
...πππ...
Tania sangat senang saat ia tau akan di jodohkan dengan Regan. Padahal Tania menolak semua tawaran perjodohan dari papanya sebelumnya. Tapi saat dia mendengar nama Dirgantara disebut, Tania langsung menerimanya dengan rasa bahagia. Ia sudah menyukai Regan sejak pria itu selalu mengantar Ara ke rumah sakit untuk berobat.
Tania tak peduli jika Ara dan Regan saling suka, selama tidak ada ikatan pertunangan atau pernikahan di antara mereka berdua. Bukankah itu artinya Regan masih free? Lagipula Ara adalah seorang janda, bukankah Regan lebih pantas dan cocok untuknya? Pikirnya dalam hati.
"Ya udah pa, pertemuannya nanti malam kan? Aku pasti datang pa." ucap Tania sambil menenteng tas selempangnya. Penampilan Tania begitu cantik dan modis, kulitnya putih bersih. Banyak pria yang mengejarnya, tapi tidak ada satupun memikat hatinya. Hanya Regan saja yang berhasil membuatnya jatuh hati. Meski sikap pria itu seperti bongkahan es di kutub Utara.
Namun jangan salah, dia tidak tahu saja bahwa sikap Regan sangat lembut pada Ara seorang. Bagi Ara, Regan adalah pria terhangat yang pernah ia temui.
Tania pergi ke rumah sakit dengan hati gembira, dia tersenyum dan menyapa beberapa petugas di rumah sakit. Hal yang tidak biasanya, sebab ia jutek pada rekan kerja dan hanya ramah pada pasien.
****
Di depan rumah Ara.
Bram dan Regan masih saling berhadapan dengan tatapan kilat penuh kebencian. Lama terdiam dengan tatapan tak bersahabat, akhirnya Bram memulai pembicaraan.
"Calon menantu? Apa gak salah?" tanya Bram sinis dengan tatapan tajam pada Regan. Sedangkan pria yang ditatapnya itu terlihat begitu santai.
"Nggak salah, saya memang calon menantu di keluarga ini. Tak lama lagi." jawab Regan tegas.
"Ara baru dua bulan bercerai dan tidak mungkin dia akan menikah lagi. Tidak mungkin semudah itu Ara melupakan ku." gumam Bram pelan, tapi Regan masih bisa mendengarnya. Terbukti dari senyum mengejek yang ditunjukkan pria itu pada mantan suami calon istrinya.
"Untuk apa Ara terus menyimpan luka masa lalu di dalam hatinya. Harusnya anda senang karena Ara berusaha melupakannya dan menjalani hidup yang baru. Jadi lebih baik anda juga jalani hidup anda juga, tanpa ada bayang-bayang dari masa lalu." tutur Regan santai tapi menusuk ke dalam hati Bram.
"Aku bukan bayang-bayang, tapi aku juga masa depannya." cetus Bram percaya diri.
Regan berdecih ketika dia mendengar ucapan percaya diri dari Bram. "Masa depan? Ckckck, kasihan saya sama kamu. Penyesalan telah membuat kamu jadi orang yang tak tau malu."
Bram tidak terima dengan semua ejekan dari pria itu, ia mulai naik pitam. "Kamu--"
__ADS_1
"Kak, maaf ya nunggu lama." kata Ara sambil tersenyum pada Regan.
Kedua pria didepan Ara langsung terpana melihat penampilan Ara yang natural, tapi cantik dan mempesona. Make up yang tidak tebal, rambut di ikat satu dan kulit putih bersih, membuat gadis itu semakin cantik. Tak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah janda dan pernah keguguran.
"Gak apa-apa kok. Kamu udah siap?" tanya Regan sambil mengulurkan tangannya pada Ara. Disertai senyuman ramah pada gadis itu.
Ara membalas uluran tangan dari calon suaminya itu dan membuat Bram kesal karena cemburu. "Ra...ini aku bawain bunga buat kamu," ucap Bram memberanikan dirinya untuk memberikan buket bunga yang dibawanya kepada Ara.
"Makasih Mas, simpen aja disana." Ara melirik ke arah meja didepan rumah.
"Tapi--"
"Aku gak mungkin kan bawa bunga itu ke kantor?" kata Ara ketus.
"Oh ya Ra, aku bawa ini buat kamu...biar kamu semangat kerjanya!" kali ini Regan yang bicara dan ia menunjukkan buket permen dan coklat yang dibawakannya untuk Ara.
Wanita itu langsung tersenyum dan mengambil buket dari Regan, ia senang sebab semua permen coklat itu adalah merek cemilan kesukaannya. "Makasih kak! Aku akan bawa ke kantor,"
Tidak Bram! Ini belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan dulu pada Ara. Aku yakin sekarang Ara cuma ingin memanasiku saja. Dia mencintaiku, hanya mencintaiku. Batin Bram masih dengan keyakinan dan percaya diri yang sama. Padahal Ara sudah benar-benar berpindah hati pada Regan dan sama sekali tidak ada rasa cinta untuk Bram. Bahkan berteman saja ia sebenarnya tak mau. Namun sejatinya bukankah manusia harus saling memaafkan dan berbesar hati untuk memberikan kesempatan bagi seseorang yang ingin berubah?
"Kita berangkat yuk, udah siang nih." ajak Regan sambil menggenggam tangan Ara dan sama sekali tidak ada penolakan dari wanita itu. Sekilas Regan melirik ke arah Bram, dia tersenyum mengejek dan menunjukkan pada pria itu bahwa kepercayaan dirinya salah besar.
Kamu lihat ini Bram? Ara sudah tidak mencintaimu lagi. Seharusnya setelah melihat semua ini kamu tahu diri. batin Regan.
"Iya kak." sahut Ara.
Sungguh, Bram seperti makhluk gaib disana. Ara dan Regan pergi begitu saja tanpa mempedulikan dirinya yang masih ada disana. Terlihat luka di mata Bram saat melihat Ara dan Regan masuk ke dalam mobil berduaan, bahkan saling melempar senyum bahagia. Hati Bram terbakar cemburu melihatnya.
"Apa dulu kamu melihatku seperti ini Ra? Apa kamu berdiri mematung disini dengan hati terluka? Maafkan aku Ra, dulu aku benar-benar bodoh." perlahan butiran bening jatuh membasahi wajah pria itu. Ia teringat perlakuannya dulu kepada Ara.
Dimana ia juga pergi bersama wanita lain, meninggalkan Ara yang menangis sendirian dan memohon pria itu untuk tinggal. Tapi pria itu mengabaikannya.
__ADS_1
Mendadak hati Bram jadi sakit teringat semua itu, padahal dia hanya membayangkan saja. Tapi ia merasakan sakit luar biasa tentang kejadian masa lalu.
"Baiklah Ra, menikah saja dulu dengannya. Lalu nanti kamu akan kembali padaku. Dan dalam beberapa saat, aku tidak akan mengganggumu." ucap Bram lalu menyeka air matanya.
****
Di dalam perjalanan menuju ke kantor Gallan grup, Regan terdiam dengan wajah kesal. Ara bingung karena tadi Regan baik-baik saja. Kenapa sekarang dia terlihat marah?
"Em...kak Regan?"
"Ya."
"Kak Regan--udah sarapan?"
"Belum." jawab Regan dengan mata yang fokus pada jalanan. Biasanya ia akan melirik pada Ara walau hanya sekilas, kali ini Regan berbeda.
Kenapa dia terus memanggilku kakak? Sedangkan pria itu dipanggil mas. Aku tak suka. Regan membatin dan rupanya hal ini yang membuatnya marah.
"Ya Allah! Gimana bisa kakak belum makan? Aku ada roti nih, kakak sarapan dulu ya?" bujuk Ara sambil membuka tas miliknya dan mengambil roti disana.
"Gak usah."
"Aku suapi ya?"
Dengan lembut, Ara mengambil sepotong roti lalu memasukkan roti itu ke dalam mulut Regan.
Kalau sudah begini, mau marah pun susah. Kamu terlalu baik Ra. Batin Regan sambil mengunyah makanan itu.
Ara tersenyum manis, ia senang yang menunjukkan perhatian kepada orang yang dia sayangi.
...*****...
__ADS_1
Hai Readers, tenang aja konflik nya gak berat-berat kok..sebab insya Allah bulan ini tamatπ mohon bersabar untuk dua konflik terakhir.