Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 18


__ADS_3

Sore hari itu setelah Fatma pulang dari rumah sakit ia pun kembali lagi ke warung makan Ibu Esih, dia berencana akan minta izin seharian esok karena harus mencari untuk pinjaman biaya rumah sakit serta operasinya Tantri.


"Bu, bolehkah aku besok minta izin untuk tidak bekerja dulu, karena aku harus mencari pinjaman untuk biaya adik ku" ucap Fatma saat ia sudah sampai di warung maka itu.


"Apa kondisi adik mu sangat parah?" tanya Bu Esih.


"Iya Bu, ada penyumbatan pembuluh darah di otaknya harus segera melakukan tindakan operasi. Saat ini aku tidak mempunyai uang sebanyak itu. Sebenarnya aku merasa bingung harus mencari uang kemana sebanyak itu dalam waktu dua puluh empat jam ini" jawab Fatma pelan.


Ia bukan tipe orang yang gampang untuk menceritakan masalahnya pada orang lain, tapi saat ini ia benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar dan bertukar pikiran. Bu Esih dengan setia mendengarkan cerita Fatma, kadang beliau juga mengusap tangan Fatma untuk memberikan kekuatan.


"Ya tuhan, nak. Ibu tidak menyangka jika beban yang kamu pikul sangatlah berat, mudah-mudahan suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagiaan setimpal dengan beban yang kamu rasakan saat ini" ucap Bu Esih setelah Fatma menceritakan semua yang ia alami, termasuk tentang pernikahannya dengan Reymond.


"Amin, Bu. Terimakasih sudah mau mendengarkan semua keluh kesahku" ucap Fatma dengan memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Sama-sama, nak. Ibu senang jika kamu bisa terbuka seperti ini pada Ibu" jawab Ibu Esih sambil membalas pelukan Fatma.


Setelah perbincangan mereka selesai, Fatma pamit undur diri untuk pulang ke apartemennya. Sepanjang perjalanan ia tampak tidak fokus, sampai beberapa kali ia tersandung dan hampir jatuh.


"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang" batin Fatma saat ia sudah memasuki lift.


***


Leandro tengah menatap seorang laki-laki yang beberapa hari lalu ia percayai untuk menjaga Fatma, tapi laki-laki itu teledor sehingga membuat Fatma bisa di dekati Nadira. Dan kali ini pun ia kembali kesal, karena penjaga yang mengawasi Fatma terlambat untuk memberikan informasi tentang adiknya yang baru saja mengalami kecelakaan.


"Kenapa kamu bisa sampai lengah seperti ini lagi?"


"Maafkan saya, tuan. Saya benar-benar tidak menyangka jika mobil itu mengincar nona Tantri"


Leandro menarik nafasnya dalam, ia bingung jika tiba-tiba langsung menemui Fatma dan membayarkan biaya rumah sakit adiknya, Fatma akan menolak keras kepeduliannya.


"Sekarang kamu pergi dari sini. Tenaga mu sudah tidak diperlukan lagi" ucap Leandro dengan emosinya.


"Tapi tuan–"


"Saya sudah tidak mau mendengar ucapan mu lagi. Pergi dari sini" usir Leandro pada laki-laki itu.


Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, laki-laki itu pun pergi meninggalkan Leandro di ruangannya.


***


Sedangkan di tempat lain, Nadira sedang merasa puas hati. Ia sangat gembira dengan apa yang sudah di dilakukannya sehingga membuat Reymond merasa aneh pada istri sirinya itu.


"Sayang, sepertinya kau sedang bahagia saat ini?" tanya Reymond dengan penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, aku selalu bahagia saat bersama dengan mu, seperti sekarang ini" kilah Nadira, ia tidak mungkin akan mengatakan alasan kenapa ia selalu tersenyum saat ini.


"Sebegitu cintanya kamu padaku? Sehingga apapun yang kulakukan di matamu tidak pernah salah. Kasihan sekali kamu" batin Nadira dengan menyunggingkan senyum remeh pada Reymond yang tidak menyadarinya.


Mereka bercengkrama seperti biasa, layaknya sepasang pengantin baru. Sejak Reymond menginap di apartemen Fatma, Nadira menjadi lebih posesif padanya. Nadira tidak pernah membiarkan Reymond untuk pergi berjauhan darinya.


Tring... tring... tring...


Ponsel milik Reymond berdering, ID pemanggil di sana terpampang jelas nama Fatma. Dengan malas Reymond pun menjawab panggilan telepon itu.


"Hmmm, halo"


"Maaf mengganggu waktu malam anda, tuan. Saya– saya–"


"Bicara yang benar! jangan membuatku kesal"


"Tuan, bisakah saya saya bertemu dengan anda?"


"..."


Hening.


"Tuan apa anda masih di sana?" tanya Fatma lagi karena tidak mendengar suara Reymond lagi.


Setelah menunggu panggilan selama tiga menit tanpa suara, Reymond pun akhirnya menjawab.


"Tuan saya mohon bantuannya, adik saya–"


"Tut... tut... tut..." belum sempat Fatma mengutarakan niatnya, istrinya Nadira sudah merampas handphone milik Reymond.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Reymond tidak suka dengan sikap Nadira.


"Yang sedang bersama mu itu aku, kenapa kamu malah telponan dengan dia?" rajuk Nadira seraya membuang wajahnya.


"Bukan seperti itu, sayang. Hanya saja sepertinya wanita itu sedang membutuhkan sesuatu" jawab Reymond.


"Aku tidak suka jika kau dekat-dekat dengannya, Rey. Aku cemburu, aku sakit hati karena kau memperlakukan ku seperti ini" ucap Nadira dengan mimik sedih (Percayalah, itu sangat manjur untuk membuat Reymond semakin luluh padanya)


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat mu bersedih" jawab Reymond, memeluk Nadira. Nadira yang selalu tahu bagaimana cara mengendalikan Reymond tersenyum sinis dalam dekapan suami sirinya itu.


***


Fatma terisak, satu-satunya orang yang ia harapkan bisa menolong adiknya ternyata malah menganggap pengganggu.

__ADS_1


"Aku menyesal mengikuti saran sekretaris Zio, dia sama sekali tidak membantu ku" gumam Fatma seraya melemparkan ponsel jadulnya di atas kasur.


Sesaat sebelum Fatma menelpon Reymond.


Fatma keluar dari dalam lift dengan langkah gontai, sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang ia butuhkan.


Saat ia akan memasuki unitnya, sepintas ia mengingat kejadian sebelum dirinya menikah dengan Reymond, yaitu menghubungi sekretaris Zio. Setelah menimbang semua kemungkinan, akhirnya Fatma dengan berani mulai menelpon sekretaris Zio.


"Halo tuan"


"Ya ada apa Nyonya?"


"Jangan panggil saya Nyonya, tuan. Saya hanya istri pura-puranya saja"


"Anda istri sah di mata hukum dan agama, pernikahan kalian juga tercatat di negara"


"Akh, baiklah, terserah anda saja. Bolehkah saya minta tolong pada anda?"


"Apa yang Nyonya butuhkan?"


"Saya–"


"Ya?"


"Saya butuh uang untuk biaya operasi Tantri, adik saya. Dia mengalami kecelakaan tadi siang dan harus segera di tangani"


"Berapa yang anda butuhkan?"


"50 juta"


"..." hening.


"Tuan, bisakah anda membantu saya?"


"Mohon maaf Nyonya, uang itu sangat banyak. Sebaiknya anda menghubungi tuan Rey dulu untuk meminta ijin darinya"


Fatma menghela nafas berat.


"Baiklah, terimakasih sekretaris Zio. Maaf sudah mengganggu anda"


Setelah mengatakan itu, Fatma pun memutuskan sambungan telponnya, dan mencoba menghubungi Reymond.


"Sekarang siapa yang bisa ku harapkan?"

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


TERIMAKASIH 🤗🤗🤗


__ADS_2