
Rumi masih terdiam tanpa menyela ucapan Reymond, dia memang berniat dari awal mendekatinya bukan karena ketulusan, dia juga sadar diri akan kesalahannya, tapi dia tidak mau berhenti karena sudah terlanjur masuk ke dalam rencana itu dan akan sia-sia jika dirinya berhenti saat ini.
"Rey, tidak bisakah kamu memaafkan kesalahanku kali ini? Bukankah kita pernah saling mencintai? Bagaimana kalau kamu menganggap perbuatanku kali ini sebagai tanda jika aku sangat mencintaimu dulu?" tanya Rumi dengan mengatakan ide gila yang terlintas di pikirannya secara tiba-tiba.
Reymond menghembuskan nafasnya kasar, ia sungguh tidak mengerti dengan wanita yang sedang berada di depannya saat ini. Bukan menyesali perbuatannya, tapi malah seakan-akan menyalakannya tentang masa lalu mereka.
"Apa kamu sudah tidak waras, Rumi? Aku sudah berusaha untuk bersikap baik padamu, karena istriku yang meminta agar tidak berperilaku kasar terhadapmu." Reymond berbicara dengan tegas sambil menatap Rumi.
Rumi kembali mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia bahkan tidak segan untuk menahan giginya yang bergemeletuk saking kesalnya.
"Istri lagi, istri lagi. Tidak bisakah kamu menghargai sedikit usahaku yang meyakinkan mu tentang perasaanku?" tanya Rumi dengan menggebu.
Reymond menatap sinis wanita di depannya, ia tidak menyukai nada bicara dan perkataan Rumi padanya maupun istrinya.
"Kenapa aku harus menghargai usahamu? Apa yang sudah kamu lakukan padaku dan istriku? Aku merasa kamu tidak melakukan apapun selain mencelakai kami berdua."
"Cukup, Rey ...! Kamu benar-benar sudah berubah dan menjadi tidak berhati lagi padaku," teriak Rumi di depan Reymond.
Reymond lagi-lagi tersenyum sinis mendengar teriakan Rumi, andai Rumi laki-laki mungkin saat ini sudah ia habisi.
Tanpa menunggu lama, Reymond pun menyuruh Zen untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari penyimpanan yang ada di ruangan itu.
"Yui, kamu pegangin dia. Zen, suntikan itu padanya." Perintah Reymond yang langsung dijalankan oleh kedua wanita itu.
"Baik, Tuan."
Rumi mulai menatap khawatir pada benda yang sedang dipegang oleh Zen. "A–apa itu?
"Tentu saja ini adalah hukuman bagi mu," jawab Reymond tanpa menatap Rumi
"Rey, aku tidak bersalah apa-apa. Aku tidak melakukan hal apapun pada kalian," ucap Rumi yang masih mengelak atas perbuatannya.
Reymond menggeleng pelan, jelas-jelas ia sudah mengetahui semuanya. Ia juga sudah mengetahui tentang pelayan yang diperintahkan oleh Rumi untuk memasukkan obat itu pada minumannya.
"Kamu masih berani mengelak, heh? Jelas-jelas kamu yang menyuruhnya untuk melakukan semua itu, kamu juga sudah mengancamnya untuk tidak membukakan semua perbuatanmu padaku, kan?"
__ADS_1
Rumi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Rey. Aku tidak melakukan apapun terhadapmu, semua itu hanyalah fitnahnya saja," jawab Rumi masih menampik semua perbuatannya.
Kali Reymond benar-benar dibuat kesal oleh wanita itu.
BRAK
Raymond menggebrak meja yang berada di hadapannya, bahkan red wine yang tadi saya simpan di sana pun sudah tumpah berceceran dan gelasnya juga pecah berserakan.
"Kamu salah jika mengelabui ku, Rumi. Aku tidak sebodoh yang kamu kira." Reymond berucap sambil menudingkan telunjuknya tepat di hadapan wajah Rumi.
"Kalian, cepat lakukan tugas yang diperintahkan tadi ...!" perintah Raymond pada Yui dan Zen.
"Baik, Tuan."
Rumi langsung berontak seketika saat Yui sudah mencengkram bahu bagian atasnya.
"Lepas ... lepaskan aku ...!" teriak Rumi sambil memberontak.
Yui dan Zen tetap melaksanakan perintah Reymond tanpa mengindahkan teriakan Rumi yang memintanya untuk lepas. Hingga tak lama kemudian, Zen pun selesai menyuntikan obat itu tepat di tangan Rumi.
"Hal yang sama, yang dirasakan oleh istriku siang tadi," jawab Reymond tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"A–apa maksudmu, Rey?" tanya Rumi yang tidak mengerti atas ucapan Reymond.
"Kamu akan tahu beberapa saat lagi," jawab Reymond sambil kembali duduk di kursi tunggal yang ada di sana. "Masukkan dia ke ruangan itu." perintah Reymond sambil menunjuk ke sebuah ruangan dengan jeruji besi di sana, mirip dengan penjara pada umumnya.
"Re–Rey?! Kamu bahkan tega melakukan hal itu padaku?" tanya Rumi yang sudah sangat ketakutan saat Raemond menyuruh untuk memasukkannya ke dalam sel tahanan yang ada di sana.
"Cepat masuk ...!" Zen mendorongnya untuk masuk ke dalam ruangan jeruji besi itu.
Tanpa bisa menolak lagi, Rumi pun pasrah dan masuk ke dalam sana. Sedangkan Raymond sendiri mulai kembali menyesap red wine yang baru saja dia siapkan oleh Yui, ia tidak berniat untuk kembali secepat mungkin, karena ingin melihat wanita yang sedang di dalam jeruji itu menderita.
Tak berselang lama, Rumi mulai merasakan suhu tubuhnya tidak karuan. Ia mulai menggeliat seperti cacing kepanasan. "Re–Rey, apa yang sudah kamu lakukan padaku?" tanya Rumi yang mulai tidak mengerti dengan keadaan tubuhnya saat ini.
Reymond tersenyum sinis, obatnya sudah mulai bekerja pada tubuh Rumi.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Reymond tanpa repot-repot bangkit dari duduknya.
"I–ini sangat panas, Rey ..." ucap Rumi sambil berusaha membuka bajunya satu persatu.
"Itu yang dirasakan oleh istriku tadi siang. Sangat tidak nyaman, bukan?"
Rumi mulai kehilangan kendali pada tubuhnya, ia saat ini sudah sangat berna*su. Ya, Reymond ternyata menyuntikan obat per*ngs*ng padanya.
"Re–Rey ... to ... long ...! Aku ... aku ... sa–sangat ... ingin ..." Rumi mulai berceloteh dengan tidak karuan dan menahan des*han yang keluar begitu saja dari bibirnya.
Lagi-lagi Reymond tersenyum puas melihat Rumi yang seperti itu, iya bahkan tidak peduli jika Rumi sudah tidak memakai pakaian dan hanya menyisakan und*rw*ar-nya saja. Ia bahkan sampai berguling-guling di lantai untuk mencari kesejukan yang bisa manekan rasa panas pada tubuhnya.
"Aku? Menolong mu? Dalam mimpi pun aku tidak sudi menyentuhmu," ucap Reymond sambil membuang tatapannya dari Rumi.
"Re–Rey, a ... h ku mo ... hon."
"Ini hanya sebagian peringatan untukmu, agar kamu tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari," ucap Reymond sambil berlalu meninggalkannya.
"Suntikan itu nanti padanya saat sudah sepuluh menit kemudian. Setelah selesai, segera kirimkan dia ke negara A dan masukkan kembali ke dalam rumah sakit jiwa tempat dia sebelumnya berada." perintah Remon pada Yui dan Zen.
"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan perintah anda," jawab keduanya.
Setelah Reymond mendapatkan jawaban mereka, ia pun segera melangkah meninggalkan ruang bawah tanah itu dan kembali ke rumah di mana istrinya berada.
FLASHBACK OFF
Fatma menutup mulutnya, ia terkejut setelah mendengar pengakuan Reymond tentang apa yang sudah dilakukannya terhadap Rumi.
"Mas, apa menurutmu itu tidak keterlaluan?" tanya Fatma saat Reymond sudah selesai bercerita.
Reymond menggeleng pelan. "Tidak, sayang. Kupikir itu adalah hal yang wajar jika hanya untuk memberikan peringatan padanya."
"Tetap saja, Mas. Tindakanmu seperti itu sangat keterlaluan," ucap Fatma sambil menekuk wajahnya. Ia bukan semata-mata tidak menyukai cara Reymond yang menyiksa Rumi, tapi ia juga kesal karena suaminya itu melihat perempuan lain yang hanya memakai und*rw*ar saja.
"Maaf, sayang, . Aku hanya memberi pelajaran sedikit saja."
__ADS_1