
...🍀🍀🍀...
Tanpa merasa bersalah, Bram hanya diam dan menunjukkan sifat aslinya pada Ara karena tidak ada kakeknya disana.
"Mas.... jawab aku! Bukankah ada yang harus mas jelaskan padaku?" Ara menatap marah pada suaminya, bahkan kini air matanya sudah menetes. Kesabaran Ara sudah habis, ketika Bram berusaha membunuh bayi mereka.
"Ara...maafkan aku, tapi aku belum siap punya anak. Apalagi jika anak itu adalah anak darimu." jawab Bram jujur dan datar. Mulutnya berucap kata maaf tapi hatinya tidak dan terlihat dia tak tulus sama sekali.
Ara tercengang, kedua matanya mulai baru menatap pria itu. "Maaf? Belum siap punya anak? Kenapa kamu bisa bicara seperti ini mas? Bayi yang ada di dalam kandungan ku ini adalah anak kita.... tega kamu ya mencoba menggugurkan anak ini?" Ara kecewa.
Sungguh, Bram sangat membenci raut wajah Ara saat ini. Dia benci dengan kehadiran Ara ke dalam hidupnya, ditambah lagi ada bayi itu. Bisa-bisa ia kehilangan Giselle lagi karena Ara dan bayinya.
"Please, kamu tidak perlu bicara seolah-olah aku ini orang yang jahat! Aku hanya ingin menuntaskan masalah diantara kita karena seharusnya tidak pernah ada bayi itu. Aku bahkan tak mencintaimu, Ara." tegas Bram menumpahkan semua kekesalannya pada Ara.
Perih hati Ara, mendengar ucapan suaminya. Sungguh menyayat hati Ara yang memiliki perasaan cinta untuk Bram.
"Cukup Mas! Kamu memang jahat, tega kamu ingin membunuh anak kita hanya karena kamu tidak cinta padaku. Aku tau ini semua hanya alasan karena kamu ingin bersama wanita itu kan?"
"Kalau iya kenapa?" Bram mengakuinya tanpa basa-basi pada Ara. "Apa jangan-jangan kamu jatuh cinta padaku, Ara? Atau kamu benar-benar menganggap dirimu adalah istriku?"
Pertanyaan itu tak mampu Ara jawab, bungkam dan air mata adalah jawaban sejati dari wanita itu. Ara memang mencintai suaminya, selama mereka menikah sampai saat ini.
Ara menangis.
"Hah! Jadi benar? Kau mencintaiku?" tanya Bram lagi dengan wajah marah. "Aku tidak peduli kau cinta padaku atau tidak, tapi jangan pernah beritahu pada Giselle bahwa kamu hamil." ujar Bram tegas, ia tak mau hubungannya dengan kekasihnya menjadi rusak karena kehamilan Ara.
Deg!
Lagi-lagi hati Ara seperti ditusuk benda tajam secara berkali-kali, sakit yang tidak berdarah dan tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Ara hanya bisa menangis untuk saat ini karena dia tidak tahu harus berkata apa.
"Atau kau sudah lupa alasan kita menikah adalah demi opa. Kalau bukan karena Opa, aku juga tidak sudi menikah denganmu. Jadi lebih baik kau gugurkan saja kandunganmu karena aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai anakku!"
"Aku tidak akan pernah menggugurkan anak kita, aku akan mempertahankannya Mas. Mau kamu suka atau tidak suka..."
"Terserah kamu, yang penting aku sudah mengatakannya! Aku tak mau anak itu lahir...dan Giselle tak boleh tau tentang anak itu. Kalau dia sampai tau, aku tidak akan segan-segan menceraikanmu sekarang juga."
__ADS_1
"Astagfirullah Mas! Jangan pernah mengucapkan kata cerai mas karena perceraian bisa membuat setan bahagia." tukas Ara sambil menangis.
"Masa bodoh! Yang aku mau, kamu mengugurkan bayi itu! Atau kamu bercerai denganku! Pilihanmu hanya dua Ara!" tegas Bram pada wanita yang berstatus sebagai istrinya. "Aku...hanya tidak mau kamu terluka dengan pernikahan ini karena aku tidak akan pernah mencintaimu."
Ara mengepalkan tangannya penuh amarah tapi dia tahan. Jelas bahwa dia tak mau memilih keduanya. Setelah dipikir-pikir lagi, kenapa bisa dirinya jatuh cinta pada pria kejam seperti ini? Bagaimana bisa dia memberikan hatinya pada pria yang ternyata belum lepas dari masa lalunya?
Tidak! Tidak bisa seperti ini. Bram adalah suaminya dan ia adalah ayah dari bayi yang dikandungnya, maka ia harus mempertahankan pernikahan ini. Demi anaknya demi opa Bram yang sudah seperti opanya sendiri.
Baiklah, Ara memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk bertahan satu kali lagi. Dia harus mencoba menekan rasa cinta didalam dirinya untuk Bram dan menggantikannya dengan cinta pada anak di kandungannya.
"Aku tidak mau bercerai ataupun menggugurkan bayi ini mas. Kalau kamu tetap bersikeras mengancamku, aku akan katakan pada Opa semuanya."
Seketika Bram tercengang mendengarnya, ia tak percaya bahwa Ara akan berani mengancam balik dirinya. "Kamu mengancamku?" Bram melotot pada istrinya.
Niatnya bersikap manis pada Ara, ternyata tidak membuahkan hasil Karena wanita itu malah melawannya. Aryan, kakeknya memang kelemahan Bram.
"Ya, bisa dibilang begitu." ucap Ara dengan berat hati bersikap tegas.
3 bulan, hanya dalam waktu itu...aku akan mencoba bertahan Mas. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, kalau tidak bisa juga...maka mungkin memang kau bukan jodohku.
Baiklah Ara, kamu tidak memberiku pilihan. Aku akan mengugurkan anak itu, aku akan membuatmu sendiri yang meminta cerai kepadaku.
****
2 bulan berlalu, sejak Ara keluar dari rumah sakit. Selama itu, sikap Bram kepada Ara berubah sangat drastis. Bram yang biasanya bersikap biasa saja pada wanita itu, sekarang menjadi tidak biasa.
Apalagi sejak tau Ara hamil, dia semakin membenci wanita itu. Ara diam saja dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasa, meskipun dia diacuhkan oleh suaminya.
Berulang kali Bram mencoba membuat Ara celaka, namun Allah selalu melindunginya dan bayinya. Bahkan kini usianya kandungannya sudah menginjak 3 bulan. Selama pemeriksaan kehamilan, Ara tidak pernah sekalipun ditemani oleh suaminya.
"Ra, sampai kapan Lo mau kayak gini? Gue nggak mau kalau mental lo terus-terusan sakit gara-gara hidup sama manusia gak punya hati itu Ra!" kata Mia, teman baik Ara di kampus. Teman dekat yang selalu menjadi tempat curhat Ara selama ini.
Mia dan Ara baru saja keluar dari ruang obygn bagian dokter kandungan karena kebetulan hari ini Ara ada jadwal pemeriksaan kandungan.
"1 bulan lagi, Mi... satu bulan lagi aku bertahan." ucap Ara dengan bulir air mata mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Gak ada satu bulan lagi Ra, gak ada! Lo dengarkan apa tadi kata dokter?" Mia terlihat gemas dan marah. Ia tau bagaimana menderitanya arah selama beberapa bulan menikah dengan Bram, bagaimana perjuangan wanita itu untuk mempertahankan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bayi yang sama sekali tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri.
Setelah pemeriksaan barusan, dokter mengatakan bahwa berat badan Ara dan tekanan darahnya rendah, tidak baik untuk bayi yang ada dalam kandungannya. Itu karena Ara mengalami stress. Mia juga mendengar penjelasan dari dokter. Maka dari itu dia sangat marah pada Bram dan ia ingin Ara sadar bahwa Ara tak akan bahagia.
"Aku akan baik-baik saja Mi," hanya di mulut saja dia berkata begini, tapi hatinya sakit menjerit.
"Lo bisa bilang kayak gini, tapi gue tahu hati lu menderita, Ar. Please...ini juga demi kesehatan bayi Lo..."
"Udah ya Mi, aku mau pulang. Bentar lagi mas Bram pulang, aku harus siapkan makan malam." ucap Ara menahan air matanya.
Ara beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi dari sana. Mia mencoba mengejarnya, namun tiba-tiba saja Mia diam ditempat. Mia tersenyum sinis begitu melihat ada sepasang kekasih tengah keluar dari dokter kandungan disebelah ruangan tempat Ara di periksa.
"Ra, kayaknya loh nggak usah nyiapin makan malam buat suami bangsat Lo!" ucap Mia kasar sambil melihat ke arah pasangan kekasih itu.
"Mia... kamu apa-apaan sih?" tanya Ara heran dengan ucapan kasar Mia.
"Lo lihat!"
Mia menunjukkan kepada Ara pasangan kekasih yang dia maksud. Ara terkejut melihat suaminya tengah bergandengan tangan bersama Giselle dengan mesra.
Ara dan Mia refleks bersembunyi, untuk mendengar percakapan Giselle dan Bram.
"Bram...kapan kamu akan menikahiku? Nanti perutku keburu buncit." ucap Giselle pada Bram. "Apa kamu mau aku melahirkan tanpa suami?"
Ara tercengang dan ia menahan tangisnya, menutup mulutnya dengan satu tangan. Mia ada disampingnya sambil menepuk-nepuk pundaknya. Tatapan mata Mia begitu tajam kepada Bram dan juga Giselle.
Mas Bram...dan mbak Giselle...mbak Giselle hamil? Ya Allah...
Bangsat Lo Bram!
"Kamu tenang aja sayang, sebentar lagi pasti wanita kampungan itu akan segera meminta cerai padaku." kata Bram yakin, sambil mengusap perut kekasihnya yang masih datar itu.
"Makasih Bram...tapi kamu harus secepatnya berpisah dengan dia!"
"Iya sayang, aku mana tega sih membiarkan kamu melahirkan tanpa seorang suami. Anak ini sudah aku tunggu-tunggu."
__ADS_1
...****...