Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 53. Malaikat pencabut nyawa


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Regan mengemudi dengan kecepatan tinggi dan tak tahu mau kemana, sambil menggunakan earphone di telinganya. Kemudian ia melihat Arkan di pinggir jalan.


"Hey! Apa Lo tau plat mobil yang menculik Ara?!"


Tanpa aba-aba, Regan menarik baju Arkan dan sikap lembutnya itu hilang dalam sekejap mata. Arkan bahkan terlihat terkejut saat melihat sikap Regan yang seperti memiliki kepribadian berbeda.


"Sa-saya..."


"LO TAU APA ENGGAK? HAH?!" bentak Regan pada Arkan.


"I-iya saya tau pak." jawab Arkan.


Ya udahlah siapapun yang menolongnya itu tidak penting, yang penting Haura selamat.


Tanpa banyak bicara Arkan langsung mengatakan nomor plat mobil itu pada Regan. Setelah mendapatkan informasinya, Regan kembali masuk ke dalam mobil.


"Cepat kalian temukan lokasi mobil ini, lengkap dengan nama bajingan bajingan itu! Kuberi waktu kalian 2 menit, kalau tidak mati saja kalian!" Regan berujar pada seseorang yang sedang berkomitmen dengannya lewat earphone.


Tanpa Regan sadari ada Sean, Mia dan Arga mengikutinya dari belakang. Regan mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Sampai Sean mengatakan Regan seperti orang yang akan bunuh diri saja.


*****


Ketiga pria itu mulai membuka selotip di mulut Ara. Bagi mereka tidak asyik bila wanita yang mereka ajak bercinta tidak membuat suara.

__ADS_1


Mereka bertiga tertawa cekikikan dan bersiap menjamah tubuh Ara. "Tolong...jangan lakukan ini! Lepasin saya!" seru Ara sambil menangis terisak. Ia melempar apa saja yang ada disana tapi tak berguna.


"Akhhh...tidak!" teriak Ara.


Ara tersentak kaget manakala salah satu pria itu mencumbu wajahnya. Dia memalingkan wajahnya berusaha menghindari cumbuan ini. Sebenarnya dosa apa yang telah ia lakukan sehingga ia diperlakukan seperti ini.


Bahkan pria-pria itu berani menyentuh paha mulus Ara. Gadis itu semakin tergugu. "Tolong...hiks....jangan..."


Ketika si pria itu akan merobek baju Ara bagian bawahnya, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan.


Dor


Dor


Bersamaan dengan suara tembakan itu, salah satu pria yang berada di atas tubuh Ara tergeletak jatuh ke lantai dengan kondisi tangan yang berdarah. Ara terkejut dan syok bahkan sampai terdiam mematung dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Malaikat pencabut nyawa." ucap Regan dengan pandangan yang tajam. Jangan lupakan ia membawa pistol ditangannya dan dia yang menembak salah satu pria kurang ajar itu.


Regan berlari menghampiri ke dua pria lainnya. Dia menendang, memukul kedua pria itu tanpa ampun. Tubuh kekar dua orang pria itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan skill bela diri yang dimiliki Regan.


BUGH!


BUGH!


"BERANINYA KALIAN MENYENTUHNYA DENGAN TANGAN KOTOR KALIAN!"

__ADS_1


Serangan Regan begitu membabi buta hingga darah pun bercucuran dari wajah tiga orang pria itu. Mereka sampai terkapar di lantai dengan keadaan yang tidak berdaya.


Regan marah, tidak! Dia murka bukan marah lagi. Dia tidak terima Ara diperlakukan seperti ini.


Tak lama kemudian, Regan menghentikan aksinya dan teringat dengan wanita yang saat ini sangat membutuhkan pertolongannya. Regan yang tadinya marah mulai berusaha mengondisikan raut wajahnya. "Ra...kamu nggak apa-apa?" ditatapnya gadis itu dengan cemas. Regan melihat wajah cantik itu terluka di sudut bibir dan pipinya. Pastilah pria-pria itu sempat memukulinya.


"Hiks...hiks...pak Re--gan..." lirih gadis itu terbata-bata.


Dengan cepat Regan membuka jasnya dan memakaikan jas itu pada Ara sebab bajunya sudah compang-camping dirobek oleh tiga orang bejat itu.


Ara memeluk pria itu, tubuhnya gemetar dan isak tangis masih terdengar disana. "Tenang saja, aku ada disini...tenang ya." lirih Regan seraya membalas pelukan Ara lalu ia menggendongnya ala bridal.


Tak berselang lama kemudian, Sean, Mia, Arga bahkan Bram telah ada disana. Mereka melihat Ara di dalam gendongan Regan dan tiga orang terkapar disana.


Apa mereka semua masih hidup? Regan tidak membunuhnya kan? Arg bermonolog dalam hatinya. Dadanya naik turun melihat tiga orang yang sudah terlihat tak berdaya itu. Tangan Regan juga berdarah-darah.


"Ara!" Mia dan Sean menghampiri Ara dengan cemas.


Ara tidak bicara dan terus berlindung didalam pelukan Regan. Hanya saja tubuhnya gemetar hebat.


Sial! Aku terlambat. Batin Bram kesal karena Regan menyelamatkan mantan istrinya lebih dulu.


Regan menatap Bram dengan tajam. Bram tercekat dengan tatapan penuh mengintimidasi itu.


...*****...

__ADS_1


Hai Readers,karena like dan komen yang semakin berkurang author putuskan up satu bab aja sehari 🤧🤧🤧


__ADS_2