sejenak.
Fatma masuk ke dalam kamarnya, ia merasa lelah dan membaringkan tubuhnya di atas kasur sedangkan kakinya menggantung ke bawah. Mereka sudah pindah kembali ke mansion bersama dengan adik-adiknya, Tio dan Tantri. Bahkan kamar bekas Nadira pun sudah di renovasi ulang dan dijadikan kamar dirinya bersama Reymond.
"Ternyata cukup melelahkan menjadi istri pengusaha, aku lebih senang menjadi seorang ibu rumah tangga," gumam Fatma dengan mata tertutup. Bukan ia tidak mensyukuri apa yang dimilikinya, hanya saja menurutnya menjadi seorang istri Reymond itu cukup melelahkan, karena harus berpenampilan profesional dimanapun dan kapanpun.
Saat ia sedang membaringkan tubuhnya, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk seseorang dari luar.
Tok ... tok ... tok ....
Dengan perlahan Fatma pun bangkit dari tidur dan melangkah menuju pintu untuk membukanya.
CEKLEK
__ADS_1
Pak Kus berdiri dengan tegak di depan pintu itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Fatma saat ia sudah mengetahui jika Pak Kus-lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Nyonya. Di luar ada Paman dan Bibi anda yang meminta izin untuk bertemu," jawab Pak Kus menyampaikan kedatangan Paman Andre dan Bibi Fani.
Fatma sedikit tidak percaya, lantaran selama ini Bibi Fani juga Paman Andre seakan sudah melupakan dia dan adik-adiknya.
"Baiklah, saya akan menemui mereka sebentar lagi. Tolong sampaikan pada mereka untuk menunggu," ucap Fatma sebelum ia kembali lagi masuk ke kamar.
"Baik. Nyonya." Setelah mendapat perintah dari nyonyanya, Pak Kus pun pergi dari sana dan kembali menemui tamu-tamu itu.
Fatma sendiri segera mengganti bajunya dengan cepat. Setelah selesai, ia pun segera menghampiri Paman Andre dan Bibi Fani yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Tanpa diduga tiba-tiba Bibi Fani memeluk erat Fatma sambil terisak dan menggumamkan kata 'Maaf'.
"Apa Bibi baik-baik saja?" tanya Fatma dengan khawatir. Tidak baiasanya bibinya itu meminta maaf dan memeluk erat dirinya.
"Maafkan perlakuan kami selama ini, Fatma. Sebagai pengganti orang tua, kami sudah lalai dalam menjagamu, maafkan kami," ucap Bibi Fani pelan ditengah pelukannya, sedangkan Paman Andre yang berdiri di belakang istrinya ikut mengusap kepala Fatma.
"Iya, Fatma. Maafkan perlakuan kami yang buruk selama ini terhadapmu," ucap Paman Andre.
Fatma masih sedikit heran dengan perkataan mereka, ia masih belum mengetahui apa yang terjadi pada paman dan bibinya itu.
__ADS_1
Apa Mas Rey kembali mengancam mereka? Tapi itu tidak mungkin, Mas Rey sudah berjanji tidak akan menekan seseorng dengan kekuasaanya. Lalu, apa yang sebenarnya sudah terjadi? tanya Fatma dalam hatinya.
Ia masih tidak percaya jika paman dan bibinya bisa berubah begitu saja dengan cepat. Bukan bermaksud untuk menaruh curiga, hanya saja mereka selama ini memang tidak pernah bersikap baik padanya, lalu tiba-tiba berubah jadi baik tanpa ada alasan.
Fatma melepaskan pelukan bibinya, ia menatap lekat pada mereka. "Apa Mas Rey mengancam kalian lagi agar bersikap baik padaku?"
Bibi Fani menggeleng dengan cepat. "Tidak, Fatma. Tuan Reymond tidak mengancam apa-apa. Kami datang dan meminta maaf padamu, karena kami sudah menyadari kesalahan yang kami perbuat selama ini."
Fatma terdiam, ia cukup terharu jika memang paman dan bibinya sudah berubah.
"Syukurlah jika Mas Rey tidak mengancam kalian," ucap Fatma dengan lega. "Kalian tidak perlu khawatir karena aku sudah memaafkan kalian dari dulu," sambungnya lagi.
Bibi Fani dan Paman Andre langsung kembali memeluk keponakannya, mereka bersyukur jika Fatma sudah memaafkan semua kesalahannya.
"Terima kasih, Fatma. Kamu memang mirip seperti Ibumu yang selalu mudah untuk memaafkan seseorang," ucap Bibi Fani.
"Aku bukan Ibu, Bibi. Aku juga perlu waktu untuk memaafkan dan setelah melihat ketulusan kalian baru aku bisa bener-bener memaafkannya." Fatma berucap sambil menyuruh Bibi dan Paman Andre untuk kembali duduk di sofa.
Bibi Fani mengangguk paham, memang tidak mudah memaafkan seseorang yang sudah banyak berbuat kesalahan seperti mereka.
"Baiklah. Sekali lagi, terima kasih banyak karena kamu sudah mau memaafkan kami," ucap Paman Andre.
Setelah acara saling memaafkan itu selesai, mereka pun melanjutkannya dengan mengobrol dan menceritakan banyak hal. Fatma bersyukur akhirnya ia, paman dan bibinya sudah kembali akur.
__ADS_1