Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"

Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"
Bab 58


__ADS_3

Fatma sampai di rumahnya tepat jam dua siang, ia segera mengantar Tio dan Tantri ke kamar yang akan mereka tempati setelah tinggal di sana. Ya, Tio dan Tantri akhirnya menyetujui ajakan Fatma untuk tinggal bersama dengan mereka.


"Nah, ini kamarmu, Tan." Fatma menunjukkan kamar yang akan di tempati oleh Tantri. "Yang sebelahnya ini kamarmu, Yo." tunjuk Fatma pada pintu yang berada di sebelah kamar Tantri. "Sekarang kalian istirahat dulu, Kakak akan kembali ke kamar yang berada di atas," ucap Fatma sebelum ia meninggalkan kedua adik-adiknya untuk beristirahat.


"Uh, lelah sekali rasanya," gumam Fatma seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa sadar, ia pun terlelap tidur hingga terbangun saat hari mulai sore. "Sepertinya aku ketiduran. Jam berapa sekarang?"tanya Fatma pada dirinya sendiri, "Ya Tuhan, Mas Rey sebentar lagi pulang, aku belum masak." Fatma segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya terlebih dulu. 


Dengan langkah cepat, ia menuruni tangga dan berjalan menuju dapur untuk mulai menyiapkan makan malam mereka. Tantri yang melihat sang kakak berjalan terburu-buru menuju dapur pun mengikutinya. "Kak, ada yang bisa aku bantu?" tanya Tantri begitu ia berada di samping kakaknya.


"Tadi Kakak tidak sengaja ketiduran dan sekarang baru bangun. Kakak belum masak makan malam, sebentar lagi Mas Rey akan segera pulang. Kamu tolong bantu Kakak untuk menyiapkan makanan yang akan di masak, ya." Fatma meminta tolong pada Tantri untuk membantunya.


Tantri dengan segera menghampiri sang kakak. "Baik, Kak." Mereka pun memasak bersama.


"Tan, Kakak tidak lihat Tio dari tadi, dia sedang kemana?" tanya Fatma saat ia tidak melihat keberadaan adik laki-lakinya itu di rumah.


"Bang Tio hari ini ada jadwal latihan basket, Kak. Tadi dia mau pamit sama Kakak, tapi pas lihat Kakak sedang tidur, dia langsung pergi," jawab Tantri.


"Oh, Kakak kira dia masih tidur."


Selesai memasak, Fatma dan Tantri pun kembali ke kamar mereka masing-masing untuk segera membersihkan dirinya. Setelah Fatma selesai mandi, ia mendengar suara mobil yang terparkir tepat di depan rumah. Dengan segera, ia pun turun dari kamar lantai atas untuk menyambut kedatangan suaminya, Reymond.


Reymond tersenyum saat melihat Fatma yang keluar rumah untuk menyambutnya. "Kau datang menyambut ku?" tanya Reymond. Tak hanya dia yang keluar dari mobil itu, tapi Tio juga datang bersamanya.


Fatma menyambut Reymond dengan senyuman, "Tentu saja, Mas." Fatma juga menyapa Tio yang baru saja turun dari mobil suaminya. "Kamu baru pulang, Yo? Kok, kalian bisa pulang bareng?"


"Tadi aku melihatnya di seberang jalan, mungkin sedang menunggu angkutan umum, jadi aku mengajaknya sekalian" jawab Reymond yang langsung diangguki oleh Tio.


"Iya, Kak. Tadinya aku mau naik angkutan umum, tapi Kak Rey menghampiriku dan mengajakku pulang bersama" jawab Tio.


"Oh, baiklah. Terima kasih, Mas. Ayo, sekarang kita masuk dulu," ajak Fatma pada Reymond dan Tio.


Mereka pun masuk ke rumah bersama, Tio juga segera berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri, begitupun dengan Reymond yang masuk ke kamarnya di ikuti oleh Fatma, dia membantu sang suami untuk membuka jas yang sedang di pakainya.


Setelah jas itu terbuka, Reymond mendekati Fatma dan memeluknya dari belakang sehingga membuat Fatma terkejut. "Mas, kenapa belum mandi?" tanya Fatma saat Reymond semakin mengeratkan pelukannya.


"Tolong biarkan dulu seperti ini." Reymond berucap seraya menelusupkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Apa sedang ada masalah, Mas?" tanya Fatma dengan khawatir.


Reymond tidak menjawab, ia sedang menikmati aroma harum sabun yang menempel di kulit leher Fatma, menurutnya aroma itu bisa membuatnya tenang.


"Sayang, berjanjilah untuk selalu ada di sampingku walau apa pun keadaannya, tetaplah percaya padaku, jika aku sangat mencintaimu dan akupun hanya setia padamu saja," ucap Reymond tiba-tiba. Hal itu membuat Fatma sedikit terkejut, ia tidak tahu alasannya tapi Fatma fikir jika suaminya sedang ada masalah.

__ADS_1


"Apa yang membuat mu berbicara seperti itu, Mas?" tanya Fatma karena penasaran.


"Aku akan menceritakannya, tapi nanti setelah makan malam, ya?" Reymond berucap sambil melepaskan pelukannya dan berlalu menuju kamar mandi.


Fatma semakin penasaran dengan ucapan suaminya, "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" gumam Fatma pada dirinya sendiri. Ia memang penasaran, tapi saat mendengar jika Reymond akan menceritakannya nanti, akhirnya ia pun mencoba bersabar. Fatma segera menyiapkan pakaian untuk Reymond dan menunggunya di kamar.


"Kau menungguku?" tanya Reymond yang melihat Fatma masih duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Fatma tersenyum dan mengangguk. "Aku ingin turun bersamamu." Ia melihat Reymond berjalan kearahnya dan duduk di sampingnya, "Mas, kenapa malah duduk?" tanya Fatma dengan heran.


Reymond tidak menjawab pertanyaan Fatma, ia menatap wajah istrinya itu dalam-dalam. "Kamu selalu tampak cantik di mataku."


Fatma yang ditatap seperti itu oleh Reymond merasa malu, apalagi suaminya berkata dia cantik, wanita mana yang tidak tersipu jika di puji cantik oleh orang yang di sukainya. "Suka? Ya, sepertinya aku mulai menyukainya." batin Fatma sadar dengan perasaannya.


"Hey, kenapa wajahmu memerah?" goda Reymond yang menyadari jika istrinya sedang blushing.


Fatma sendiri yang di goda seperti itu semakin gugup, ia menutup wajahnya saking malu. "Cepat pakai pakaian mu, Mas!" Fatma mencoba mengalihkan perhatian Reymond darinya.


"Kamu pakaikan," gumam Reymond. Seketika itu juga Fatma menurunkan tangan dari wajahnya.


"Apa? Aku tidak mau," tolak Fatma dengan cepat. "Apa-apaan sih bikin aku malu aja," gumam hati Fatma.


"Ayolah, aku serius, sayang." Reymond kembali mendekati Fatma.


"Sayang." Reymond memohon dengan tatapan iba.


"Mas, ini sama sekali tidak lucu. Cepatlah pakai bajumu, kita makan malam sekarang. Kasihan Tio dan Tantri mungkin sudah menunggu kita." Fatma beranjak dari duduknya dan segera berlalu keluar kamar. "Niat hati ingin turun bersama, tapi malah sendiri," gumam Fatma terdiam di depan pintu kamarnya.


Hingga beberapa saat kemudian, ia tidak menyadari jika Reymond sudah berada tepat di belakangnya. "Melamun?" tanya Reymond memeluknya dari belakang hingga membuat Fatma terkejut.


"Ya Tuhan, Mas. Kamu mengejutkanku," ucap Fatma memegangi dadanya yang berdetak cepat.


"Kau yang melamun, sayang. Bahkan kau tidak menyadari keberadaan ku." Reymond melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Fatma.


"Maaf, aku tidak sadar jika melamun," jawab Fatma.


Reymond dibuat tertawa oleh jawaban istrinya. "Sayang, mana ada orang yang melamun dalam keadaan sadar?"


Fatma kesal karena Reymond sudah menertawakannya, "Selesaikan dulu tertawamu, aku akan turun terlebih dulu," ucap Fatma sembari meninggalkan Reymond yang masih tetawa.


"Sayang, maafkan aku." Reymond segera menyusul Fatma dan menggenggam kembali tangan istrinya itu.

__ADS_1


Setelah berhasil menyetarakan langkahnya, mereka pun turun bersama menuju ruang makan untuk menikmati makan malam, di sana sudah ada Tio dan Tantri yang menunggunya.


"Maaf, karena sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Fatma sebelum ia duduk dan menyiapkan makanan untuk suaminya terlebih dahulu.


Tio dan Tantri mengangguk, "Tidak apa-apa, Kak," jawab Tio.


Mereka pun menikmati makan malamnya dengan tenang. Setelah makan malam itu selesai, Tantri membantu Fatma untuk merapikan meja makan dan mencuci piring kotor. Reymond bukan tidak menyediakan pembantu, hanya saja Fatma menyarankan jika pembantu itu datang pada saat pagi sampai dengan sore hari saja dan sisanya dia sendiri yang akan mengerjakan.


Tantri sudah selesai dengan pekerjaannya yang merapikan meja makan, ia pun pamit kembali ke kamarnya karena mempunyai tugas sekolah. Sedangkan Fatma kebagian untuk mencuci piring. Saat ia sedang fokus mencuci piring, tiba-tiba Reymond kembali memeluknya dari belakang dan menempelkan dagunya dibahu Fatma.


"Mas, kenapa?" tanya Fatma tanpa menghentikan gerakan tangannya yang belum selesai mencuci piring.


Reymond tidak menjawab pertanyaan Fatma, ia malah balik bertanya, "Sayang, apa kau masih lama?"


"Tidak, Mas. Sebentar lagi akan selesai," jawab Fatma. Reymond pun mengerti dan melepaskan pelukannya untuk membiarkan Fatma menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai, Fatma menghampiri Reymond yang masih duduk menunggunya di kursi meja makan.


"Mau ku buatkan teh hangat?" tanya Fatma yang sudah berdiri di samping suaminya.


Reymond mengangguk, "Boleh, tolong buatkan teh chamomile hangat."


"Tunggulah, aku akan membuatkannya untukmu," jawab Fatma.


Fatma pun mulai membuat teh chamomile itu dua gelas. Setelah selesai, ia pun membawanya ke hadapan Reymond.


"Silahkan, Mas," ucap Fatma memberikan satu gelas untuk suaminya.


"Sayang, ayo kita kembali ke kamar," ajak Reymond sembari mengambil alih dua gelas yang sedang di pegang istrinya.


"Kenapa tidak berbicara di sini saja?" tanya Fatma seraya mengikuti langkah suaminya.


"Aku ingin berbicara di kamar saja," jawab Reymond. Mereka pun berjalan menuju kamar tidur lantai atas.


Setelah sampai di sana, Reymond duduk dan meletakkan gelas teh milik mereka.


"Ayo, duduk di sini, sayang." Reymond menepuk tempat kosong di sebelahnya, Fatma pun mengikuti perintah Raymond untuk duduk di sampingnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Fatma setelah ia duduk di samping Reymond.


"Oke. Aku akan menceritakan sesuatu, tapi aku mohon selama bercerita, kau tidak boleh menyelanya." Reymond mengangsurkan jari kelingkingnya untuk di kaitkan dengan jari kelingking milik Fatma.

__ADS_1


Fatma awalnya terheran dengan perilaku Reymond, tapi ia juga tidak menolak untuk menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda perjanjian. Setelah itu mulailah mengalir cerita dari bibirnya.


"Dulu aku dan Leandro memiliki seorang sahabat wanita, namanya Rumina. Dia adalah gadis yang baik, cantik dan periang. Hampir sama sepertimu, tapi tentu saja kau lebih cantik darinya–" Reymond menjeda ceritanya untuk melihat reaksi sang istri, tapi Fatma hanya diam dan mendengarkan.


__ADS_2